49.

15 1 18
                                    

"Bu dosen siapa dah namanya yang kena skandal itu?" Keynzo duduk di antara gerombolan cewe-cewe mata kuliah Estetika Bentuk. "Gua liat di base katanya gurunya langsung di pecat?"

"Bu siapa gitu... ga kenal."

"Lahhhh," Keynzo menghela nafas kecewa. Ia kira akan dapat bahan gosip hari ini. "Lu pada ga update apa gimana?"

"Lu ngapain sih ngurusin kayak gitu?" decak Theo yang duduk di sebrang tempat Keynzo duduk.

Keynzo melirik Theo lalu menghampiri temannya itu. "Lu tuh harus update ingfo beginian," kekehnya bangga.

"Ngga guna anjrit," cibirnya. "Mending tuh nyari gosip artis luar."

"Sama aja ngga ada bedanya," Keynzo memutar bola matanya malas. "Shawn Mendes noh putus sama Camila Cabello,"

Theo berdecak pelan. Cowok itu memandang Keynzo malas. "Ngomong sama Jean sana, gua ngga suka Camila."

"Terus sukanya siapa?"

"Alya."


Keynzo lantas memandang Theo datar.

Hingga detik berikutnya, Keynzo memegang dadanya sangat dramatis. Niatnya sih meledek. Karena ucapan seperti ini memang sering keluar dari bibir Theo meskipun selalu terdengar seperti bualan semata.

"Terus Alya sukanya siapa?"

Theo mendengus. Sepertinya pertanyaan itu tidak usah di jawab lagi karena orang-orang juga tahu Alya sukanya siapa.

"Suka gua," jawab Theo yakin.

Keynzo lantas tertawa meledek. "Mang iya apa?"

"Iya anjir udah diem," ketus Theo.

"Eh, Yo!" panggil salah satu teman matkulnya dari depan pintu.

Theo pun menoleh kearah sumber suara. "Kenapa, bro?"

"Ada Bang Eran nih,"

Bang Eran yang di maksud disini adalah Pangeran.

Ketua BEM yang super sibuk dan baru kelihatan hari ini.

Theo berjalan kecil untuk keluar dari deretan kursinya di ikuti Keynzo karena cowo itu sudah pasti kepo. Theo keluar dari pintu dan langsung bertatap muka dengan Pangeran juga Agra.

Tumben-tumbennya kakak tingkatnya itu menyusulnya di kelas.

"Lu di telfon ngga di angkat anjir," keluh Agra.

Theo pun refleks meraba-raba kantungnya lalu menepuk dahinya sendiri karena bisa-bisanya ponselnya tertinggal di apart.

"Ketinggalan ternyata,"

Pangeran mendengus. "Berapa matkul lu hari ini?"

"Satu doang sih," Theo memasukkan tangannya di saku, mukanya kembali santai. "Untung cuma satu jadi gua langsung cabut aja nanti,"

"Jangan cabut dulu dah," sela Agra mendadak serius.

Keynzo yang tingkat kekepoan yang sangat tinggi jadi dramatis. "Kenapa woy kenapa?"

"Ck, gausah lebay," decak Agra. "Sini dah ngobrol ke tempat yang agak sepi."

Mereka pun menepi di lorong yang tidak di lalui banyak orang.

"Kenapa buru?!" cerca Keynzo tak sabaran.

"Bang Ian ngehajar Hugo lu tau ngga?" Agra membuka ponselnya dan menunjukkan foto Hugo terkapar di jalanan. "Liat nih,"

Melihat foto itu lantas membuat Theo apalagi Keynzo refleks merinding.

"Ngapain emang dia?"

"Dari dulu kan emang sableng tuh bocah," Pangeran menghela nafasnya jengah sendiri. "Dia ngelecehin ceweknya bang Ian makanya langsung di hajar abis-abisan."

Who Am I? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang