Teman2, terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa follow akun IG/TIKTOK/KARYA KARSA aku ya: evathink
Part 42
Sepanjang pagi hingga siang, Isabella bekerja dengan Dominic memenuhi pikirannya. Bahkan cumbuan panas dalam mimpinya tak kunjung meninggalkan benaknya.
Setiap teringat mimpi mesum tersebut, Isabella merasakan seluruh tubuhnya memanas terbakar gairah dan ia merasa rindu ingin bertemu Dominic. Sayangnya sejak ia pindah ke rumahnya sekarang, intensitas pertemuan mereka tak lagi seperti dulu. Dominic hanya mendatanginya ketika malam. Mereka tak pernah lagi sarapan dan makan siang bersama.
Jarak tempuh yang jauhlah menjadi penyebab. Dominic harus menghabiskan waktu yang lama di jalan untuk menemuinya, sedangkan pria itu sangat sibuk dengan pekerjaan.
Namun Isabella tak menuntut. Ia sepenuhnya mengerti.
Setelah paket orderan novel yang ia kemas diambil oleh kurir, Isabella pun makan siang. Ia tidak sempat memasak, hanya memesan makanan melalui aplikasi delivery.
Isabella baru saja selesai mencuci piring makanannya ketika mendengar suara bel. Ia segera mengelap tangan. Keningnya berkerut. Kurir sudah datang mengambil paket, Dominic tidak mungkin mendatanginya siang begini. Siapa yang datang? Apakah kurir yang mengantar paket orderan penerbit dari Jakarta? Paketnya itu baru diorder dua hari yang lalu, tidak mungkin tiba secepat ini.
Isabella begegas keluar. Saat akan tiba di pintu pagar, jantungnya seketika berdegup kencang melihat siapa yang berdiri di luar.
"Arvin?" Isabella membuka pintu pagar. Dari mana Arvin tahu tempat tinggalnya? Isabella pindah ke rumah yang sekarang setelah hubungannya dan Arvin berakhir, dan ia tak pernah memberitahu pria itu alamatnya.
"Bella," panggil Arvin dengan penuh kerinduan.
Pintu pagar terbuka. Arvin melangkah masuk, lalu memeluk Isabella.
Isabella terkejut, untuk sesaat hanya terdiam. Lalu setelah tersadar, ia berusaha melepaskan diri, tapi pelukan sang mantan kekasih begitu erat.
"Arvin, jangan begini," pinta Isabella sembari mencoba mendorong Arvin menjauh darinya.
Pria dengan tinggi tubuh 177 senti itu dengan berat mengurai pelukan. "Aku merindukanmu, Bella. Sangat merindukanmu," kata Arvin.
Waktu tak sengaja bertemu di supermarket, reaksi Arvin tidak seperti ini. Apakah karena saat itu mereka berada di tempat umum?
"Dari mana kau tahu alamatku?"
"Aku seperti orang gila mencarimu. Bisakah kita bicara di dalam?"
Isabella yang tak mau menarik perhatian tetangga, mengangguk. Ia mengunci pintu pagar lalu mengajak Arvin masuk ke rumah.
Arvin duduk di sofa ruang tamu dan Isabella pergi ke dapur membuat minuman. Tak lama kemudian ia kembali dengan segelas tah manis panas.
"Silakan diminum, Ar," kata Isabella.
Arvin mengangguk. "Terima kasih, Bella."
Isabella diam. Arvin meraih minumannya, meniup sejenak, menyesap pelan, lalu meletak kembali ke meja.
"Aku sudah tahu semuanya," ujar Arvin sembari menatap Isabella dalam-dalam.
"Apa?" Isabella menatap pria tampan nan gagah itu dengan sorot bingung.
"Alasan kau mengakhiri hubungan kita dulu."
Isabella memejam sejenak. "Dari siapa?"
"Mama keceplosan. Lalu aku mendesaknya menceritakan semuanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomanceCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
