Part 40
Sejak hari itu, hubungan Dominic dan Isabella berkembang pesat. Dominic adalah orang yang paling gembira akan hal itu. Meski belum yakin telah jatuh cinta pada Isabella, tapi yang Dominic tahu, ia senang bersama gadis itu, dan ingin memilikinya.
Ibu Dominic beberapa kali mengatakan ingin bertemu Isabella. Alih-alih membiarkan ibunya datang ke rumah mewah miliknya yang ditempati Isabella, Dominic justru mengajak gadis itu makan malam di rumah orangtuanya.
Satu pekan sejak hubungan mereka yang bisa dikatakan resmi atau lembaran baru, Isabella dan Dominic makan malam di sebuah restoran. Saat selesai makan dan sedang menikmati hidangan penutup, Isabella berkata, "Aku ingin kembali ke rumahku, Dom."
Dominic menatap Isabella yang menyantap puding sambil memandangnya. Dominic sudah tahu saat ini akan tiba, tapi karena hubungannya dan Isabella sudah harmonis, maka ia akan mengizinkan gadis itu kembali ke rumahnya. "Kau tak betah di rumah sekarang?"
"Aku bosan tidak ada kegiatan."
"Kalau kau mau, aku akan menyuruh orangku memindahkan semua barangmu ke rumah yang sekarang."
Randy dan Aldo tak lagi menjadi pengawal Isabella seperti sebelumnya, karena Dominic harus menunjukkan kalau ia memercayai Isabella. Ia bahkan sudah mengembalikan laptop dan ponsel gadis itu. Yang Isabella tidak tahu adalah, Dominic tetap mempekerjakan anak buah Xavier yang lain, bernama Jacky, untuk mengawasi gadis itu secara diam-diam. Bagaimanapun, Dominic harus was-was kalau-kalau Isabella menghilang dari jangkauannya. Bisa saja sikap manis gadis itu belakangan ini hanya pura-pura belaka.
Isabella menggeleng. "Meski kecil, aku nyaman di rumahku."
"Baiklah," Dominic mengangguk. Karena telah memikirkan kemungkinan ini, ia sudah mengambil ancang-ancang. Seluruh rumah Isabella—kecuali kamar tidur dan toilet, dipasang kamera pengawas secara tersembunyi, bahkan rumah di depan Isabella, yang sebelumnya ditempati sepasang suami istri, akan menjadi markas Jacky untuk mengawasi Isabella. Dominic memberi sejumlah uang agar suami istri itu bersedia pindah. "Kapan rencananya kau ingin kembali ke rumahmu?"
"Lebih cepat lebih baik. Aku ingin besok pagi, boleh?"
Dominic mengangguk. "Aku akan mengantarmu."
Isabella menggeleng. "Tidak usah. Kau sibuk. Aku bisa menggunakan taksi online."
"Kebetulan besok pagi aku senggang." Padahal Dominic ada rapat, tapi ia akan menyuruh sekretarisnya membatalkannya. Jika Xavier tahu, sahabatnya itu pasti akan menertawakannya, mengatakan Dominic telah jatuh cinta pada Isabella, lalu meminta Buggati yang menjadi hadiah taruhan.
"Kau yakin?"
"Tentu."
***
Isabella beraktivitas seperti dulu lagi. Ia kembali ke rumahnya dan mengurus toko buku online-nya.
Meski awalnya bingung apa yang membuat ia menggunakan nama palsu dan menerima Dominic jadi kekasihnya, kini Isabella lebih santai menjalani hari-hari tanpa memikirkan itu semua. Ia percaya, pada waktunya nanti, semua akan terjawab.
Sejak Isabella kembali ke rumahnya, ia dan Dominic hanya bertemu pada malam hari. Jarak rumah Isabella memang jauh dari kediaman, mau pun kantor Dominic.
Isabella baru saja selesai mandi petang itu saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya.
Senyum seketika mekar di wajah Isabella. Jantungnya berdegup kencang.
Dengan tak sabar ia memyongsong Dominic yang kini sudah berdiri di depan pintu pagar yang terkunci.
Isabelle membuka pintu pagar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomansaCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
