"Sebentar aja, gue pengen lo jadi Rowena."
*
Nama Tenggara dan Reo segera menjadi buah bibir SMA Patriot gara-gara namanya masuk dalam daftar orang yang terciduk oleh razia polisi di club malam. Status mereka yang masih pelajar dan dianggap anak di bawah umur inilah yang membuat pihak polisi menyampaikan keterlibatan mereka di tempat yang tidak seharusnya mereka datangi sehingga mau tidak mau, pihak sekolah harus memberi peringatan pada keduanya agar jera.
Sebetulnya kasus seperti ini bukan yang pertama terjadi di SMA Patriot. Yang namanya oknum pasti ada. Hanya saja, memang saat itu Tenggara dan Reo sedang tidak beruntung sehingga harus bertemu dengan polisi dalam keadaan mabuk.
Akibat perbuatan mereka, Tenggara dan Reo dijatuhi hukuman dengan berdiri di lapangan sampai istirahat pertama selesai. Sangat disayangkan, di hari pertama Tenggara kembali ke sekolah setelah beberapa hari absen, malah langsung mendapat hukuman seperti ini.
"Kayaknya bentar lagi gue pingsan. Kepala gue masih berat banget, anjing." Reo berbicara sendiri sambil mendecih. Sama seperti yang ia katakan, ia merasa kepalanya begitu berat, efek alkohol yang belum sepenuhnya hilang.
"Gue juga." sahut Tenggara yang ternyata merasakan hal yang sama.
Reo pun terkekeh kecil. Ia pikir cuma dirinya. Lebih lucunya lagi, bisa-bisanya ia berakhir seperti ini bersama Tenggara. Sangat tidak pernah ia duga.
"Jadi, ngapain lo semalem ke sana?" Reo kembali membuka obrolan di tengah ia menjalani hukumannya.
"Gue rasa alasan kita sama."
Reo menoleh menatap Tenggara yang menatap lurus ke depan. "Gue karena Sybil."
Meski Reo sudah mengungkap alasannya, tampaknya Tenggara tidak berniat melakukan hal yang sama. Cowok itu tetap diam dengan matanya yang masih terus tertuju ke arah depan.
"Lo juga karena Sybil?" pancing Reo hati-hati. Ia sangat berharap Tenggara akan mengatakan tidak.
Tenggara mulai bergerak. Lebih tepatnya, kepalanya mulai bergerak untuk menoleh ke arah Reo. "Apa menurut lo, Sybil bisa gantiin Rowena?"
Pertanyaan yang sama yang pernah Tenggara tujukan untuk Reo. Akan tetapi, kali ini Reo merasa cara Tenggara bertanya, baik dari nada bicara atau sorot mata, sedikit berbeda dari yang sebelumnya.
*
Kemunculan kembali Tenggara ke kelas, disambut dengan baik oleh Gerakan Pemuda 12-4. Saul CS sampai mengerumuni Tenggara bak kacang goreng meski ujung-ujungnya Tenggara usir. Karena selain itu mengganggu, saat ini Tenggara masih ingin sendiri, untuk berdamai dengan kenyataan pahit yang sukses merobek hatinya. Kehilangan Rowena untuk selamanya membuat luka di hatinya menganga lebar. Tenggara tidak yakin, akankah ada orang yang mampu menutup lukanya itu. Kalau pun ada, mungkin hal itu akan membutuhkan waktu yang lama dan panjang.
"Hi, buddy!" Teagan yang entah karena apa baru tiba di kelas hari ini, segera membulatkan mata begitu melihat Tenggara sudah duduk di tempat duduknya. Langsung Teagan hampiri Tenggara diiringi senyumannya yang lebar.
Tenggara hanya menoleh sekilas tanpa ada niat membalas sapaan atau senyumannya.
"Kemana aja lo? Lo tau, gue tadinya niat nggak masuk sekolah gara-gara nggak ada Gara di kelas. Untungnya gue batalin niat gue ya." Teagan bercerita panjang lebar.
"Bisa diem nggak?" Tenggara yang mulai terusik, meminta Teagan untuk diam.
"Nggak."
Tenggara menatap kedua mata Teagan dengan sorot tajam.

KAMU SEDANG MEMBACA
she
Teen Fiction(COMPLETE) Alih-alih "move on", Tenggara malah bertemu dengan seorang gadis yang sama persis dengan dia. Begitu mirip, sampai Tenggara nyaris tidak bisa membedakan dia dengan dia yang pernah hidup di masa lalunya.