"Lo di mana?"
*
"Sori, nggak boleh."
Mendengar penuturan Tenggara yang begitu yakin dengan wajah datar tanpa ekspresi, membuat gadis yang baru saja mengungkapkan perasaan padanya tersakiti. Sebelum air matanya tumpah, gadis itu pun buru-buru pergi dari hadapan Tenggara, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Karena memang tidak sanggup.
Sepeninggal gadis itu, Tenggara mendengar suara kekehan. Semula Tenggara pikir itu adalah kekehan milik Teagan. Rupanya itu adalah Reo yang merekam semua kejadian penembakan yang dilakukan seorang gadis kepada Tenggara di lorong koridor dengan mata kepala serta otaknya sendiri.
Dengan sisa kekehannya, Reo berjalan menghampiri Tenggara. "Gue rasa tuh cewek butuh ke psikiater. Gue takut dia kena mental."
Tenggara hanya mendengus. Malas menanggapi Reo. Malas juga ia berlama-lama di sini. Jadi tadi begitu bel istirahat berbunyi, ia keluar untuk pergi ke toilet. Niatnya setelah dari toilet, ia mau kembali ke kelas untuk tidur seperti biasa. Tetapi di koridor malah dihadang seorang cewek yang tak ia kenal, lalu ditembak.
"Mau kemana?" tanya Reo ketika Tenggara melenggang pergi tanpa bicara apa-apa.
"Tidur." Tenggara menjawab sambil berjalan.
"Daripada ngimpi di siang bolong, mending isi perut."
Atas paksaan Reo, akhirnya untuk pertama kali Tenggara menjenjakkan kaki di kantin SMA Patriot. Kemunculan Tenggara bersama Reo, membuat perhatian anak-anak yang sudah lebih dulu sampai di kantin tertuju pada mereka berdua. Dengan adanya Reo saja itu sudah cukup membuat pemandangan yang indah, apalagi ditambah dengan Tenggara yang tidak kalah tampan dan memikat.
Tanpa memedulikan banyaknya pasang mata yang menatap, Reo membawa Tenggara menuju tempat teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai. Kehadiran Reo bersama dengan Tenggara membuat kegiatan makan teman-teman Reo terhenti.
"Ngapain lo pungut anak kucing?" sambutan tidak menyenangkan segera terucap dari bibir seorang cowok berambut gondrong bernama Rentang.
"Re, ini murid baru kelas sebelah itu bukan?" menyambung sambutan Rentang, Morveo ikut berbicara.
Reo menepuk bahu Tenggara yang lagi-lagi memasang wajah datar. Seperti tidak peduli dengan sambutan Rentang maupun Morveo. "Perlu gue kenalin satu-satu nggak? Enggak, kan? Oke." Reo kembali menepuk bahu Tenggara. Kali ini dengan lebih keras, dengan tujuan agar Tenggara mau dan bisa duduk di bangku yang masih tersedia.
"Gue Morveo. Cewek-cewek bilang sih, gue mirip Shawn Mendes. Menurut lo, mereka bener nggak?" begitu duduk, Tenggara langsung disodori perkenalan ala Morveo.
"Mereka nggak salah. Lo emang mirip. Tapi sama dakinya Shawn Mendes." Ujar Reo membuat wajah sumringah Morveo surut.
Sebenarnya Morveo ingin membalas celaan Reo. Tapi bagaimana ya? Mau dicela seperti apa, semua orang tau kalau fisik Reo memang tidak pantas untuk dicela. Satu-satunya yang bisa dicela dari Reo hanya mulutnya saja yang kadang suka melontarkan celaan menyakitkan hati.
Reo pun segera memanggil salah satu abang penjual di kantin yang sudah ia kenal dengan baik. Meski dalam kondisi seramai apa pun, penjual kantin yang akrab disapa Bang Hojo pasti akan memprioritaskan Reo. "Siap, Mas Reo. Mau pesen apa siang hari ini?"
"Es buah aja." Jawab Reo singkat. Lalu ia menoleh pada Tenggara sembari menaikkan satu alis. Isyarat untuk menyuruh Tenggara memesan makanan.
Tenggara yang memang tidak lapar, hanya memesan, "Jus mangga."

KAMU SEDANG MEMBACA
she
Novela Juvenil(COMPLETE) Alih-alih "move on", Tenggara malah bertemu dengan seorang gadis yang sama persis dengan dia. Begitu mirip, sampai Tenggara nyaris tidak bisa membedakan dia dengan dia yang pernah hidup di masa lalunya.