PART 8

69 49 139
                                    

Hari sudah malam. Jhonshon meminta Edgar untuk pulang dan meminta Alexa segera beristirahat.

Alexa mengambil ponsel yang ada di ruang tamu. Dengan gontai ia berjalan sambil menggeliat dan mengunci pintu kamarnya. Gadis ini membaringkan tubuhnya yang lelah sambil membuka satu pesan masuk dari nomor baru.

+62 897********

"Alexa?"

"Siapa?"

Pesan itu tak kunjung di baca dan mata sipit anak tunggal dari Jhonshon dan Diandra ini sudah tidak bisa menahan kantuk lagi. la tertidur dengan ponsel yang masih ada di genggamannya.

Benda pipih canggih berwarna merah itu berdenting. Alexa tak mendengar balasan pesan dari nomor asing itu karena sedang berada pada zona ternyaman di tidurnya.

***

Edgar yang begitu dekat dengan Leon tidak pulang ke rumah. la sengaja pulang ke rumah CEO Grady Group dan berniat menginap bersama sang CEO.

Ckleeekk...

Edgar membuka pintu yang tidak dikunci. "Leo, aku nginep," ucap Edgar sembari menutup pintu kembali.

la langsung merebahkan tubuhnya di samping Leon yang sedang memandangi layar ponselnya. Sekilas terlihat nama Alexa di layar itu.

"Alexa? Siapa gadis itu?" tanya Edgar.

"Dia temen kecilku waktu di desa."

"Oh, kirain Alexa si office girl pujaan hatiku," ucap Edgar pura-pura tidak tahu apa-apa.

"Bukan seleraku," jawab Leon tanpa ekspresi.

"Bagaimana jika Alexa milikku dan Alexa milikmu orang yang sama?"

"Gak usah mengkhayal! Mereka jelas dua sosok yang berbeda."

Leon melatakan ponsel seluler nya di atas kasur. la menyembunyikan tubuhnya di balik selimut dan tidur.

Edgar menunggu waktu yang tepat untuk mencuri nomor telepon Alexa dari ponsel saudaranya. Setelah dipastikan jika Leon benar-benar sudah tidur, badboy ini segera mencari kontak dengan nama Alexa dan mencatat nomor telepon itu pada ponselnya sendiri.

Pria yang berusia setahun lebih muda dari Leon ini langsung mengirimkan pesan kepada pujaan hatinya.

Alexa💝

"Alexa, jangan lupakan janjimu bahwa kau akan menuruti semua permintaanku. Aku tunggu besok di kantor. Selamat malam, jangan lupa mimpikan aku. Yang mencintaimu, Edgar Rovalno."

Hati Edgar terus berbunga bunga. Ia sudah tak sabar untuk bertemu Alexa besok. Alexa bukanlah gadis pertama yang di inginkannya. Namun, office girl cantik ini adalah gadis pertama yang membuat Edgar begitu ingin memiliki lebih dari apapun. Bahkan, badboy ini tak tahu, daya tarik apa yang membuat gadis itu selalu ada di setiap angan dan pikirannya.

"Aku harus mendapatkan hatimu, Alexa. Aku rela jika ternyata kamu yang akan menjadi pelabuhan terakhir hatiku," ucap Edgar dengan mengecup ponselnya. la memejamkan mata menyusul CEO dingin itu yang sudah terlelap lebih dulu.

***

Cahaya mentari pagi yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kaca membuat Alexa terbangun. Ia menggeliat dan menyadari ponselnya masih ada di genggamannya.

Mata yang malas untuk membuka tiba-tiba saja terbelalak ketika melihat dua pesan masuk tertera di layar ponselnya.

Jemarinya mengusap layar benda pipih itu dan membuka pesan teratas. Sebuah pesan dari Edgar yang menagih janjinya semalam. Alexa tak membalas pesan itu dan berlanjut membuka pesan kedua.

+62 897********

"Kau ingat aku? Si baik hati yang selalu kau gandeng saat kecil."

Membaca balasan itu, Alexa bingung dan akhirnya membaca kembali pesan di atasnya. Pesan pertama dari nomor itu adalah panggilan namanya. Senyum manis tersimpul di bibir gadis cantik ini. la tak menyangka jika Leon akan mengiriminya pesan. Dengan lincah jemarinya menari di atas layar dan berpura-pura bertanya.

+62 897********

"Apa kamu Leon?"

Hatinya terus berbunga-bunga walaupun belum ada balasan lagi dari Leon. Ia berdiri melompat-lompat di kasur. Kemudian menjatuhkan diri, menghentakkan kedua kakinya dan berguling ke kanan kiri.

Kegirangannya harus terhenti ketika dua netranya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Gadis bermata sipit ini melempar ponselnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Ia begitu semangat ketika memakai seragam office girl berwarna biru mudanya. Dengan bibir yang masih tersimpul ia memoleskan bedak tipis pada wajah ayunya. Sesaat ia baru menyadari jika sentuhan tangan Leon di dahinya baru saja terbasuh.

"Astaga, kok aku mandi sih? Yaaah, ilang deh bekas tangan Leon di jidat aku," ucap Alexa menghela napas panjang sejenak. Kemudian melanjutkan memulas bibir tipisnya dengan lipstick berwarna nude.

Ia ambil slingbag pink dan memasukan ponselnya. Dengan terburu- buru, gadis berambut hitam ini keluar kamar dan berpamitan kepada kedua orang tuanya yang tengah menikmati sepotong sandwich dan segelas susu.

"Alexa berangkat, Mah, Pah," pamit Alexa.

"Kamu gak sarapan dulu, Sayang?" tanya sang papah.

"Gak laper, Pah. Alexa sarapan di kantor aja," ucap Alexa. Gadis yang berusia dua puluh tiga tahun itu segera pergi dengan sepeda mininya yang buruk rupa. Ia mengayuh dengan cepat dan tak ingin terlambat masuk kerja.


See you next part...
.
.
.
.
.

Jangan lupa tinggalkan Vote and Komen!

ALEO [End]Donde viven las historias. Descúbrelo ahora