Penting:
follow wattpad evathink agar mendapat notifikasi cerita baru dan info lainnya!
Masukkan cerita-cerita evathink ke dalam perpustakaan agar kalian mendapat notifikasi update part baru.
Tanpa follow dan memasukkan cerita ke perpustakaan, kalian tidak akan mendapat notifkasi dariku (ini ketentuan dari fitur Wattpad)
Part 43
Isabella baru saja masuk ke kamar untuk beristirahat ketika mendengar suara bel yang berdering tanpa henti, tanda siapa pun yang menekannya sangatlah tidak sabar.
Dengan tergesa Isabella bangkit, lalu berjalan cepat untuk menemui si tamu yang terus menekan bel.
Saat melihat tamu yang menyebalkan itu adalah Dominic, ia mengerut kening heran. "Dominic, ada apa?" Kekasihnya itu tidak pernah menemuinya pada siang hari sejak ia pindah ke rumahnya ini.
Isabella membuka pintu pagar, Dominic masuk dan langsung berjalan menuju rumah dengan tak sabar.
Kerutan di kening Isabella semakin dalam. Setelah menutup pintu pagar, ia menyusul Dominic. Tiba di ruang tamu, Isabella melihat Dominic menatap ke sekitar, bahkan pria itu berjalan ke dapur, memeriksa kamar Isabella, juga kamar mandi.
"Dominic, ada apa?" tanya Isabella bingung.
Dominic menghela napas panjang lalu duduk di sofa ruang tamu. Rahangnya tampak dikertak. Pria itu jelas sedang marah, pikir Isabella.
"Ada apa?" Isabella mengulang pertanyaannya.
Dominic menggeleng. "Tidak ada apa-apa."
"Kau terlihat sedang mencari-cari sesuatu."
Wajah tegang Dominic mengendur. "Ohh, itu, ponselku. Aku mencari ponselku. Aku pikir ketinggalan di sini."
Isabella bergerak ke kamar, mengambil ponselnya, lalu menghubungi kontak Dominic.
Ponsel dalam saku celana Dominic berdiri.
"Ada di celanamu."
"Ah ..., ya. Sepertinya aku mulai pikun."
Isabella menatap Dominic dengan tak percaya. "Katakan, ada apa sebenarnya?" Isabella berdiri di hadapan Dominic.
Dominic mengulas senyum tipis. Senyum yang cukup langka untuk dilihat di wajah itu.
"Kemarilah." Dominic meraih Isabella, menarik tangan gadis itu, memaksa duduk di pangkuannya.
"Dominic ...." Isabella ingin bangkit, tapi Dominic memeluknya erat, bahkan mencium telinganya. Isabella jadi teringat mimpi mesumnya tadi malam. Wajahnya seketika memanas. "Dominic ..., lepaskan aku."
"Ayo, pergi liburan. Aku ingin kita menghabiskan waktu berduaan," kata Dominic di sela cumbuannya. Kini ciumannya merambat ke rahang.
"Aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku."
"Akhir pekan ini, Sayang. Atur waktumu, oke?"
"Aku—"
"Aku tak ingin ditolak," tukas Dominic cepat. Kemudian pria itu membalikkan tubuh Isabella hingga kini gadis itu duduk menghadapnya dengan kedua kaki di kiri dan kanan tubuhnya.
Dominic mencium Isabella dengan liar, sama sekali tanpa kelembutan.
Awalnya Isabella terkejut. Setelah sesaat, ia pun balas mencium dengan tak kalah panas. Mimpi tadi malam telah menimbun rindu di dadanya.
Keduanya berciuman dengan liar dan buas.
"Kau milikku, Isabella," bisik Dominic di sela ciumannya.
Darah Isabella berdesir mendengar pernyataan posesif itu. Entah terbawa suasana atau efek dahsyat mimpi tadi malam, Isabella pun ingin mengatakan hal yang sama, bahwa Dominic miliknya, tapi ia malu, yang akhirnya hanya mendesahkannya di dalam hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomansaCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
