- 13 -

271 25 20
                                        

H U G O
─── ・ 。゚☆: *. 🌹 .* :☆゚. ───

Hatchii...

Mon dieu... Fluku tampaknya kian parah.

Aku berguling di atas seprai putih satin yang sudah tak karuan bentuknya untuk mengambil ponselku di atas nakas. Saat aku menekan tombol wake button, muncul wajah gadis yang aku gunakan sebagai wallpaper ponselku. Tersenyum ke arah kamera dari belakang, menunjukkan lekukannya yang seksi.

Amaia.

Aku masih ingat jelas pagi itu. Aku bangun lebih dulu dan menghangatkan muffin di oven. Saat aku kembali ke kamar, aku melihat Amaia tengah memunggungiku, terlihat seksi dengan rambut pirang terurai di punggung telanjangnya. Aku dengan cepat mengambil fotonya.

Pagi itu, untuk pertama kalinya aku memanggilnya sebagai tunanganku. Dan untuk pertama kalinya juga aku memperkenalkan Amaia pada kenikmatan yang datang dari penyatuan tubuh kami. Aku masih ingat celetukan polosnya saat aku menyentuhnya di tempat-tempat yang tak pernah disentuh sebelumnya.

Amaia-ku yang cantik, aku rindu sekali padanya. Jika aku sakit begini, biasanya ia akan membuat Cassoulet untukku.

Oh, sial. Dimana aku bisa mendapatkan Cassoulet seenak buatannya?

Jangan coba menyarankan aplikasi pemesanan makanan online karena aku tak yakin aku bisa bangkit untuk mengambil pesanannya nanti. Mataku terasa panas, seluruh persendianku terasa linu dan kepalaku terus berdenyut oleh rasa sakit, seakan ada manusia-manusia kerdil yang tak berhenti memalu di dalam kepalaku.

Tunggu, tadi aku mau melakukan apa ya? Ah ya, ponselku. Aku membuka kontak kakakku dan langsung menelfonnya.

"Allô!" Sapanya dengan suara riang.

"Agnes, bisa kau bawakan makanan ke tempatku."

"Astaga ada apa dengan suaramu."

"Flu, rasanya."

"Amaia sedang tidak bersamamu?"

Aku mengerang sambil berpura-pura batuk, mencoba mengulur waktu untuk mencari alasan, "Umh, ia sedang mengurus sesuatu di Santutxu."

Untuk memperjelas semuanya, aku tidak menguntit Amaia. Aku tau dari Raoul bahwa setelah kami putus ia pulang ke kampung halamannya.

"Oh aku harus menjemput Noah latihan sepak bola, aku akan kesana setelahnya, sebelum makan malam okay?"

"Aku lapar sekali." Ujarku pelan sambil merengek.

"Tak ada staff klub yang bisa membawakan? Kau latihan hari ini?"

"Aku datang ke tempat latihan, tapi mendadak merasa sangat pusing. Jadi aku disuruh pulang lagi, khawatir menularkan pada yang lain."

"Kau menyetir sendiri?" Pekiknya cepat.

"Jika aku menyetir sendiri mungkin aku sedang berada di Rumah Sakit sekarang, dengan luka parah di sekujur tubuhku. Dan masa depan yang terancam karena kaki ya g terluka parah."

Terdengar suara panik Agnes, "Baiklah-baiklah, aku akan minta Noah ikut temannya dulu, jadi aku bisa kesana okay?"

Tak lama terdengar bel berdenting, aku sungguh ingin mengabaikannya, tapi bel terus berbunyi dalam jeda cepat berkali-kali. Keamanan disini cukup ketat, jadi jika ada yang berani menekan bel berkali-kali sudah pasti orang itu dikenal oleh tim keamanan. Tapi siapa?

back to youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang