- 48 -

219 21 24
                                        

✧༺🌹༻✧

Menit-menit setelahnya dilewati begitu cepat. Hugo, Amaia, Mateo dan Lorea menaiki SUV milik Orangtua Hugo. Sementara Raoul langsung tancap gas dengan Sara.

Hugo membawa kendaraan itu cepat di jalanan, situasi di dalam mobil begitu sunyi, yang terdengar hanyalah suara isak tangis Amaia.

Sesampainya dirumah sakit, mereka disambut aroma antiseptik dan langsung menuju ruang tunggu. Ada Raoul, Sara dan Martina. Meski melihat ketiga orang itu berada di ruangan yang sama terlihat sangat canggung, tapi tak satupun memiliki tenaga untuk membahas itu. Semua orang khawatir pada Abuela.

"Apa yang terjadi?" Amaia langsung mendekati Martina yang berjalan ke arahnya. Raoul tampak duduk dengan wajah tegang dan tak tertarik mendengarkan apapun yang keluar dari bibir Martina, ia sudah tau ceritanya lebih dulu.

"Abuela tiba-tiba menyentuh dada kirinya dan kesakitan."

"Tapi sebelumnya Abuela tampak baik-baik saja." Ujar Amaia, menolak menerima fakta bahwa neneknya terkena serangan jantung.

"Aku tau, tapi semuanya berjalan begitu cepat. Maafkan aku Amaia." Ujar Martina, mana coklat terangnya penuh air mata.

Sara mendekat dan merangkul Amaia, "Amaia, duduklah dulu. Para dokter pasti melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Abuela."

Amaia menuruti Sara dan kembali duduk. Hugo dengan cepat menarik gadis itu ke pelukannya. Memberikan tempat yang aman bagi kekasihnya untuk menangis.

5 menit, berubah menjadi 10 menit yang panjang. Lalu 15 menit. Tangis Amaia sudah berhenti, tapi ia terus dibayang-bayangi rasa khawatir. Ini bukan serangan jantung yang pertama bagi Abuela, dan Amaia sudah sering mendengar serangan yang kedua lebih fatal dari yang pertama.

Setelah 20 menit, pintu ruang operasi terbuka. Dua orang dokter keluar dari pintu operasi. Langkahnya cepat tapi wajahnya serius.

Oh tidak.

Saat serangan jantung menyerang, kemungkinannya hanya dua. Pasien bisa sembuh, tapi tak lagi sama. Atau...

"Maaf, kami tidak berhasil menyelamatkan Nyonya Aida."

Amaia refleks memutar tubuhnya dan melangkah keluar area ruang tunggu. Ia tak sanggup mendengar apapun yang keluar dari mulut dua dokter itu.

Abuela sudah meninggal, tak ada lagi yang perlu aku dengar.

"Amaia!"

Amaia menoleh saat mendengar Hugo memanggilnya, ia menoleh tapi terus berjalan menjauh.

"Amaia!" Dalama beberapa langkah besar Hugo mengejar Amaia.

"Aku harus pergi dari sini." Ujar Amaia cepat, tatapannya nanar. Bola mata birunya menatap ke segala arah, tapi tak ada air mata di kedua matanya.

"Amaia-" Hugo menangkap lengan Amaia dan mencoba menahan gadis itu dari melarikan diri.

"Hugo, aku tidak mau ada disini."

"Amaia, jangan lari dari masalah."

"Aku tidak mau ada disini."

back to youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang