PART 20

17 19 1
                                    

Leon masih tertidur lelap di kamarnya. Padahal, cahaya matahari sudah menerobos masuk melalui celah- celah jendela kaca.

"Leon," panggil seorang perempuan dari belakang.

Leom menoleh dan melihat Alexa si OB ceroboh membawa boneka beruang besar.

"Kenapa kamu bisa pegang boneka itu?" tanya Leon.

"Apa kau lupa? Ini pemberian dari kamu dulu."

"Gak ... gak mungkin."

"Leon, aku kangen kamu," ucap Alexa berlari hendak memeluk CEO dingin itu.

"Pergi! Jangan mendekat, jangan!" teriak Leon bersamaan dengan kedua netranya yang terbuka lebar. Napasnya begitu sesak. Keringat dingin bercucuran. Leon terbangun dan mengelap peluh di dahinya dengan telapak tangannya.

"Untung cuma mimpi," ucap Leon sambil menghela napas panjang.

"Kenapa aku mimpiin OB itu? Gak mungkin kalo Alexa kecil itu dia!" gumamnya.

Leon meraih ponselnya dan melihat dia notifikasi panggilan tak terjawab dari Varrel. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Wajar jika Varrel khawatir karena sang CEO belum tiba di kantor.

Tut ... tut... tut ....

"Hallo, Leo. Kamu di mana?" tanya Varrel.

"Aku gak masuk hari ini."

"Kenapa? Kamu sakit?"

"Gak. Aku pengin nenangin diri dulu hari ini."

Leon memutuskan panggilan teleponnya. Pikirannya kacau. Bukan hanya Alexa kecil yang ada di ingatannya. Namun, ia juga mengingat kenangan manis dengan Amanda.

CEO muda dan penuh karisma ini bergegas menuju kamar mandi. Ia segera menanggalkan seluruh pakaiannya. Menunjukkan dadanya yang bidang serta bahunya yang lebar. Ia membasahi tubuh kekarnya dengan segarnya air yang mengguyur dari shower.

Bayangan akan Amanda kembali teringat dalam angan. Masa-masa saat cinta dalam sanubari tengah mekar. Melewati sepanjang hari di pantai. Ya, kenangan terindah saat itu belum juga bisa di lupakan.

Di bawah langit senja. Duduk di atas pasir menghadap luasnya lautan yang tak berujung. Suara desir ombak, sayup- sayup angin sore seolah menjadi saksi bisu keromantisan dua insan yang tengah dimabuk asmara.

"Leo, apa kamu bener-bener serius denganku?" tanya Amanda yang tengah bersandar di bahu Leon.

"Iya, sayang. Apa selama ini keseriusanku tak bisa kau lihat?"

"Aku takut kamu meninggalkanku, Leo."

"Tidak akan pernah. Aku sangat mencintaimu, Amanda!" ucap Leon mendekatkan wajahnya ke wajah Amanda. Untuk pertama kalinya Leon memberanikan diri mengecup bibir seorang gadis. Merasakan nikmatnya bibir manis sang pujaan hati.

Leon mematikan shower. Melumuri tubuhnya dengan sabun. Ia segera membilasnya dan keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di perutnya.

Tangan kanannya membuka almari cokelat. Ia mengambil t-shirt abu-abu dan celana jeans hitam panjang. Telapak kakinya diselimuti dengan sneakers putih polos.

Leon mengambil dompet, ponsel serta kunci mobilnya dan keluar kamar. Ia berpamitan kepada kedua orang tuanya yang tengah duduk santai sambil menikmati secangkir teh hangat.

"Kamu mau kemana pake baju seperti itu, Leo?" tanya Vania sambil meletakan cangkir di atas meja.

"Mau pergi sebentar, Mi."

"Kamu gak ke kantor?" sahut Grady.

"Hari ini aku libur dulu."

"Mami penasaran. Mau ke mana, sih? Mau ketemu Alexa ya?"

ALEO [End]Donde viven las historias. Descúbrelo ahora