💝💝💝💝💝💝💝
Sekitar jam 11 siang, ayahnya Marcello Abraham datang untuk menjemput mamahnya Angelina yang sekarang sedang berpura-pura sakit demi bisa berbaikan dengan suaminya. Theo akui papahnya ini memang sangat posesif tapi sebenarnya hatinya lembut dan panikan, walaupun gengsinya lumayan tinggi.
"Ilham, aku minta maaf," kata Angelina pada suaminya.
Theo melihat itu ya langsung kabur, ngga mau mengganggu.
Kalo kalian tanya, kenapa papahnya di panggil Ilham? Karena, panggilan tersebut merupakan panggilan dari sang mamah pada saat awal-awal pdkt. Kata mamah, Marcello terlalu susah, jadi mamah menyingkat nama papah menjadi Ilham. Cello, El. Abraham, Ham. Elham. Ilham.
Emang ngga nyambung tapi di sambung-sambungin aja.
Papah juga setuju-setuju aja di panggil Ilham, bahkan sampai sekarang lelaki paruh baya tersebut di panggil Om Ilham sama temen-temennya Theo.
Beberapa menit kemudian, kedua orang tuanya pamit pulang setelah berbincang banyak. Theo merasa mereka sudah berbaikan.
"Bang, semua harus beres ya. Jangan berantakan." Angelina mencium kening Theo.
Ilham pun melakukan yang sama. "Jorok banget kamar kamu," ledeknya.
Sebenarnya tuh bersih, cuma kadang Theo suka naro barang sembarangan terutama kaos kaki. Alhasil, ruangannya terlihat berantakan.
"Iya nanti abang bersihin," balas Theo. "Papah jangan kerja mulu lah. Ajak mamah jalan-jalan sana. Honeymoon lagi gitu,"
Ilham mendengus pelan. "Anak kecil tau apa?"
"Banyak."
"Udah ah, ayo udah pulang, pah." Angelina memeluk lengan suaminya dan berjalan keluar.
Setelah kedua orang tuanya pergi, Theo memilih untuk rebahan di bean bag balkon sambil bermain hape. Menceritakan tentang kelucuan orang tuanya pada teman-temannya dan berakhir dengan topik pengajian.
Agra dan Gio memang selalu ada keinginan untuk belajar mengaji, katanya biar kalo jadi suami bisa ngajarin istri sama anak-anaknya nanti.
Oleh karena itu, Agra meminta mamahnya untuk menyewa guru ngaji. Tadinya hanya mereka berdua aja tapi karena Gio ngga suka sepi, makanya, Jeano dan juga Theo di ajak untuk ikut belajar.
💝💝💝💝💝
Theo ke rumah Agra hanya menggunakan sarung dan kaos hitam polos, pergi menggunakan mobil. Mereka memang janjian setelah sholat magrib dan ngga tahu kenapa kalo udah urusan ngaji atau agama semuanya ngga pernah ada yang telat, pasti selalu tepat waktu.
Mobil sudah terparkir di pekarangan rumah Agra yang lumayan besar. Theo turun setelah mematikan mesin mobil. Berjalan ke teras depan, bertemu tatap dengan Keynzo yang sedang merokok. Cowo itu tertawa ke arahnya.
"Anj, kok pake sarung?" tawa Keynzo.
"Ganteng gitu ya gue?"
Keynzo sengaja menggeleng. "Kek bocah SD pulang dari masjid, tapi muka bangkotan."
Theo berdecih pelan. "Lah, lo ngapain disini? Mau login beneran?"
"Kaga anjir, gue kuat iman." Keynzo meletakkan putung rokoknya di asbak. "Abis kalian ngaji, kan, mau main ps. Ya gue ikut lah."
Agra dan Gio muncul dari dalam. Penampilannya sama persis kayak Theo, sarungan sama kaosan. Lucu deh mereka.
"Sarung lo kenapa samaan kayak gue anjir?" tanya Gio paling ngga suka kalo ada orang yang berpakaian persis sama yang kayak yang dia pake.

KAMU SEDANG MEMBACA
Who Am I? [END]
Teen Fiction── ALYA THEO There is no way for us Because, All the pain with us ©2023 / Kookiesbyjein noted : guys aku berterima kasih banyak bagi kalian yang sempetin waktu untuk baca dan ngasih vote di setiap chapternya dan ini beneran murni cerita karangan aku...