PART 10

82 56 133
                                    


"Edgar," panggil Alexa.

"Iya?"

"Aku..."

Edgar menghentikan napasnya sejenak dan membuka telinga lebar-lebar ketika Alexa akan menjawab pertanyaannya. Dengan jantung yang berdegup tak beraturan, Edgar terus memandang wajah Alexa yang cantik di matanya.

"Aku...bakal coba, Gar. Tapi bagaimana kalau aku cuman buat kamu terluka?" ucap Alexa.

"Jangan pedulikan sakit hatiku. Aku sudah bahagia mendengar kamu menyetujui permintaanku. Terima kasih. Mulai besok, aku bakal antar jemput kamu kerja. Jangan nolak, ini salah satu cara biar aku lebih dekat sama kamu."

"Iya, maaf jadi ngerepotin."

"Nggak apa-apa sayang."

"Jangan panggil sayang, dong!" protes Alexa.

"Kenapa?" tanya Edgar.

"Aneh aja."

"Kita udah jadian, Alexa."

"Baru juga lima menit. Pokoknya aku nggak mau dipanggil sayang, titik!" ucap Alexa dengan mutlak.

"Oke, titik."

"Kok titik sih?" ucap Alexa dengan nada jengkelnya.

"Kamu sendiri yang bilang nggak mau dipanggil sayang, maunya titik?"

"Gar, gak usah ngelawak, garing tau gak!" ucap Alexa memanyunkan bibirnya.

"Iya. Gak usah monyong-monyong gitu juga kali. Ayo, aku antar pulang."

Alexa tersenyum dan Edgar mengantarkan Alexa pulang sekaligus memperkenalkan dirinya secara resmi kepada kedua orang tua Alexa tanpa gadis cantik itu tahu niat bad boy ini.

Security keluarga Jhonson mencegah mobil mewah berwarna kuning dan hendak menanyakan keperluan berdatang ke rumah bosnya. Saat jendela kaca dibuka, Alexa melambaikan tangan ke arah pria kekar berseragam putih.

"Mbak Alexa? Silahkan masuk," ucap security itu. Ia kemudian membuka lebar gerbang tralis besi hitam agar mobil bisa masuk.

Edgar keluar dan berputar hendak membukakan pintu untuk kekasih barunya. Namun, keromantisannya gagal ketika Alexa dengan santainya membuka pintu itu sendiri dan keluar dengan tangan meremas perut.

"Ya ampun, ulangi! Masuk lagi," ucap Edgar mendorong tubuh Alexa pelan agar gadis itu duduk kembali.

"Apaan sih, Gar? Perut aku sakit, nih. Kayaknya bekas ditendang orang itu tadi."

"Oh, maaf. Tadinya mau aku suruh masuk lagi, biar aku yang bukain pintu, Xa. Kayak nggak pernah pacaran aja," ucap Edgar sambil menuntun Alexa.

"Emang! Aku nggak pernah pacaran."

"What? Jadi aku pacar pertama kamu?."

Dengan tersipu malu, Alexa menundukan wajah dan mengangguk. Gadis cantik bermata sipit itu berjalan menahan sakit di perutnya. Dibantu Edgar yang terus memegangi lengannya.

Diandra yang tengah santai di ruang tamu melihat putrinya pulang dalam keadaan menyedihkan. Ia panik dan menghampiri Alexa sambil menitikan air mata.

"Alexa, kamu kenapa? Jatuh dari sepeda?" tanya Diandra dengan nada khawatir.

"Dipukul orang, Mah," jawab Alexa sambil menangis.

Edgar dan Diandra menuntun Alexa ke ruang tamu. Gadis itu menyandarkan bahunya kesadaran sofa sambil meremas perutnya. Bulir bening pun tak henti-hentinya mengalir dari kedua netral kecilnya.

Alexa menceritakan bagaimana kejadian bermula. Edgar pun membantu menjelaskan kepada Diandra. Ibu satu ini justru bangga atas aksi putri tunggalnya membela orang yang membutuhkan. Diandra meminta agar Alexa memeriksa diri ke rumah sakit. Namun, gadis berusia dua puluh tiga tahun dengan kelakuan bak remaja ini menolak dan meminta untuk beristirahat di kamar saja.

ALEO [End]Donde viven las historias. Descúbrelo ahora