hai guys, happy weekend bersama dominic yah. met baca. moga suka. oh ya jangan lupa follow tiktok aku yah, aku skr aktif banget di tiktok: evathink
makasih
Isabella berdiri di depan kasir yang sedang sibuk men-scan barang-barang belanjaannya. Sesekali ia menoleh ke tempat di mana Arvin berdiri dan menatapnya dari jauh. Sementara itu Dominic yang berdiri di dekatnya tampak kaku. Suasana hati pria itu tiba-tiba berubah, entah karena apa.
"Kenapa kau terus melihatnya?" nada suara Dominic tajam.
Isabella memandang Dominic sejenak, belum sempat ia menjawab, kasir menyebutkan nominal belanjaannya.
Isabella pun membuka tas. Ia punya uang yang diambil dari rekening banknya dengan cara mentransfer ke rekening bank Daysi tempo hari.
"Aku yang bayar," kata Dominic dingin sambil mengulur sebuah kartu ke kasir.
"Ini belanjaanku, Dom. Aku saja yang bayar."
Dominic menatap Isabella dengan sorot tak ingin dibantah. Tak mau berdebat di depan umum, Isabella pun membiarkan Dominic yang membayar.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju di jalan raya. Keheningan membentang sepanjang perjalanan. Isabella memandang keluar jendela. Bayangan Arvin bermain di benaknya.
Tiba-tiba Dominic berdeham dan bertanya, "Siapa dia?"
"Apa?" tanya Isabella bingung.
"Pria tadi, siapa dia?"
"Arvin."
Dominic mendesis pelan. "Aku tahu namanya Arvin, aku mendengar kau menyebutnya begitu. Yang aku tanyakan, dia siapamu?"
"Oh ...."
Beberapa saat berlalu dan Isabella hanya diam. Ia bertanya-tanya untuk apa Dominic bertanya siapa Arvin baginya. Apa pria itu juga ingin menjadikan Arvin sebagai bahan ancaman?
"Hanya oh?" Dominic melirik Isabella sekilas. Raut pria itu menunjukkan ketidaksabaran.
"Teman."
"Hanya teman?"
Isabella membisu. Ia tak ingin menjawab lebih lanjut dan membuatnya menjadi senjata bagi Dominic untuk mengancamnya. Cukup Daysi berada dalam bahaya karena dirinya.
"Aku melihatnya lebih dari teman," imbuh Dominic.
"Kenapa kau sangat ingin tahu? Itu bukan urusanmu."
"Menjadi urusanku karena kau tawananku. Barangkali dia sengkokolanmu dalam mencuri berlianku."
Isabella menatap Dominic dengan marah. Pria itu benar-benar menyebalkan.
Tak mau menggubris Dominic lagi, Isabella memandang ke luar jendela. Ia bisa merasakan kalau Dominic sesekali meliriknya.
Setelah perjalanan yang terasa panjang dan lama, mereka pun tiba di rumah. Begitu mobil parkir di halaman, tanpa menunggu lama, Isabella melangkah keluar. Berduaan di mobil dengan Dominic, dalam suasana yang hening, terasa menyesakkan. Meski tak bersuara, tapi Dominic tampak tak bersahabat.
Dominic keluar dari mobil. Kedua pengawal yang sedari tadi dengan setia mengikuti mereka, langsung membuka bagasi dan mengeluarkan barang belanjaan Isabella.
Isabella menatap Dominic yang berdiri tak jauh darinya. "Terima kasih untuk makan malam dan barang belanjaannya, Dominic. Selamat malam." Isabella berbalik dan siap meninggalkan halaman.
"Kenapa kau mengucapkan selamat malam?"
Isabella kembali berbalik dan menatap Dominic dengan heran. "Bukankah kau akan pergi?"
"Kata siapa?"
"Kau bilang ada janji dengan teman."
Dominic menyeringai. "Aku sudah membatalkan janjinya."
Isabella memandang Dominic dengan semakin bingung. Namun akhirnya ia mengangkat bahu dan berjalan menuju rumah. Dominic mengekor di belakangnya.
***
bersambung ...
hmmm .... dominic mulai sukaaaa isabella? wkwk
anyway guys, cerita ini sudah tersedia versi PDF, yang mau silkan WA aku yah, 08125517788
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomanceCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
