✧༺🌹༻✧
Amaia terbangun dari tidurnya dan langsung disambut oleh suara dari beberapa orang yang tengah berbicara di dalam ruang tunggu, dari banyak suara itu ia mendengar suara neneknya.
Amaia langsung membuka matanya dan bangun ke posisi duduk, ia disambut oleh empat pasang mata yang memandanginya.
"Tidurmu Nyenyak Amaia?" Goda sebuah suara yang familiar, ada rasa senang saat mendengar suara itu lagi. Mateo berdiri di sisi Lorea. Sebelah tangannya merangkul bahu gadis itu dan sang gadis bersandar dengan nyaman.
"Tidak, karena kalian berisik sekali." Jawab Amaia sambil berjalan mendekati neneknya, "Apa mereka mengganggu istirahat nenek?"
Abuela tertawa, dadanya bergerak naik dan turun diikuti batuk pelan yang membuat Mateo, Hugo dan Raoul saling melemparkan tatapan.
"Tidak, nenek senang sekali melihat mereka semua disini." Abuela Aida lalu menghela nafas berat, "Sungguh senang melihat kalian semua disini, aku akhirnya bisa melihat kalian berkumpul bersama lagi."
"Nenek akan melihat kami berkumpul lebih sering." Jawab Hugo cepat.
Abuela tersenyum, lalu membelalakkan matanya lemah, "Ahh ya, selamat Ulang Tahun Hugo, semoga Tuhan selalu memberkatimu."
"Nenek ingat Ulang Tahunku? Ibuku sendiri bahkan lupa. Kau memang yang terbaik Abuela..." Ujar Hugo penuh kesungguhan, sebelah tangannya meremas lembut jemari renta Aida.
"Semoga aku masih bisa melihat kalian menikah di musim dingin ini."
"Nenek, jangan bilang begitu." Balas Amaia cepat.
Abuela Aida hanya tersenyum, ia terlihat memiliki tenaga untuk membalas protes Amaia.
Tak lama pintu diketuk, Martina tampak mengintip dari jendela kaca, tak lama ia masuk dengan membawa senyum lebarnya.
"Masuklah Martina." Ujar Raoul dengan senyum.
"Hai, Halo... Maaf mengganggu. Aku mau mengecek Abuela Aida sebelum jam kerjaku selesai." Ujar Martina, menggeser dirinya ke arah Abuela.
Sementara Mateo sedikit kaget dan menatap Amaia sambil mengerutkan keningnya, bibirnya tampak mengucapkan sesuatu tanpa suara. Amaia yang memahami apa yang diucapkan Mateo, menjawab dengan mengerutkan hidungnya dan menarik kedua ujung bibirnya ke bawah. Keduanya berkomunikasi dengan ekspresi.
"Jadi, katakan padaku, Amaia membuat kue apa di hari Ulang Tahunmu ini Hugo?" Tanya Abuela cepat, terdengar kesulitan bicara karena nafasnya terdengar pendek, Martina tampak mengecem sesuatu di mesin.
"Basque cake Nek, kue yang sama yang ia buat setiap tahun." Balas Hugo cepat.
"Oh, aku suka kue itu. Bisa kah kau sisakan untuk nenek Amaia?" Mata biru Abuela yang pernah Amaia ingat berwarna begitu terang kini tampak berwarna kelabu.
Amaia mendekati neneknya dan menggenggam tangannya, "Aku akan buatkan yang baru nanti."
"Lalu ada acara apa nanti malam? Itu kan alasan kau pulang kesini?" Tanya Abuela, kembali menatap Hugo.
Hugo terkekeh kecil, "Hanya makan malam bersama keluarga Nek, tidak ada yang spesial."
Abuela tersenyum, "Makan malam bersama keluarga itu selalu spesial."
Hugo menjawab dengan anggukan.
"Abuela, ada sesuatu yang kau rasakan di dadamu? Sesak? Perih?" Tanya Martina saat Abuela berhenti berbicara pada Hugo.
"Tidak ada." Jawabnya tenang.
"Sejauh ini baik, tapi kau akan bertemu Dokter besok pagi." Ujar Martina cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
back to you
RomanceKamu bisa saja jatuh cinta berulang kali, namun cinta pertama selalu mendapat tempat di hati. Benarkah? ataukah cinta pertama hanyalah sedikit kebodohan dan banyak rasa ingin tahu? ✧༺🌹༻✧ Setelah putus d...
