"Gar, kita bikin istana dari pasir, yuk!" ajak Alexa sambil mengumpulkan pasir basah.
"Kamu gak pernah ke pantai ya?" tanya Edgar.
"Bisa di hitung. Papah kan sibuk terus. Mana ada waktu buat ajak anaknya liburan meskipun sekedar ke pantai."
"Kan gak harus sama orang tua. Sama temen atau pacar gitu."
"Dulu waktu tinggal di kampung, jarak ke pantai itu jauh. Harus menempuh waktu 3 jam. Aku gak di bolehin sama Mamah kalo liburan bareng temen jauh- jauh."
"Kalo gitu sama pacar, dong!"
"Kamu kan pacar pertama aku, Gar. Dan cowok pertama juga yang ajak aku ke pantai."
"Astaga. Kasian banget hidup kamu."
"Mamah sama papah over ptotektif banget sama aku. Sekarang ini aja udah ngebebasin aku buat ngelakuin apa aja. Kenapa sih kamu tanya begitu?"
"Habisnya kamu kayak anak kecil. Lucu, gemesin. Kamu itu cewek pertama yang aku ajak ke pantai terus minta main pasir. Jadi berasa gak pacaran, tapi berasa kayak lagi sama keponakan."
"Kamu anggep aku kayak anak kecil?" ucap Alexa memanyunkan bibirnya.
"Gak. Siapa yang bilang?"
"Nah, kan kamu tadi yang bilang."
"Gak!"
Alexa melempari Edgar dengan segenggam pasir.
"Aduh," ringis Edgar.
Pria bergingsul ini hendak membalas perbuatan nakal kekasihnya. Ia mengambil segenggam pasir dan akan melemparkannya ke arah Alexa. Namun, gadis berponi yang mengenakan blouse motif bunga dan rok rimpel ungu muda sebatas lutut itu berlari menjauh. Edgar merasa tertarik untuk mengejarnya. Alexa berlari, sesekali menoleh ke belakang dengan menjulurkan lidah ke arah Edgar.
Leon yang melihat adegan itu tersenyum sendiri. Seolah ia terbius dengan pesona sederhana Alexa. Rambut hitam sebatas bahu gadis itu berterbangan hingga sesekali menutupi wajah ayunya. Tawa lepasnya menunjukkan betapa bahagianya Diana.
"Cantik," gumam Leon lirih.
"Apa air kelapa bisa bikin aku mabuk? Siapa yang bilang cantik tadi?" ucap Leon kesal dengan dirinya sendiri.
Leon melihat Edgar mulai berlari dan mendekati Alexa. Pasir dalam genggaman tangannya ia lemparkan tepat mengenai wajah Alexa yang tengah tertawa.
Suara gelak tawa Edgar jelas terdengar di telinga Leon. "Jahat sekali kamu, Gar. Pasti pasir itu masuk ke mulut Alexa," ucap Leon setelah menyedot air kelapa muda dan menelannya.
"Kamu gak apa-apa kan, Sayang?" tanya Edgar yang merasa bersalah. Ia mendekati Alexa dan membuang sisa pasir yang menempel pada rambut dan wajah Kekasihnya.
"Kamu tega banget. Tau kan tadi aku lagi mangap? Masuk ke mulut nih!"
"Iya, maaf. Kan kamu duluan yang mulai."
"Tapi gak ke mulut kan?"
"Gak tapi ke mata. Mata aku perih banget, Sayang."
"Serius? Sini aku tiupin!" ucap Alexa menarik kerah jaket jeans yang di kenakan Edgar hingga tubuh jangkung pria bergingsul ini sedikit menunduk.
"Udah gak perih?" tanya Alexa setelah meniup mata Edgar
"Gak, dong! Kan yang kelilipan mata kaki aku."
"Edgar! Awas kamu ya! Aku lempar pakai pasir lagi, nih!"
Alexa dan Edgar kembali berlari berkejar-kejaran di bibir pantai. Membuat Leon kesal tanpa sebab hingga membuang kelapa muda yang masih sisa setengahnya.
ESTÁS LEYENDO
ALEO [End]
General FictionLeon Jonathan Grady adalah pewaris tunggal dari perusahaan Grady Group yang bergerak di bidang alat transportasi. Leon merupakan pria yang selalu tampil sempurna dan di kenal angkuh oleh para karyawannya. Alexa Olivia Jonshon merupakan perempuan ber...
![ALEO [End]](https://img.wattpad.com/cover/301022381-64-k750802.jpg)