- 32 -

223 19 30
                                        

✧༺🌹༻✧

Setelah keluar dari Apartemen Sara, Amaia mengikuti Hugo berjalan menuju mobil yang diparkir di pinggir jalan. Saat sudah dekat Hugo langsung membuka kunci mobilnya dan membukakan pintu untuk Amaia.

"Oh, gracias." Ujar Amaia sambil memasuki mobil.

"De rien." Balas Hugo yang menutup pintu dan tersenyum, lalu cepat-cepat berjalan ke pintu di sisi lain mobil.

Jawaban pendek Hugo meninggalkan senyum simpul di bibir Amaia.

Keduanya memiliki sejarah panjang, mulai dari berteman, berpacaran dan bertunangan. Dan ada satu hal yang menarik dari cara keduanya berkomunikasi. Mereka seringkali saling menjawab satu sama lain dengan bahasa yang berbeda, karena keduanya memiliki latar belakang yang berbeda. Kadang Hugo bertanya dalam bahasa Perancis dan Amaia menjawabnya dengan Bahasa Spanyol, kadang sebaliknya. Kini, Amaia baru menyadari betapa ia merindukan kebiasaan itu.

Hugo meletakkan kunci mobil Bentley-nya di bagian tengah kursi dan menyalakan mesin mobilnya. Dalam hitungan detik setelah mesin menyala, terdengar lagu yang cukup kencang, tepat saat memasuki chorus.

"I know you love her, but it's over, mate. It doesn't matter, put the phone away."

Hugo tanpa ragu menyanyi kencang mengikuti lirik. Terdengar nadanya tidak pas, tapi suaranya yang besar dan dalam menutupi itu. Amaia yang yang tengah memasang sabuk pengaman sampai menengok kaget ke arah Hugo. Tapi lelaki itu dengan santai membawa mobilnya jalan di jalanan Sevilla yang cukup sepi akhir pekan itu.

"It's never easy to walk away, let her go. It'll be alright"

Lalu Amaia menyadarai sesuatu, bahwa Hugo tak peduli dengan suaranya, ia seakan ingin mengarahkan lirik yang baru saja ia nyanyikan pada Amaia. Karena saat Hugo menyebutkan kalimat terakhir ia sengaja mengarahkan wajahnya pada Amaia karena ada pesan yang ingin disampaikan.

Melihat Hugo yang seakan mengajaknya bercanda, Amaia lalu memberanikan diri untuk merespon nyanyian Hugo.

"Jadi kau akan melepaskanku?" Tanya Amaia dengan senyum tipis. Berusaha menahan nyeri di dada yang tiba-tiba muncul saat mengatakan kalimat itu.

Hugo melirik Amaia sejenak sebelum kembali menatap jalanan di depannya. Ia beberapa kali menatap kaca spion samping meski jalanan tidak ramai, tampak mengulur waktu sebelum menjawab.

Saat kedua mata mereka kembali bertemu Hugo hanya tersenyum dan kembali bernyanyi mengikuti lirik lagu, "It'll be alright..."

Amaia menyandarkan tubuhnya kembali ke jok kursi dan mengulang kalimat yang dinyanyikan Hugo di dalam kepalanya.

Amaia menganggukkan kepalanya, "It'll be alright."

Kembali pada Hugo atau tidak. It'll be alright.

Hugo yang bisa mendengar gumamman Amaia melirik pada gadis itu sejenak, ia tak menyangka Amaia akan merespon candaannya seperti itu. Kini, ia terjebak dalam permainannya sendiri dan tidak tau langkah selanjutnya apa. Ia tak bermaksud membuat Amaia berpikir ia ingin menyerah.

"Selain Txangirro kau mau makan apa lagi?" Tanya Amaia santai sambil menatap Hugo.

Hugo dengan cepat mengerjapkan matanya, kaget dengan pertanyaan gadis itu. Hugo pikir keduanya akan terus diam sepanjang perjalanan mereka seperti terakhir kali.

back to youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang