- 44 -

282 25 42
                                        

✧༺🌹༻✧

Amaia dan Hugo bangun pagi-pagi. Meski keduanya baru mendapatkan kamar pukul 2 pagi, tapi keduanya tak berniat membuang banyak waktu dengan bersantai di kamar hotel. Semua kesenangan yang terjadi di atas awan bisa menunggu hingga keduanya tiba kembali di rumah mereka di Sevilla nanti.

Keduanya keluar dari hotel pukul 7 dan langsung menuju rumah Hugo karena berada lebih dekat dengan Hotel.

Sesaat sebelum kepindahannya ke Sevilla, Hugo memberikan orang tuanya rumah baru. Sebuah rumah petak dengan halaman yang luas untuk bercocok tanam dan peternakan untuk diurus ibunya. Sementara Ayahnya masih bekerja sebagai staff pemerintahan Kota dan memutuskan baru akan pensiun jika Elias sudah mendapatkan klub yang bagus untuk memulai karir sepakbolanya seperti Hugo.

"Mama!" Pekik Hugo saat melihat wanita berrambut pirang membuka pintu. Wanita itu mengenakan baju tanpa lengan yang menunjukkan perbedaan warna kulit yg signifikan dengan wajahnya yang terlihat sangat terang. Rambut pirangnya tampak terlihat pucat karena sebagian besar sudah berubah menjadi uban.

"Hugo!" Wanita itu langsung memeluk anaknya lalu dengan cepat beralih ke Amaia, "Amaia, apa itu kau?"

Amaia langsung memicingkan matanya menatap Hugo dan melemparkan tawa canda, "Apa Hugo pernah membawa perempuan lain? Halo Francesca."

"Kau terlihat semakin cantik." Puji Francesca, meletakkan sebelah tangannya di pipi Amaia dan gadis itu tersenyum semakin lebar.

Francesca tampak merangkul Amaia erat dan terlihat lebih merindukan gadis itu daripada Hugo, anaknya sendiri. Dan itu sama sekali tak mengejutkan bagi Hugo, karena ibunya memang sudah sejak lama menyukai Amaia. Hugo bisa melihatnya sejak hari pertama keduanya bertemu. Amaia adalah anak perempuan yang selalu diidam-idamkan Francesca karena gadis itu suka berada di dapur, berbeda dengan Agnes yang pemberontak dan lebih suka berlarian dengan adik-adik lelakinya.

"Dan kau luar biasa Francesca, juga yang kau lakukan. Rasanya aku ingin memetik setiap bunga yang ada disini." Amaia menatap setiap bunga yang mekar di halaman rumah Francesca. Lantanas, Bluebell, Carnation, semua bunga itu mekar memercikkan berbagai warna pada halaman hijau yang mendominasi taman.

"Aku merawatnya lebih intensif tahun ini, jadi mereka masih mekar di acara pernikahan kalian. Aku ingin kalian menikah di rumah ini. Hugo sudah mengatakan itu padamu, kan?"

Darah seperti tersedot dari wajah Hugo dalam satu detik dan kini ia tampak canggung. Francesca bisa membaca air muka Hugo dan seketika ikut merasa canggung. Tapi Amaia dengan cepat tersenyum dan menyelamatkan situasi.

"Tentu saja Hugo sudah mengatakan itu, tamanmu sempurna untuk acara pernikahan." Amaia tersenyum lebar dan menyetujui kalimat Hugo.

Seketika senyum menghias wajah Francesca, "Benarr, masuklah, kalian sudah sarapan?"

"Kami akan keluar lagi, aku akan menemani Amaia mengurus sesuatu." Ujar Hugo, tapi langsung berjalan ke dapur.

"Toko barumu ya kan? Aku tak sabar menunggu tokonya buka dan memberitaukan semua orang kue disana diciptakan anakku." Ujar Francesca cepat sambil tertawa.

Hugo hanya menggelengkan kepalanya, "Mama, aku anakmu. Dan kau belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku."

Francesca membelalakkan matanya kaget, "Astaga aku lupa." Wanita itu langsung mendekati anaknya dan memeluk Hugo, "Selamat Ulang tahun." Ujarnya pendek.

Hugo memutar kedua bola matanya, terlihat berpura-pura kesal, tapi tetap membalas pelukan ibunya, "Merci."

"Astaga, itu kah alasan Agnes juga pulang? Ia mengabari tadi pagi terbang dari Sevilla." Francesca yabg tampak baru memasangkan teka-teki kepulangan kedua anaknya kini terlihat panik.

back to youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang