PART 25

15 19 0
                                        

"Mah, kok kita jadi ikut-ikutan bohong kayak Alexa?" bisik Jhonson pada istrinya.

"Mamah reflek, Pah. Mamah agak kaget tadi pas Leon sebut nama Edgar."

"Edarkan anak Tuan Rovalno yang istrinya meninggal ini."

"Bukan itu maksud Mamah, Edgar kan pacarnya Alexa.

"Hah? Papah baru ingat," ucap Jhonson sedikit keras. Membuat Grady yang berjalan di depan mereka menoleh.

"Ingat apa?" tanya Grady.

"Gak kok. Baru ingat kalau sekarang hari Minggu," kilah Jhonson.

***

Edgar melihat Leon yang tengah memerhatikannya di balik pintu. Berbaur dengan pelayat lain. Dengan sengaja Edgar semakin erat memeluk Alexa. Hingga gadis kurus itu kesulitan bernapas.

"Gar, engap. Aku susah napas," ucap Alexa yang membuat Edgar mengendurkan pelukannya.

"Jangan lepasin, Xa. Aku butuh sandaran," ucap Edgar.

Alexa menepuk-nepuk punggung kekasihnya. Lalu melepas pelukannya perlahan. Ia menghapus air mata yang masih menetes dari kedua mata Edgar yang sembab.

"Yang sabar ya, Gar. Maaf, aku baru tau tadi kalo Bunda kamu gak ada."

"Apa Leon yang memberitahumu?"

"Bukan. Orang tua kita ternyata rekan bisnis. Aku ke sini ikut Mamah sama Papah. Awalnya aku gak tau siapa yang meninggal. Terus ketemu Varrel dan dia bilang kalo Bunda kamu yang meninggal," tukas Alexa.

"Benarkah?"

"Iya. Tadi aku ketemu Varrel di ...." ucap Alexa menunjuk ke arah pintu dan berhenti berkata ketika melihat Leon tengah memerhatikannya.

"Ngapain dia lihatin aku? Jangan-jangan Mamah sama Papih bocorin rahasiaku," batin Alexa.

Leon yang terkenal angkuh, dingin dan tanpa ekspresi itu tiba-tiba tersenyum. Membuat gadis berponi ini mengusap-usap matanya untuk meyakinkan apa yang ia lihat.

"Gar, kayaknya mataku minus, deh!" ucap Alexa.

"Kenapa? Penglihatan kamu buram?"

"Bukan. Tadi aku liat si es kutub senyum. Pasti aku salah lihat," bisik Alexa di telinga Edgar. Ia sengaja berkata lirih karena Leon sudah semakin dekat.

"Apa yang kamu bisikin ke Edgar?" tanya Leon. Ia berdiri dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana hitam yang ia kenakan.

"Mau tau aja apa mau tau banget?" ledek Alexa.

"Mau tau banget," jawab Leon.

Alexa semakin bingung dibuatnya. Ia tak pernah menduga jika Leon akan meladeni ledekannya. "Rahasia. Mau tau aja!" ucap Alexa dengan ketus.

"Maaf ganggu kalian berdua. Aku di suruh Papi buat hibur kamu, Gar. Tapi sepertinya udah ada yang menghibur kamu," ucap Leon berkata dengan senyum yang terus tersungging.

Alexa mengusap-usap matanya lagi. Meyakinkan apa yang ia lihat dari dekat. Ya, memang penglihatan gadis berwajah oriental itu masih tajam.

"Mata kamu kenapa?" tanya Leon yang merubah pandangannya ke arah Alexa.

"Gak apa-apa. Cuma mau pastiin aja kalo kamu itu senyum beneran apa mata aku yang minus," jawab Alexa terlalu jujur. Membuat Edgar mencubit lengannya.

"Aku mengerti posisiku. Apa lagi setelah kamu mengatakan aku seperti es kutub. Lagi pula di momen berduka seperti ini, haruskah aku menunjukkan sikap dingin?" ucap Leon dan berlalu pergi. Kata terakhirnya ia ekspresikan dengan senyum kecutnya.

"Dasar es kutub! Tetep aja es kutub!" hardik Alexa lirih.

Gadis ini terus berada di sisi Edgar yang masih sibuk menerima ucapan bela sungkawa dari pelayat yang datang. Ia terus memandangi wajah manis Edgar yang tersirat kesedihan yang sangat dalam. Di usia semuda itu Edgar harus kehilangan ibundanya.

Alexa panik ketika orang tua Leon, Ayah dari Edgar beserta kedua orang tuanya masuk hendak menemui Edgar. Ia segera pergi tanpa berpamitan. Namun, Edgar sudah tahu dan hanya tersenyum.

Alexa terus berjalan lurus. Melewati kedua orang tuanya tanpa memandangnya. Untung saja Diandra dan suaminya sangat mengerti dengan akting putrinya. Alexa bergegas pergi hendak ke mobil. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap Leon tidak melihatnya.

Seorang wanita menabraknya. Alexa menunduk dan mengucapkan permintaan maaf tanpa memandang wajah wanita yang menabraknya. Ia berlalu begitu saja.

"Alexa?" panggil orang itu. Membuat Alexa menghentikan langkahnya dan berbalik.

Gadis berusia dua puluh tiga tahun ini memandang lekat wajah wanita seusia Mamahnya. Ia kembali memutar ingatan lama bertahun-tahun lalu. Wanita itu masih cantik, sama seperti dulu ia mengenalnya.

"Tante Vania," batin Alexa yang sadar jika perempuan yang bertabrakan dengannya adalah ibunda dari Leon.

"Maaf, anda bicara dengan saya?" tanya Alexa dengan gugup.

"Kamu Alexa kan? Anaknya Jhonson sama Diandra?"

"Bukan. Sepertinya anda salah orang," jawab Alexa.

"Oh, maaf. Kamu mirip sekali sama temen kecil anak saya."

"Begitu rupanya. Saya permisi," ucap Alexa pamit.

Gadis itu berjalan cepat menuju parkiran mobil. Sialnya, ia tak bisa masuk karena mobil dalam keadaan terkunci.

"Ya ampun! Aku harus sembunyi di mana? Mana Tante Vania gak lupa ingatan. Gawat kalo ketemu dia lagi!" gerutu Alexa. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sembari menghindari orang tua Leon. Mengitari kediaman Edgar yang luas dan asri.



See you next part...
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan Vote & Comment!

ALEO [End]Donde viven las historias. Descúbrelo ahora