FLASHBACK

212 16 4
                                        

✧༺🌹༻✧

Tubuh Amaia berguncang saat mobil yang ia naiki melewati jalanan yang penuh kerikil. Itu hanya memiliki satu arti, yaitu Amaia hampir sampai ke tujuannya.

Dulu tempat ini hanya menjadi tempat singgahnya, tempat yang ia datangi setiap liburan musim panas, momen yang selalu ia nantikan karena ia bisa menikmati kampung halamannya bersama orang-orang yang ia sayangi. Tapi mulai sekarang, tempat ini akan menjadi tempat tinggalnya.

Tidak, Amaia bukannya tidak menyukai tempat ini. Amaia suka semua tentang Kota kecil tempat ia dilahirkan ini, kecuali cuacanya yang hampir selalu mendung sepanjang tahun, yang ia tak suka adalah alasan yang membawanya berakhir kesini.

Amaia menghela nafas pelan, nyaris tak mengeluarkan suara. Bukan karena kesal, tapi untuk mengurangi beban di hatinya.

Tak lama mobil berhenti, tubuhnya perlahan maju karena rem yang diinjak terlalu dalam sekaligus, tubuhnya yang lemas tak bersemangat ditahan sabuk pengaman yang melintang di depan tubuhnya. Orang di sebelahnya terdengar menarik tuas rem tangan, dan ikut menghela nafas, Amaia menoleh ke arah pengemudi di sebelahnya.

"Kita sampai!" Ujarnya riang, seperti setiap kali ia bicara pada Amaia.

Amaia tersenyum kecil, mencoba menghargai usaha lelaki tua disampingnya untuk menghiburnya. Matanya menatap dalam ke arah Amaia, biru jernih seperti miliknya dan kakaknya.

"Papa tau, papa tau... Santutxu jauh berbeda dengan Salamanca."

"Bukan itu Papa." Potong Amaia cepat, tak sabar ingin segera menumpahkan apa yang ada di hatinya. Tapi Ayahnya langsung memotongnya.

"Bangunan disana sungguh cantik, jembatannya seakan bisa membawamu ke zaman saat orang-orang Vaceos masih tinggal disana, belum lagi toko-toko disana, huftt... pasti banyak sekali baju indah yang dibawa dari kota fashion itu ya? Apa namanya?" Ujar Unai sambil memajukan tubuhnya ke arah Amaia, membuat mata biru bulatnya terlihat semakin jelas oleh Amaia. Terlihat lelah, dikelilingi banyak kerutan dan bintik coklat. Tanda bahwa lelaki itu menghabiskan lebih banyak waktu di bawah sinar Matahari dari seharusnya. Bekerja keras. Karena tubuhnya juga terlihat lebih ramping dan berotot sekarang. Bibir tipisnya menunjukkan senyum yang tulus, Amaia bisa melihat betapa bahagia ayahnya disini.

Sejauh yang Amaia ingat, ia sudah lama tak melihat ayahnya sebahagia ini. Amaia pun memutuskan untuk mengesampingkan apa yang ia rasakan dan memilih untuk ikut bahagia, demi Ayahnya.

Setidaknya, semua orang menginginkanku disini.

"Pa-ree." Menyebutkan nama Kota yang ditanyakan Ayahnya sebelumnya, dengan aksen yang dibuat seolah-olah ia berasal dari sana.

"Oh waw, dengar itu. Hugo akan terkesan sekali dengan caramu menyebutkan itu." Unai membelalakkan matanya, membuat ekspresi terkejut yang lucu.

Amaia tertawa, sungguh-sungguh tertawa saat melihat wajah ayahnya. Lalu keduanya saling berpandangan, Unai menyeka rambut pirang Amaia ke belakang tubuhnya.

"Papa tau tidak mudah pindah kesini. Kau harus beradaptasi lagi dengan sekolah baru, kau kehilangan teman-temanmu dan Papa tidak yakin kau suka cuaca disini sepanjang Tahun." Amaia tersenyum kecil mendengar ucapan Ayahnya, "Tapi kita berkumpul sebagai satu keluarga sekarang. Papa, kau, Abuela dan Raoul." Unai memutar bola matanya, kembali membuat ekspresi, kali ini berpura-pura kesal, "Ugh, Raoul. Bedebah kecil itu sungguh sulit diatur. Papa sungguh butuh bantuanmu mengurus Raoul." Unai menyatukan kedua tangannya di depan dada, "Papa mohon, bersedialah tinggal disini."

back to youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang