Bagian 51

38 2 2
                                    

"Ayo."

*

Keyra semakin heran melihat Sybil yang baru kembali ke kelas setelah keluar dengan Tenggara. Pasalnya, wajah Sybil merah padam. Bahkan ia kelepasan membentak salah seorang teman sekelas yang berpapasan dan nyaris bertabrakan dengannya. "Bil, lo habis diapain sama Gara?"

Pertanyaan Keyra tak terjawab. Hingga sekolah usai di hari itu. Sybil langsung cabut begitu bel pulang berbunyi. Lagi, di koridor ia nyaris bertabrakan dengan Reo yang hendak menuju ke kelasnya untuk mengantar Keyra les pillates.

"Sori." Gadis itu hanya mengucapkan satu kata, lalu pergi begitu saja dengan langkah yang cepat.

"Sybil lagi kenapa?" pertanyaan itu Reo tanyakan pada Keyra saat keduanya sudah berada di dalam mobil.

Keyra langsung menoleh padanya.

Tatapan yang membuat Reo merasa tidak nyaman. "Nggak gimana-gimana, cuma tadi gue sempet papasan sama dia di koridor. Dan gue liat... ada yang aneh sama dia."

Keyra membatin. Meski Reo sudah bersamanya saat ini, tapi memorinya akan Sybil masih bagus ya. Bahkan Keyra bisa berkesimpulan kalau Reo masih bersimpati pada temannya yang sudah ia relakan. "Gue juga nggak tau. Tadi pagi pas dia dateng, dia udah beda. Terus Gara dateng, mereka ngobrol tanpa gue. Pas balik, Sybil udah gitu."

"Oh, jadi gara-gara Gara." Reo mengambil kesimpulan.

Keyra diam beberapa saat sambil memperhatikan cowok yang sedang menyetir itu dari samping. "Lo... mau apa?" ia sungguh penasaran dengan apa yang akan Reo lakukan setelah mengetahui hal ini. Apakah Reo akan meninggalkannya dan kembali mengejar Sybil karena punya kesempatan?

"Nggak gimana-gimana. Kalo itu gara-gara Gara, artinya Gara yang harus tanggung jawab."

Mendengar jawaban Reo, membuat hati Keyra lega.

*

Di pihak Tenggara, ada Teagan yang juga keheranan melihat tingkah Tenggara yang tidak biasa. Cowok yang biasanya tenang, sekarang terlihat jauuuuuh lebih tenang. Sama sekali sejak kemarin, Teagan tidak pernah mendengar Tenggara bersuara meski hanya suara yang lirih.

"Lo yang setenang ini bahkan lebih mengerikan dari Trevor kalo lagi ngamuk." Begitu komentar Teagan.

Tapi yeah, Tenggara tetap diam dan tenang. Setidaknya itu yang Teagan lihat. Padahal isi kepala Tenggara sudah sangat berisik. Memutar memori kemarin, di mana ia telah membuat kesalahan fatal pada Sybil. Sekarang Tenggara tidak yakin, Sybil masih tetap akan datang dua hari, di hari yang sudah ia janjikan.

Bosan dan jengkel karena terus-terusan dicueki oleh Tenggara, Teagan memutuskan untuk keluar kelas. Saat ia menuruni tangga, rasa bosan dan jengkelnya mendadak hilang saat ia bertemu dengan Sybil. Langsung ia potong langkah gadis yang menaiki tangga itu. "Bil, main yuk? Gue bete soalnya Gara jadi 100X lebih diem. Gue yakin, bentar lagi dia pasti berhasil jadi arca, terus terpampang di candi Prambanan."

"Gue nggak ada waktu. Minggir, Gan." Sybil berusaha menyingkirkan tubuh Teagan yang menghalangi langkahnya.

Tapi Teagan tidak mengindahkannya. Tetap menghalangi langkah Sybil. "Yah, ternyata lo sama aja. Ngomong sama gue, sebenernya kalian berdua lagi kenapa?"

"Nggak ada apa-apa." Sybil membuang muka. Menolak bertemu mata dengan Teagan.

Pastinya Teagan langsung tau. Ia pun menyeringai. "Kalian berdua beneran tolol ya?"

"Hah?!" Sybil mendelik tidak terima.

"Lo pasti udah tau kalo Gara suka sama lo kan? Ya, tuh anak emang kayaknya udah se-hopeless itu sama lo. Sampai kayak orang frustasi. Lo juga sebenernya punya perasaan yang sama kayak Gara kan? Cuma lo takut ngakuin itu karena lo nggak mau kecewa. Padahal kenyataannya, lo sendiri yang udah bikin lo kecewa. Gara itu suka sama lo, Bil. Sy-Bil. Gue ulang nih, Sybil. Bukan Rowena. Rowena cuma masa lalu Gara."

sheTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang