"Mbok, tolong bilangin ke Pak dokter, kalo Sisil tidur di kamar tamu. Jangan samperin, Sisil." Mbok Asti memperagakan perkataan Sisil yang ketus di depan majikannya, Aster. "Begitu kata Non Sisil, Den."
"Terus Sisil sudah makan, Mbok?" tanya Aster sambari melihat makanan yang tersaji di meja makan, tapi masih utuh, seperti belum tersentuh oleh siapapun.
"Belum." Jawaban Mbok Asti membenarkan dugaannya.
Aster menghembuskan napas keras lewat mulutnya. Lalu, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan raut wajah yang penuh beban pikiran. Percuma saja ia makan makanan itu jika Sisil tidak ikut makan, nafsu makannya langsung hilang.
"Saya disuruh siapin es batu untuk Den Aster, obatin lukanya." Mbok Asti menggeser satu wadah es batu pada Aster.
"Iya, Mbok. Makasih, tapi saya harus bujuk istri saya dulu. Saya khawatir kalo dia belum makan."
"Tadi juga Non Sisil bilang gini 'Kalo mau bujuk Sisil, makan dulu.'" ucap Mbok Asti lagi, menyampaikan amanat nyonya mudanya.
Aster terkekeh pelan. Sedang marah pun, Sisil bisa semanis ini. Setelah mengkhawatirkan lukanya, Sisil juga mengkhawatirkan perutnya. "Yaudah kalo begitu, saya makan dulu."
Meskipun selera makannya sudah hilang, Aster tetap memaksakan diri untuk menyantap makanan di depannya. Jika tidak dimakan, akan semakin sulit ia membujuk istrinya yang sedang ngambek itu.
Sementara di kamar tamu, Sisil tak berhenti uring-uringan sendiri. Pintu kamarnya ia kunci agar bisa bebas merutuki suaminya yang begitu jahat itu.
"Ishh! Ayah kamu ngeselin, pulang-pulang ke rumah cuma minta maaf tanpa penjelasan apapun, tanpa bilang apa alasannya, dan juga apa kasibukannya!" gerutu Sisil, meluapkan isi hatinya pada janin yang ada di perutnya.
"Kamu gak boleh ada di pihak Ayah ya! Bunda udah sakit hati sama kelakuan Ayah kamu, bunda gak mau maafin ayah kamu!" Sisil terdiam menyadari perkataannya, terlalu jahat jika Sisil tidak memberi maaf. "Bukan, maksudnya, Bunda belum mau maafin ayah. Biarin aja, biar dia tahu rasa tidur sendirian di kamarnya!"
"Setelah gak ketemu tiga hari, gak ada pelukan, gak nanyain kabar pula. Pak Suami memang selalu seperti itu ya? Gak peduli sama istri dan anaknya sendiri! Oke kalo begitu, Sisil juga gak mau peduli, Pak Suami luka juga Sisil gak peduli!" Sisil masih berlanjut dengan omelan-omelannya sendiri.
Namun, setelahnya ia selalu berpikir lagi, perkataannya itu tak selaras dengan isi hatinya. Hatinya terus-terusan khawatir dan penasaran, apa penyebab muka Aster bonyok seperti itu?
"Ch! Bahkan Pak Suami gak bilang lukanya karena apa!" Wajah Sisil tak ubahnya terus ditekuk. Kedongkolan menguasai jiwanya.
Berbeda dengan ketika Sisil di Panti Asuhan kemarin, ia bisa tidur sendiri tanpa Aster. Namun, di sini Sisil kesulitan memejamkan matanya barang satu menit pun. Guling ke kiri, guling ke kanan, bahkan telentang, sudah Sisil coba mengubah posisi, tapi tetap tak ada yang membuatnya nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wife For Aster
General Fiction𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐟𝐨𝐥𝐥𝐨𝐰 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚 genre : romantis, melodrama *** Di usianya yang nyaris kepala tiga, Aster tak kunjung memiliki tambatan hati. Masalah asmara di masalalu yang cukup sulit membuat Aster enggan membangun...