PART 12

26 21 0
                                    

"Huaa... Kamu pasti cari kesempatan ya!" teriak Alexa setelah menyadari dirinya menindih Edgar.

"Aku nggak ngapa-ngapain. Kan kamu yang tadi mukul-mukul aku, dorong aku sampai jatuh," jawab Edgar membela diri.

Alexa tak bisa berkata lagi. Ia merebut cup minumannya yang masih berada di tangan Edgar. Cup kosong itu dibalik dan meneteskan satu tetes coklat dingin terakhir ke lantai.

"Yahh..habis," ucap Alexa lemas. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan wajahnya yang sudah kusut.

"Jangan sedih gitu, dong," ucap Edgar memegang erat kedua pipi Alexa. Membuat bibir tipis gadis itu maju seperti paruh burung yang terbuka.

"Aku mau lagi," ucap Alexa memelas.

"Kita keluar, yuk? Aku traktir kamu sepuasnya. Mau gak?"

"Mau."

"Tante mana? Aku mau izin dulu bawa anak gadisnya pergi."

"Kayaknya di kamar. Aku panggilin ya? Sekalian aku mau ganti baju."

"Iya, Dandan yang cantik jangan pakai lama."

Edgar membuka ponselnya sambil menunggu ibu Alexa datang. Ia membaca berita online mengenai mantan kekasih Leon yang menikah dengan pengusaha kaya. Berita itu menjelaskan jika hubungan rumah tangga dan suaminya tengah gonjang-ganjing di tempat isu perselingkuhan sang pengusaha.

Edgar memasukkan kembali ponselnya ketika Diandra turun dari tangga dan menghampirinya. Dengan sopan bad boy ini bersalaman dan meminta izin untuk membawa Alexa mencari angin.

"Boleh gak, Tante?"

"Boleh, jangan pulang ke kemaleman ya."

"Gak, Tante. Sore juga udah pulang."

Alexa menghampiri Edgar dengan rambut terurai. Poni yang selalu menutupi dahinya yang lebar serta luka yang masih diperban. Balutan dress batas lutut dengan warna putih bercorak ungu menambah kesan imut pada gadis berusia dua puluh tiga tahun.

"Mah, Alexa pergi dulu ya," pamit Alexa kepada sang Mamah.

"Iya, hati-hati."

Edgar membuka pintu mobil untuk pujaan hatinya. Alexa yang diperlakukan layaknya seorang putri untuk pertama kalinya oleh seorang pria merasa begitu tersanjung.

"Kita mau ke mana, Gar? tanya Alexa sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

"Terserah kamu, hari ini kencan pertama kita."

"Kencan?"

"Iya. Jangan sok amnesia gitu. Selama tiga bulan kamu jadi milikku, Alexa."

"Ehm... Iya. Enggak usah dibahas. Aku gak lupa, kok."

Edgar tersenyum menunjukkan gigi gingsulnya. Ia mengusap lembut kepala Alexa dengan satu tangan mengemudi.

"Manis banget kalau lagi senyum. Edgar orang yang baik. Tapi maaf, aku belum bisa mencintai orang dalam waktu yang begitu cepat," batin Alexa sambil melihat Edgar yang fokus menyetir.

***

Leon memimpin rapat mendadak dengan para staf keuangan. Ia meminta Varrel membicarakan rincian pengeluaran bulanan. CEO muda ini mendengar apa yang dikatakan sekretarisnya. Namun, pikirannya melayang memikirkan teman kecilnya yang enggan bertemu lagi.

"Pak, bagaimana?" tanya Varrel yang tak dihiraukan.

Tatapan mata Leon kosong. Membuat para anggota rapat saling menoleh akan tetapi tidak berani berkomentar. Varrrel  mencolek punggung Leon, membuatnya langsung tersadar dari lamunannya.

ALEO [End]Donde viven las historias. Descúbrelo ahora