Alexa masuk ke dalam rumahnya yang sepi. Ia mencari-cari sang mamih. Namun, tidak ada di mana-mana.
"Bibi Marni," teriak Alexa dari dalam ruang tamu.
"Iya, Non," ucap Bi Marni keluar dari dapur dengan serbed yang berada di bahu kanannya.
"Mamah ke mana?"
"Nyonyah lagi belanja. Tuan belum pulang. Tumben Non Alexa jam segini udah di rumah?"
"Lagi bete. Siapin makan siang ya, Bi. Sama jus Jeruk juga. Nanti anter ke kamar."
"Iya, Non."
Alexa berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Ia bercermin sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kenapa aku diem aja di perlakukan kayak gitu sama Amanda? Huffft. Ngapain cewek itu muncul lagi? Aku harus gimana ya? Kalo denger cerita Edgar, kayaknya Leon cinta mati sama dia. Mana cantik banget lagi," ucap Alexa. Kemudian menyibak rambut yang menutupi dahinya itu. Hingga tampak bekas luka yang sudah mengering.
"Kayaknya aku harus ganti gaya deh. Biar gak kalah cantik sama Amanda."
Tok... Tok... Tok...
"Non, makan siangnya."
"Iya, Bi. Taruh meja aja. Bibi sibuk gak?"
"Gak, Non. Kenapa?"
"Temenin ke mall sama ke salon yuk!"
"Aduh, Non. Bibi gak pernah ke tempat begituan. Lagian kenapa gak sama pacar Non aja?"
"Pacar yang mana?"
"Yang ganteng itu. Emang pacar Non ada berapa?"
"Oh, Edgar. Ya ampun, pacar satu aja lupa. Dasar aku tuh! Ya udah deh."
Alexa mengambil piring dan gelas berisi jus jeruk. Kemudian membawanya ke balkon kamar. Ia menyantap makan siang sambil bermain ponsel. Menghubungi Edgar dan mengajaknya berbelanja. Namun, Edgar tidak menjawab panggilan dari Alexa.
"Kok gak diangkat sih!" ucap Alexa meletakkan ponselnya dan menyelesaikan makan siangnya. Berlanjut dengan berganti pakaian. Ia mengenakan blouse krem di padukan dengan celana jeans hitam ketat. Tidak lupa sling bag berwarna hitam sebagai tempat untuk menyimpan dompet dan ponselnya.
Alexa keluar dari kamar. Menuruni tangga dan mencari supir pribadi keluarganya. "Pak, anter saya ke mall ya! Bawain belanjaan saya juga nanti!"
"Iya, Non."
Alexa diantar menuju pusat perbelanjaan mewah di ibukota. Sang supir terus mengikutinya dari belakang. Seperti seorang ajudan yang tengah menjaga tuannya.
Hal pertama yang dibeli Alexa adalah pakaian. Ia membeli beberapa dress pendek dan panjang dengan berbagai motif dan model. Setelah itu, ia juga membeli sandal serta sepatu berhak.
"Udah saatnya aku merubah image," batin Alexa.
Tidak terasa dua jam berlalu. Hari sudah semakin sore. Pak supir terlihat lelah dengan kedua tangan yang sudah penuh dengan belanjaan Alexa. Sedangkan gadis yang sibuk dengan niat merubah dirinya ini mengabaikan ponselnya yang terus bergetar di dalam tas. Ia tidak menyadari ada beberapa panggilan tak terjawab serta pesan dari sang Mamah dan Edgar.
"Pak, tahu salon langganan Mamah?"
"Tahu, Non."
"Antar aku ke sana ya? Nanti bapak cari makan malam sekalian bungkusin buat saya. Saya ditinggal gak apa-apa.
"Iya, Non. Mau ke salon sekarang?"
"Gak. Besok. Ya iyalah sekarang!"
"Iya, Non."
Alexa sampai di salon langganan Anisa. Ia berkonsultasi dengan salah satu penata gaya di salon tersebut. Seorang pria gemulai dengan wajah cantik bak artis korea. Tubuhnya yang seperti gitar Spanyol serta bibirnya yang merah merekah pasti akan membuat laki-laki terpesona.
"Mau di rubah seperti apa, Alexa?" suara sengau penata gaya itu membuat Alexa sadar jika orang di hadapanya adalah wanita jadi-jadian.
"Kok Mamah bisa punya langganan salon kayak gini sih? Tapi rame banget salonnya. Semoga aja hasilnya oke," batin Alexa.
"Aku mau terlihat lebih dewasa. Baiknya gimana?"
"Oke. Nanti kita rubah rambut kamu aja ya! Poninya juga kita buang nanti."
"Terserah aja mau gimana."
"Ya udah. Ayo ikut saya!"
Alexa duduk di sebuah kursi. Menghadap cermin yang menampakkan seluruh tubuhnya. Ia baru sadar jika ponsel dalam tasnya bergetar. Ia mengambil ponsel itu dan melihat sebuah panggilan dari Edgar.
"Ya ampun, Edgar!" ucap Alexa. Saat hendak mengangkat telepon itu, panggilan berakhir. Ia melihat notifikasi di ponselnya. Lima panggilan dari sang Mamah serta panggilan dari Edgar. Alexa juga membuka pesan dari Edgar yang menanyakan makan malam yang sudah di janjikannya.
Edgar
Alexa, kamu datang ke green apple reataurant ya. Aku gak bisa jemput kamu. Aku tunggu!
Saat Alexa ingin membalas pesan Edgar di ponselnya, tiba-tiba ponselnya mati. "Aduh, pake lowbat segala!" gerutu Alexa kesal.
Sedangkan di sisi lain, Edgar tengah menyewa sebuah private room di restoran mewah. Ia meminta pelayan mendekor ruangan itu dengan suasana candle light dinner. Ia duduk di sebuah kursi sambil memegang sebuah cincin emas putih dengan ukiran nama sang pujaan hati.
"Alexa, kenapa kamu gak angkat telepon aku?" ucap Edgar gelisah karena wanita idamannya belum juga membalas pesannya.
***
A
lexa meminjam charger salah satu pegawai salon. Ia segera mengisi daya baterai ponselnya dan membiarkannya tergeletak di meja.
"Kira-kira selesai jam berapa?" tanya Alexa.
"Gak lama kok, mungkin sekitar 3 jam," jawab pegawai salon itu sambil menjepit poni Alexa ke belakang.
"Ya ampun. Ini jidat apa lapangan? Lebar bener," batin pegawai salon itu ketika melihat dahi Alexa yang menonjol dan lebar.
Alexa melihat jam dinding dari cermin. Perombakan yang di lakukan di perkirakan akan selesai pukul sepuluh malam.
See you next part...
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan Vote & Comment!

ESTÁS LEYENDO
ALEO [End]
General FictionLeon Jonathan Grady adalah pewaris tunggal dari perusahaan Grady Group yang bergerak di bidang alat transportasi. Leon merupakan pria yang selalu tampil sempurna dan di kenal angkuh oleh para karyawannya. Alexa Olivia Jonshon merupakan perempuan ber...