Alexa mengambil paket masa kecilnya bersama Leon yang terbingkai rapi. Memorinya memutar kenangan lama lima belas tahun lalu. Kenangan saat pertama kali mengagumi sosok Leon.
Alexa kecil saat itu berusia tiga tahun. Bertubuh pendek dengan rambut bob dan poni yang menutupi dahinya. Ia selalu bermain sendiri di pinggir jalan di depan rumah. Dengan sepeda roda empatnya ia bermain ke sana kembali sendirian.
Alexa kecil melihat gerombolan anak di atas usianya tengah bermain petak umpet. Melihat keseruan mereka, gadis kecil itu ingin bergabung dan memiliki teman bermain. Hal buruk justru dialami gadis berponi ini. Salah satu dari mereka mendorong Alexa hingga terjatuh. Semua menertawakan Alexa yang menangis.
"Hey!" teriak seorang anak laki-laki di atas sepedanya. Gerombolan pembully lari melihat anak laki-laki di atas sepeda itu akan melempar bola ke arah mereka. Dia adalah Leon Jonathan Grady.
Leon mendekati Alexa. Ia duduk di atas tanah berhadapan dengan gadis yang tengah menangis. Dengan lembut Leon menghapus air mata Alexa sambil berkata, "jangan nangis, mana yang sakit?"
Alexa menunjukkan telapak tangannya yang tergores kerikil kecil saat terjatuh. Leon memegang tangan Alexa, mengusap telapak Alexa yang kotor dan meniup luka kecil di telapak tangan mungilnya.
"Udah gak sakit kan?" tanya Leon.
Alexa menggeleng, tersenyum dan kembali ceria.
"Ayo kita bermain. Nama aku Leon, nama kamu siapa?" ucap Leon mengulurksn tantangannya. Dengan girang Alexa menyambut perkenalan teman barunya itu.
"Namaku Alexa."
Alexa tersenyum melihat potret kecil yang mengingatkannya akan pertemuan pertamanya dengan Leon. Ia membawa foto itu dan masih terus memandangnya. Gadis berponi ini merebahkan tubuhnya ke kasur empuk dengan seprei putih bermotif Doraemon. Ia kembali teringat kenangan-kenangan bersama Leon kecil selama lima tahun.
"Rumah kamu di mana? Aku antar pulang ya," pinta Leon.
"Itu rumahku," tunjuk Alexa pada sebuah bangunan berwarna putih.
"Wah, ternyata kita tetangga. Apa boleh aku main ke rumah kamu?"
Alexa sangat senang mendengar Leon mau berteman dan bermain dengannya. Kedua anak kecil yang terpaut usia empat tahun itu pun bermain bersama setiap hari setelah Leon pulang sekolah.
Keakraban anak kecil ini membuat orang tua mereka pun menjadi dekat. Mereka menjadi seperti saudara. Memasuki usia sekolah dasar, Alexa berangkat sekolah dengan membonceng sepeda Leon karena sekolah tak jauh dari kediaman mereka.
Keakraban mereka hanya bertahan selama lima tahun. Di Minggu pagi yang cerah, Leon datang mencari Alexa. Gadis kecil itu menemui Leon dan mengajaknya bermain sepeda.
"Alexa, aku gak bisa main lagi sama kamu," ucap Leon.
"Kenapa?"
"Aku harus ikut kedua orang tuaku ke Jakarta hari ini dan mungkin gak akan ke sini lagi," ucap Leon.
Alexa menangis. Ia berlari ke kamar dan mengurung diri. Leon mengetuk-ngetuk pintu kamar Alexa dan memintanya untuk keluar.
"Alexa, ayo keluar. Jangan sedih, nanti aku akan mengirimkan sesuatu untukmu setelah aku sampai di Jakarta," ucap Leon.
Alexa membuka pintu dengan wajah kusutnya. Bulir bening tak henti-hentinya mengalir dari mata gadis mungil itu. Untuk kedua kalinya Leon menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Leon, Alexa, foto dulu buat kenang-kenangan ya," ucap Vania yang ternyata sudah berada di belakang mereka bersama Grady dan kedua orang tua Alexa. Leon merangkul Alexa. Keduanya tersenyum dan berfoto bersama.
ESTÁS LEYENDO
ALEO [End]
Ficción GeneralLeon Jonathan Grady adalah pewaris tunggal dari perusahaan Grady Group yang bergerak di bidang alat transportasi. Leon merupakan pria yang selalu tampil sempurna dan di kenal angkuh oleh para karyawannya. Alexa Olivia Jonshon merupakan perempuan ber...
![ALEO [End]](https://img.wattpad.com/cover/301022381-64-k750802.jpg)