PART 33

11 17 0
                                    


"Leon masih punya fotoku ternyata. Tapi kenapa dia gak ngenalin aku ya? Parah emang si es kutub!" ucap Alexa meletakkan kartu ucapan itu dan membuka kotak yang di harapkannya adalah kotak terakhir.

Saat tutup itu di buka, hanya ada serpihan-serpihan kertas di dalamnya.

"Kosong?" gumam Alexa bertanya-tanya.

Alexa langsung menumpahkan kertas itu. Sesuatu jatuh di antara guntingan- guntingan kertas kecil. Alexa menjerit dan melompat menjauhi hadiah spesial dari Leon.

Sedangkan disisi lain, Leon mengendarai mobil dengan terus tertawa. Seolah tidak menganggap kedua orang tuanya duduk di belakang.

"Leo, kita ke rumah sakit dulu sebentar ya," ucap Grady.

"Jam segini? Emang Papi sudah ada janji sama dokter Renal?" tanya Vania pada sang suami.

"Gak, Mi. Papi pengin periksain Leon ke psikiater."

"

Papi jangan gitu dong! Kayak Varrel aja. Waktu itu juga suruh Leon periksa kejiwaan," sahut Leon.

"Bener si Varrel. Kamu itu belakangan ini aneh, Leo," sambung Grady.

"Menurut Mami gak aneh, Pi. Tapi kayak lagi kasmaran," ucap Vani meledek anak semata wayangnya.

"Ih, Mami apaan coba."

"Terus kenapa nyetir sambil ketawa sendiri? Emang ada yang lucu?"

"Leon lagi ngebayangin Alexa buka kadonya, Mi. Pasti dia seneng."

"Kamu kasih kado apa, sih?" tanya Vania sedikit kepo.

"Rahasia."

***

"Mamah, Papah, Bibi Marni!" teriak Alexa meringkuk di pojok kamar. Wajahnya di tutup dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis seperti anak kecil karena ketakutan.

"Apa sih, Xa?" ucap Diandra membuka pintu dan melihat putrinya masih menangis.

"Itu, Mah, Leon!" tunjuk Alexa ke arah ranjang.

"Leon? Mana Leon?" tanya Diandra berjalan dan mengintip ke kolong tempat tidur.

"Gak ada siapa-siapa, Xa," sambung Diandra.

"Bukan Leon. Maksud Alexa hadiah dari Leon Mah."

"Emangnya apa hadiah dari Leon?" tanya Diandra penasaran duduk di atas kasur. Melihat satu per satu kotak kosong yang telah terbuka serta tumpukkan potongan kertas.

"Gak ada isinya?"

"Ada, Mah. Di tumpukkan kertas itu."

Diandra mencari sesuatu di tumpukkan kertas yang di maksud anak gadisnya. Wanita yang sama cantiknya dengan putrinya ini tertawa ketika melihat sebuah mainan berbentuk kecowa kecil.

"Ini kan cuma mainan, Xa."

"Tapi itu kecowa. Leon kenapa tega banget, sih!"

"Mungkin Leon cuma mau ngingetin kamu sama kenangan waktu kecil kali."

"Kenangan buruk gak perlu juga di ingetin!"

"Terus kadonya mau di kemanain?"

"Buang."

"Gak boleh dong, Sayang. Pemberian dari orang gak boleh di buang. Kamu gak menghargai namanya!"

"Tapi Alexa gak mau menyimpannya, Mah."

"Mamah simpen ke kotak aja ya? Biar gak keliatan."

"Iya, Mah."

Diandra merapikan kembali kotak- kotak itu dan mengikatnya dengan pita. Kemudian ia letakkan hadiah dari Leon di atas meja rias putrinya.

"Ini kado juga?" tanya Diandra kepada Alexa melihat sebuah totebag pink berpita di atas meja.

"Iya, Mah. Itu sepatu dari Edgar."

"Kok gak di buka. Kamu harus pakai sepatu itu. Sebagai tanda kalo kamu menghargai pemberiannya."

"Aku gak suka, Mah. Mamah tahu kan aku sukanya sepatu flat. Edgar malah kasih wedges."

"Gak apa-apa, Xa. Sekali-sekali pakai sepatu tinggi biar gak keliatan pendek. Leon sama Edgar itu tinggi banget lho. Kamu cuma sepundaknya aja."

"Iya, besok Alexa pakai sepatunya. Udah ah, Alexa mau tidur,"  ucap Alexa berdiri dan melangkah menuju tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya dan memeluk boneka beruang pemberian Leon.

"Ya udah. Selamat tidur ya, Putri kesayang Mamah."

***

Leon berganti pakaian. Ia tatap sepatu milik Alexa yang di pungutnya dari kolam saat Alexa hampir tenggelam. Tanpa alasan bibirnya terus tersenyum. Semua kejadian di kantor yang membuatnya kesal karena kelakuan Alexa seolah menjadi kenangan lucu sekarang.

Leon mengingat betapa takutnya Alexa saat melihat kecowa di ruangannya. "Kamu lucu banget. Kenapa dari awal aku gak ngenalin kamu, Alexa!" gumam Leon sambil meletakkan tubuhnya di atas kasur. Melihat langit- langit kamar di mana tiga ekor cicak
tengah berkejaran mengelilingi lampu.

"Cicak itu ibarat kita. Itu aku, itu kamu, itu Edgar," ucap Leon sambil melihat cicak yang berada tepat di atas kepalanya.

Leon tersenyum, sesekali tertawa melihat cicak-cicak itu. Sesekali pula ia menguap karena sudah mengantuk. Leon menyalakan alarm pada ponselnya. Ia ingin bangun lebih pagi untuk mempersiapkan kejutan lanjutan untuk teman kecilnya.


See you next part...
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan Vote & Comment!

ALEO [End]Donde viven las historias. Descúbrelo ahora