- 35 -

259 19 19
                                        

✧༺🌹༻✧

Untuk terakhir kalinya Amaia mematut dirinya di cermin, merapihkan bagian bawah gaunnya dan sedikit berputar. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, memberikan make up natural lalu menjepit setengah rambut bergelombangnya dengan jepitan berhiaskan berlian zircon.

Malam ini seharusnya menjadi awal dimana Amaia menunjukkan keseriusannya pada Hugo, tapi yang membuat Amaia lebih gugup adalah ia sendiri harus melewati batas yang selama ini tak berani ia lakukan, hadir di depan umum.

Amaia menyemprotkan parfum sebagai sentuhan akhir lalu membuka pintu kamar mandi, Hugo yang tengah mengenakan jam tangan di depan cermin lemari langsung menatap ke arahnya.

"Bagaimana penampilanku?"

Hugo dengan cepat merapatkan rahangnya, "Cantik, seperti biasa." Amaia tidak hanya cantik tapi mengenakan gaun yang mencuri perhatian Hugo.

Amaia mengenakan gaun putih dengan ornamen berwarna biru yang Hugo belikan di hari keduanya putus. Gaun itu sangat cantik tapi memiliki kenangan yang begitu buruk, Amaia berpikir gaun ini akan tepat untuk menemaninya membuat kenangan baru.

"Aku tak perlu mengatakan kau juga terlihat tampan kan?"

Hugo tertawa lebar sambil menggelengkan kepalanya, "Aku tau aku tampan."

Amaia memutar bola matanya sebal, lalu mengambil coat linen sepaha dan mengenakannya.

"Bentley atau Ferrari?" Hugo mengangkat kedua kunci mobilnya.

Amaia mengikik, "Astaga, pertanyaan itu terdengar terlalu fancy. Otakku kesulitan untuk memprosesnya."

Hugo ikut tertawa bersama Amaia, ia selalu suka kejujuran dan kepolosan gadis itu. Bagi Hugo, kualitas Amaia ini lah yang selalu bisa membuatnya untuk tetap merunduk ke tanah meski ia bisa membeli apapun yang ia inginkan dalam satu jentikan tangan.

"Dulu pilihanku sebatas membeli sekaleng protein shake atau membeli sepatu baru."

"Aww..." Ujar Amaia sambil memegangi lengan Hugo, merasakan lapisan otot liat dibawah cardigan yang ia kenakan, "Lihat seberapa jauh kau sudah melangkah."

Hugo mengangangguk, "Semoga aku tidak menghancurkan itu."

"Tidak akan." Amaia mengusap lengan Hugo ke atas dan ke bawah, mengirimkan sensasi menggelitik di perut Hugo yang memberikan rasa tenang. "Aku yakin kau tidak akan menghancurkan karirmu sendiri."

Kepercayaan Amaia pada dirinya lebih membawa ketenangan dibanding gerakan tangannya yang maiah terus bergerak ke atas dan ke bawah.

Memilih karir menjadi pemain sepak bola tidak hanya membutuhkan skill dan ketahanan tubuh. Tapi juga hubungan sosial dengan sesama pemain dalam satu klub. Jika hubungan kalian buruk, seprofesional apapun sikapmu, perlahan itu akan menghancurkan harmonisasi dalam tim. Itu masih masalah internal, masalah lain bisa muncul dari luar. Seperti kebiasaan buruk untuk mengkonsumsi alkohol yang berlebih, sikap buruk di tempat umum bahkan urusan soal wanita. Sepak bola di Eropa lebih dari sekedar pekerjaan, tapi juga bisnis. Saat image yang kau tampilkan buruk, itu akan berpengaruh pada klub dan sponsor yang mendukung klub tersebut.

Hugo menghela nafas, menarik tangan Amaia kembali yang beberapa detik yang lalu melepaskan diri dari lengannya.

"Aku mungkin butuh seseorang untuk terus mengingatkanku." Hugo memberikan lirikan rendah pada Amaia.

back to youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang