- 6 -

277 24 5
                                        

A M A I A
─── ・ 。゚☆: *. 🌹 .* :☆゚. ───

Aku baru selesai mandi dan baru saja memasuki kamar saat mendengar tabletku berbunyi di atas meja. Cepat-cepat aku mendekat dan mengecek layarnya.

Coria vs Sevilla!
kick off in 10 mins.

Aku tak pernah mau melewatkan pertandingan Hugo, jadi aku menjadi pelanggan premium di aplikasi liga utama sepak bola Spanyol. Setiap Sevilla bermain, klub dimana Hugo bermain, aku akan mendapatkan notifikasinya.

Aku mengetuk notifikasi di layar dan langsung dialihkan pada layar hitam dengan lingkaran yang terus berputar di tengah. Tak lama terdengar suara riuh penonton diikuti suara komentator sesekali, pertandingan telah berjalan selama tiga menit dan skor masih nol-nol untuk kedua tim.

Malam ini, Sevilla melakukan laga tandang ke ke klub satu kota, yaitu Coria. Dan karena itulah mereka tidak mengenakan seragam utama mereka yang berwarna putih, melainkan mengenakan seragam kedua mereka yang berwarna merah.

¡Dios mío! Lo quiero en rojo.

Aku suka sekali melihat Hugo mengenakan seragam sepakbola, terutama yang berwarna merah itu. Aku tak akan berhenti mengelus bagian bisepnya yang kencang setiap kali ia mengenakan baju olahraga, atau bagaimana tato tribalnya tampak mengintip di lengan kirinya, atau bagaimana siluet bokongnya yang seksi terlihat dari balik celana pendeknya.

Astaga, semenjak aku berpacaran dengan Hugo, bayanganku tentangnya tak pernah jauh dari hal
binal. Aku tak ingin dicap seksis, tapi Hugo memang sangat seksi.

Sebelum menjadi kekasihnya, aku hanya menganggap Hugo sebagai kakakku, jadi aku tak pernah menyadari betapa seksi dirinya, atau berapa tampan dirinya. Cara pandangku terhadapnya secara khusus dan terhadap laki-laki secara umum berubah semenjak aku berpacaran dengannya. Ia memperkenalkanku pada banyak kenikmatan dunia yang ternyata bisa datang lewat sentuhan tangan, bibir bahkan lidah.

Tak lama kamera menangkap pergerakan Hugo, nomor 12. Tampak berlari cepat membawa bola, rambut pirang gelapnya tampak tetap berdiri tegak meski ia berlari kencang. Satu hal yang selalu menjadi bahan olok-olokku padanya, dan berakhir dengan Hugo membanggakan rambutnya sebagai kekuatan supernya.

Aku tak dapat menahan diri dan kembali tertawa saat mengingat itu.

Oh, Hugo dan selera humornya yang aneh.

Tak lama ponselku berdering, nama Sara muncul di layar.

"Hola." Sapaku.

"Hei, sedang apa?"

"Baru selesai mandi, ada apa?"

"Kau baru sampai?"

"Umh, yeah, sekitar setengah jam lalu."

"Tunggu, dari mana saja kau?"

"Mateo mengajakku berjalan-jalan. Ada apa?"

"Oh, sial. Aku sebelumnya khawatir, ternyata kau malah asik berjalan-jalan dengan kekasih barumu."

Aku tertawa, "Khawatir kenapa?"

"Tidak ada, aku banya ingin menghubungimu. Aku tidak bisa tidur."

back to youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang