PART 33

890 76 3
                                        

Part 33

Saat sinar keemasan matahari mulai memudar, Isabella sudah siap menunggu kedatangan Dominic. Ia duduk di kursi yang ada di beranda sambil memandang langit menjelang senja yang indah. Angin sepoi-sepoi bertiup menyegarkan.

Tak jauh dari Isabella, dua pengawal Dominic tampak siaga. Isabella sesekali melirik Aldo dan Randy. Ekspresi keduanya dingin dan serius. Tanpa sadar Isabella menyeringai masam. Keduanya seperti robot. Ia bahkan nyaris tak pernah berbicara dengan mereka.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Sebuah mobil sport mewah berwarna merah mengkilap memasuki halaman. Isabella sontak berdiri. Ia sudah tak sabar bertemu dengan ibu dan adik Dominic. Mengobrol dengan keduanya menyenangkan.

Tak berselang lama, Dominic melangkah keluar dari mobil yang terparkir rapi. Aldo dan Randy menyapa sang atasan, tapi sama sekali tidak mendapat respons. Tatapan Dominic terpaku pada Isabella. Anehnya itu membuat jantung Isabella berdebar tak menentu.

Dominic tiba di dekatnya dan Isabella tak sadar ia menahan napas, entah karena apa. Ia menatap Dominic yang memandangnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tak tahu mengapa, Isabella berharap penampilannya malam ini tidak mengecewakan pria itu. Ia mengenakan rok selutut bermodel ra ra skirt berwarna biru gelap, dipadu dengan blus berlengan pendek berwarna putih. Ia membawa tas dan memakai sepatu yang sepadan dengan pakaiannya.

Untuk beberapa saat mata Dominic nyaris tak berkedip memandang Isabella, tapi pria itu tak mengucapkan sepatah kata pun, membuat Isabella bertanya-tanya, apakah ia terlihat cantik? Apakah penampilannya memuaskan pria itu?

Isabella menggigit bibir dan memarahi dirinya di dalam batin. Mengapa ia mengharap pujian dari Dominic? Mengapa pendapat pria itu penting baginya? Apakah hadiah boneka Dominic sudah meluluhkan hatinya? Benar-benar gadis lemah. Ia tawanan pria itu. Ia tak boleh memiliki rasa pada Dominic.

"Kau sudah siap. Ayo, pergi," kata Dominic. Wajah dan suara pria itu datar.

Isabella mengangguk pelan dan ia pun berjalan di sisi Dominic yang kini bergerak menuju mobil.

Dominic membuka pintu mobil untuk Isabella.

"Terima kasih," ujar Isabella lalu masuk ke dalam mobil. Tak berselang lama Dominic menyusul. Pria itu duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin. Kemudian mobil bergerak meninggalkan rumah.

Perjalanan diisi keheningan. Isabella hanya diam memandang jalan raya yang padat.

Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil Dominic tiba di rumah mewahnya. Isabella membuka pintu tanpa menunggu Dominic melakukan itu, lalu melangkah turun.

Dominic pun keluar dari mobil, lalu berdiri di sisi Isabella. "Ayo," kata pria itu.

Isabella menoleh, dan mengangguk. Ia terkejut ketika tiba-tiba tangannya digenggam oleh jari-jemari yang kuat. Ia memandang tangannya, lalu mengangkat wajah dan mendapati Dominic sedang menatapnya.

"Kita harus terlihat mesra," kata pria itu.

Isabella hanya diam. Sejujurnya dadanya berdebar tak menentu. Entah apa yang sudah terjadi padanya.

Dominic menggandeng Isabella menuju rumah.

Isabella mengikuti dengan dada yang setia berdebar tak menentu.

Tiba di depan pintu, keduanya disambut oleh Naura, yang malam ini mengenakan celana jins tiga per empat, dipadu dengan kaus berlengan sesiku.

"Hai, Kak Isabella," sapa Naura hangat.

Isabella tersenyum. "Hai, Naura."

Lalu keduanya berpelukan dan saling mengecup pipi kanan kiri.

"Kakak sangat cantik malam ini." Naura memandang Isabella dari ujung rambut sampai ujung kaki denga sorot kagum.

Over PossessiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang