Leon merasa khawatir dengan Alexa. Di sisa jam kerjanya, ia sama sekali tidak fokus. Berkali-kali ia memegang ponsel. Rasanya ingin menghubungi Alexa dan mengatakan jika ia sudah tahu akan kebohongan teman kecilnya itu. Namun, Leon mengurungkan niatnya. Ia masih ingin bermain-main dan membalas Alexa
"Leo, kenapa murung terus dari tadi?" tanya Varrel yang sedari tadi duduk di hadapannya.
"Aku khawatir sama Alexa."
"Gak usah khawatir. Dia udah sama Edgar kan?"
"Tapi aku pengin tau keadaannya sekarang."
"Kamu udah pernah minta biodatanya kan? Ada alamat, ada nomor telepon, pake itu!"
"Gak bisa. Udahlah!"
"Ya elah. Kalo khawatir banget sama pacarnya Edgar, harusnya kamu aja yang nganterin ke rumah."
"Maunya gitu. Terus siapa yang hubungi Edgar tadi?"
Varrel tersenyum, menunjukkan barisan giginya yang putih. "Sorry, habisnya aku juga khawatir. Tapi kayaknya gak ada yang perlu di khawatirin deh."
"Kenapa?"
"Liat kan tadi? Kita udah panik, udah khawatir, taunya Alexa lagi tidur mangap gitu. Gak jadi khawatir tahu gak?"
"Alexa. Kamu emang aneh. Di saat orang lain menyakitimu, kamu gak terlalu menunjukkan sisi sedih," batin Leon.
"Varrel, aku...." ucap Leon menghentikan ucapannya.
"Aku kenapa?"
Sebelum Leon melanjutkan lagi ucapannya, pintu ruangan sang CEO terbuka. Ternyata Amanda datang dengan rambut dan riasan berantakan.
"Leo, tolong aku!" rengek Amanda dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Amanda, kamu kenapa berantakan begitu?" tanya Varrel yang langsung mempersilahkan wanita itu duduk.
"Leon, ini semua ulah Alexa," ucap Amanda dengan meyakinkan.
"Gak usah ngaco," jawab Leon tanpa ekspresi.
"Iya. Dia turun dari mobil Edgar, dia nyiram aku pake air, dorong aku sampe jatuh," ucap Amanda memutar balikkan fakta.
"Terus? Kamu pikir aku bakal percaya? Jika pun benar yang Alexa lakukan, bukankah impas? Hal yang Alexa lakukan tidak sebanding dengan kelakuan kamu yang mempermalukan dia di depan teman-temannya kan?"
"Leo, kenapa sekarang kamu kayak gitu ke aku? Apa rasa cinta kamu udah pudar?"
"Gak pudar. Tapi sudah hilang."
"Gak mungkin. Aku yakin kamu masih sayang sama aku."
"Aku minta sekarang kamu pergi sebelum aku panggil security buat nyeret kamu keluar!"
"Leo, please!"
"PERGI!" Teriak Leon menunjuk ke arah pintu. Dengan mata membulat dan wajah memerah.
Amanda yang begitu keras kepala tidak mau pergi. Membuat Leon semakin kesal. Saat CEO tampan ini menarik tangan sang mantan hendak menyeretnya keluar, justru Amanda memeluk erat Leon. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan Leon terbuka dengan keras.
"Amanda!" panggil seorang pria tua di depan pintu.
Pelukan Amanda terlepas. Semua menatap ke arah pria berusia sekitar empat puluh tahunan itu."Mas Bram," gumam Amanda.
"Jadi ini yang kamu lakukan selama ini di belakangku?" teriak lelaki berkaca mata di depan pintu ruangan Leon.
"Apa-apaan ini? Kalian jangan bikin keributan di sini!" bentak Varrel.
"Diam kamu! Ini urusan kami," ucap Bram lagi.
"Kami? Urus saja urusan kalian sendiri. Jangan bawa-bawa saya! Dan katakan pada istrimu untuk berhenti mengganggu hidupku lagi!" ucap Leon mendorong tubuh Amanda ke arah suaminya. Ya, Bram adalah lelaki yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Amanda. Ia merupakan anak seorang konglomerat. Sama-sama menjabat sebagai seorang
CEO."Leo, tolong aku, Leo, please! Aku gak mau lagi hidup sama pria ini," ucap Amanda yang sudah di seret oleh suaminya.
Varrel segera menutup pintu. Meski sejenak tiba-tiba pria tampan ini merasa kasihan dan iba kepada Amanda.
"Leo, kayaknya Aman...."
"Stop! Jangan sebut nama dia lagi di hadapanku!"
***
Bram membawa beberapa ajudan di luar kantor Leon. Ia mencari kunci mobil yang di kendarai istrinya dengan paksa dan meminta salah satu ajudan untuk membawa pulang mobil tersebut. Sedangkan Amanda masih berada pada cengkeraman Bram. Ia mendorong wanita seksi itu ke dalam mobilnya.
"Mas, ampun!" ucap Amanda sambil menyatukan kedua tangannya.
"Diam! Sudah ku bilang, jika kamu macam-macam aku akan mempermalukan dirimu!" ucap Bram sambil menyetir mobil mewahnya.
"Bagaimana Mas tahu aku ada di kantor Leon? Apa ada seseorang yang mengikutiku?"
Bram hanya tersenyum sinis sambil menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri. Amanda mendengus kesal. Sejak ia memilih Bram dan meninggalkan Leon, hidupnya tidaklah bahagia.
Cinta Bram untuknya terlampau besar. Hingga ia merasa hidup dalam sangkar. Apa lagi keluarga Bram yang memiliki banyak aturan. Ya, ternyata pilihannya meninggalka Leon demi pria kaya membuat dirinya sadar bahwa hanya Leon pria baik yang menyayangi tanpa menyakiti.
"Aku menyesal lebih memilih uang. Jika pun aku meminta kembali padamu, pasti kau mengira karena jabatanmu saat ini. Seperti yang di katakan Edgar Aku harus bagaimana?" batin Amanda sambil menoleh ke arah jendela. Menyembunyikan air mata dari sang suami.
"Maafkan aku, sayang," ucap Bram dengan lembut. Lelaki berkaca mata itu menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya.
"Mas terlalu berlebihan. Aku merasa sesak jika terus di kekang olehmu," jawab Amanda dengan terisak.
"Itu karena aku takut kehilangan kamu. Apa pun yang kamu minta akan aku berikan. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Tolong jangan berhubungan dengan mantanmu itu lagi!"
Amanda terdiam. Dalam lubuk hatinya yang terdalam ia masih sangat mencintai Leon. Tidak di pungkiri olehnya bahwa ia sangat ingin kembali berada di pelukan CEO tampan itu.
"Kau marah, sayang?"
"Tidak."
"Apa kau ingin makan dulu?"
"Terserah Mas saja."
See you next part...
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan Vote & Comment!

ESTÁS LEYENDO
ALEO [End]
General FictionLeon Jonathan Grady adalah pewaris tunggal dari perusahaan Grady Group yang bergerak di bidang alat transportasi. Leon merupakan pria yang selalu tampil sempurna dan di kenal angkuh oleh para karyawannya. Alexa Olivia Jonshon merupakan perempuan ber...