PART 32-1

1K 65 2
                                        

Part 32-1

Isabella dan Dominic tiba di rumah mewah Dominic. Keduanya keluar dari mobil yang terparkir di halaman. Mobil pengawal parkir di belakang mobil Dominic. Randy dan Aldo keluar dari mobil dan dengan sigap mengeluarkan koper dan seluruh barang belanjaan Isabella dari bagasi mobil mereka.

Meski sudah protes atas banyaknya pakaian, tas, sepatu dan perlengkapan lainnya yang Dominic beli untuknya di mal tadi, tak urung saat melihat tas-tas kertas yang begitu banyak dikeluarkan dari bagasi mobil Aldo dan Randy, Isabella tetap merasa tak nyaman, tak habis pikir mengapa Dominic membelikan begitu banyak barang untuknya.

Dominic menghampiri mobil yang dikendarai Randy. Pria itu mengambil sebuah kotak yang sangat besar dari kabin tengah. Kotak tersebut dibungkus kertas kado dengan gambar bunga mawar merah. Ada pita merah di sudut kanan kotak itu.

Dominic berjalan menghampiri Isabella sembari membawa kotak kado itu. Tiba di dekat si gadis, pria itu mengulurkan kotak tersebut.

Isabella menatap Dominic tak mengerti.

"Untukmu," kata Dominic dengan tatapan tertuju ke mata Isabella.

Mata Isabella melebar. "Untukku?" Saat Isabella berbelanja tadi, Dominic sempat menghilang sejenak dan kembali dengan kotak berbungkus kertas kado itu. Ia pikir Dominic membeli hadiah untuk adik perempuannya atau seseorang, sama sekali tidak menyangka untuknya.

Dominic mengangguk.

"Tapi kenapa?" Isabella menatap Dominic dengan sorot bingung.

"Itu boneka. Supaya kau tak kesepian."

Dominic menjawab dengan datar, nyaris tanpa emosi, tapi perhatian yang terselip dari perbuatannya itu perlahan-lahan menyentuh hati Isabella. Ia pun tersenyum. "Terima kasih, Dom."

Dominic tidak berkata apa-apa lagi, hanya mengangguk. Keduanya pun beranjak masuk ke dalam rumah. Isabella berjalan menuju anak tangga ke lantai atas sembari membawa hadiah dari Dominic.

Dominic mengikutinya. Isabella tak bertanya mengapa pria itu melakukan hal tersebut. Mungkin masih ada yang ingin dibicarakan. Isabella tak mau merusak suasana hangat yang sudah terbangun di antara mereka. Karena, meski hari ini pria itu bersikap manis, bukan berarti Dominic tidak akan bersikap menyebalkan. Bisa saja apabila Isabella bertanya, Dominic akan menjwab seperti biasa, "Ini rumahku. Aku bebas melakukan apa pun yang kumau."

Aldo dan Randy mengikuti mereka ke lantai atas sembari membawa koper dan barang belanjaan Isabella.

"Bawa semua barang Isabella ke kamar itu." Dominic menunjuk sebuah kamar yang ada di sayap kanan rumah.

"Baik, Pak," jawab Randy dan Aldo serentak. Keduanya pun membawa koper dan semua barang belanjaan Isabella ke kamar yang Dominic tunjuk.

Isabella menatap Dominic bingung. "Kenapa barang-barangku diletak di sana?" Kamar Isabella terletak di sayap kiri, tepat di seberang kamar yang Dominic tunjuk.

"Mulai sekarang kamar itu menjadi kamarmu."

Isabella tahu kamar yang satu itu karena ia sering membersihkannya. Kamar tersebut sangat luas dan lebih mewah dibandingkan kamar yang Isabella tempati sekarang. Ada ruangan khusus dengan lemari-lemari pakaian, bahkan rak-rak untuk memajangkan tas dan sepatu.

"Aku sudah nyaman dengan kamar yang sekarang, Dominic."

"Cobalah dulu kamar yang baru. Jika tidak nyaman, kau boleh kembali ke kamar lamamu."

"Baiklah."

Dominic meraih hadiah yang ia beri pada Isabella tadi, lalu berjalan menuju kamar di sayap kanan itu. Isabella pun mengikutinya.

Saat memasuki kamar tersebut, seluruh jendela yang menghadap halaman depan dan samping terbuka lebar. Tidak ada teralis di kamar tersebut. Dominic pasti sudah sangat yakin Isabella tidak akan melarikan diri, sebab itu pria itu mengizinkan Isabella menempati kamar yang jendelanya tak berteralis.

"Apakah Anda ingin kami membantu memindahkan barang-barang dari kamar sebelumnya, Nona?" tanya Randy pada Isabella.

"Ya. Pindahkan semuanya ke sini sekarang." Dominic-lah yang menjawab.

"Baik, Pak," sahut Randy. Lalu bersama Aldo meninggalkan kamar.

Isabella menatap Dominic. "Aku bisa membawanua semuanya sendiri, Dominic. Toh, tidak banyak."

"Biarkan mereka bekerja agar perut mereka tidak cepat membuncit."

Meski Dominic berkata begitu, Isabella menebak alasan Dominic yang sebenarnya tak ingin ia kelelahan.

Isabella mengedip terharu. Entah disebabkan oleh perasaan melankolis sekembali dari rumahnya, atau pun memang kepedulian pria itulah yang menyentuh hatinya.

Sikap Dominic padanya hari ini sangat manis. Apakah Dominic tak lagi ingin menyiksanya? Apa pria itu sudah menemukan pencuri berlian yang sesungguhnya? Jika benar, mengapa tidak melepaskan Isabella? Atau sikap manisnya itu hanya karena suasana hati sedang baik?

Randy dan Aldo kembali, membawa barang-barang Isabella.

"Aku akan menjemputmu pukul enam," kata Dominic.

"Baiklah."

Dominic meletak hadiah untuk Isabella ke atas ranjang, kemudian pria itu berlalu.

***

bersambung ...

versi tamat (PDF) sudah tersedia ya teman2. yang ingin membeli silakan wa aku di 08125517788.


makasih untuk vote dan komennya.

Over PossessiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang