"Hati-hati aja lo."
*
"Kalo semisal gue punya wajah yang nggak kayak Rowena, apa lo masih bakal bersikap kayak gini?"
"Tapi dia hidup sebagai Sybil, bukan sebagai Rowena."
"Kalo lo nggak suka sama Sybil, ngapain lo deketin dia?"
Tiga kalimat yang masing-masing diucapkan oleh Sybil, Reo dan Teagan terus menggema di kepala Tenggara. Membuatnya tidak bisa fokus untuk melakukan apa pun termasuk belajar dan makan. Perkataan-perkataan itu tak kunjung terjawab. Sebab Tenggara sendiri tidak tau jawabannya.
"Aaargh!" dengan gusar, Tenggara mengacak rambutnya sendiri hingga berantakan. Ia juga melempar pulpen yang ada di genggamannya begitu saja hingga jatuh ke lantai kamar. Setelahnya, Tenggara segera beranjak dari meja belajarnya. Dari kamarnya.
"Mau ke mana, Tenggara?" tanya Papa sambil melirik dari koran bacaannya saat melihat putra satu-satunya bergegas keluar dari rumah.
"Cari angin." Jawab Tenggara sambil berlalu.
"Loh, loh, Pa, itu Tenggara mau ke mana malam-malam begini?" Mama yang baru muncul dari dapur sambil membawa secangkir kopi untuk sang suami, dibuat heran melihat Tenggara keluar dari rumah dengan terburu-buru.
"Cari angin katanya." Jawab Papa santai.
"Cari angin gimana? Jangan-jangan Tenggara mau keluyuran!" Mama tampak khawatir.
"Anak muda. Nggak papa." Berbeda dari Mama, Papa justru tampak begitu santai sambil terus membaca koran.
"Nggak papa gimana, Pa? Pergaulan remaja jaman sekarang itu mengerikan, Pa. Mama nggak mau kalo sampe anak kesayangan Mama salah bergaul." Tidak tau saja sang Mama kalo putra kesayangannya memang sudah sempat salah bergaul.
"Tenggara udah besar. Dia udah bisa jaga diri. Dia udah tau mana yang benar, mana yang nggak benar."
"Tenggara itu masih kecil. Baru kemaren dia masuk TK, baru kemaren dia rewel kalo lagi demam, baru kemaren mainan pistol-pistolan, baru kemaren—"
"Udah, udah. Nanti sampe lebaran nggak bakal kelar kalo Mama bahas soal masa kecil Tenggara."
"Papa! Tenggara emang masih kecil!" rengek Mama sebal dengan sang suami yang terkesan enggan mendengarkan celotehnya.
*
Mobil Tenggara berhenti di depan sebuah café di tengah kota Jakarta. Café itu bernama Quoss. Café itu sebenarnya bukan café baru. Tapi belakangan café itu jadi lebih ramai dari sebelum-sebelumnya dikarenakan adanya seseorang yang menjadi daya tarik café itu tersendiri.
Memasuki café itu, langkah Tenggara langsung tertuju ke salah satu ruang yang paling ramai diisi oleh remaja belia. Ruang itu merupakan area billiard. Kalau Tenggara perhatikan, sepertinya sedang ada pertandingan. Tetapi untuk pertandingan resmi atau tidaknya, sepertinya sih bukan.
Tenggara memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang dekat dengan area permainan itu setelah memesan segelas kopi, sambil menonton meski harus terhalang beberapa remaja lain.
Tak lama, pertandingan billiard itu pun berakhir. Tepuk tangan riuh yang disertai sorakan untuk satu nama yaitu Miro, segera memenuhi tempat itu.
"Yang sabar ya, Bono. Hidup itu kadang nggak adil, kadang nggak adil banget." Ledek seorang cewek nyentrik dengan rambut ash grey-nya dan sebuah choker hitam melingkari lehernya pada Bono, yang kalah dalam pertandingan malam ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
she
Teen Fiction(COMPLETE) Alih-alih "move on", Tenggara malah bertemu dengan seorang gadis yang sama persis dengan dia. Begitu mirip, sampai Tenggara nyaris tidak bisa membedakan dia dengan dia yang pernah hidup di masa lalunya.