48

12 1 1
                                    

Theo keluar dari lift terburu-buru. Takut kurir yang Alya maksud menunggunya lama. Untungnya saat sampai depan unitnya tidak ada siapa pun atau barang di depannya.

Theo mengatur nafasnya terlebih dahulu.

Lalu, cowok itu mengambil ponselnya untuk menelfon Alya memberikan kabar.

"Halo sayang,"

"Hm."

"Aku udah di apart tapi kayaknya kurirnya ngga ada," Theo masih menoleh ke kanan dan kiri. "Apa belum sampe ya?"

"Kamu telat," Nada bicara Alya berubah ketus. "Kurirnya udah balik lagi ke estimasi sebelumnya,"

"Serius, bub?"

"Serius lah masa aku boong?" Alya menghela nafasnya kasar. "Lagian kamu kemana dulu sih? katanya mau bantuin tapi kok lama banget datengnya. 30 menit dari apart Jean ke apart kamu itu bisa loh kalo kamu ngebut," cerocos Alya panjang lebar.

Theo menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku minta maaf... tapi aku udah ngebut. Coba kamu cek lagi lokasinya beneran dia balik lagi atau emang belum sampe."

"Kamu percaya aku ngga si? Kalo aku bilang kurirnya balik lagi ya berarti dia balik lagi. Terserah lah, kamu emang lelet."

Panggilan terputus.

Theo menatap layar ponselnya nyalang. Detik kemudian, matanya terpejam mengumpulkan rasa kesabaran untuk melawan rasa kesalnya.

Jujur, Alya sangat menyebalkan sekarang.

Tapi, Theo tahu cewek itu sengaja membuatnya kesal.

Theo : barang apa yang kamu beli biar aku beli skrg

Alya : gausah ga perlu

Theo : aku minta maaf bub
(Read.)

Theo membuka pintu unitnya. Tubuhnya langsung terhempas di kasur empuk tempat ternyaman nya. Hari ini moodnya di buat berantakan sekaligus.

"Dia pikir dia bisa terus-terusan kayak gini?" Theo menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal. "Kamu pikir kamu bisa kayak gini terus, bub?"

Dering telefon berbunyi.

Indriana is calling you...

Theo segera mengangkat panggilan dari cewek bule tersebut.

"Eh sumpah Jean lagi kenapa sih?!"

Theo menjauhkan ponsel dari telinganya karena Indri berteriak tiba-tiba.

"Dia kayak ngejauhin gua gitu, Yoyo."

Theo terkekeh pelan. "Lu ngelakuin salah apa hayoooo?" jahilnya sengaja.

Indri berdecak di sebrang sana. "Ngga ada."

"Dia ngga mungkin ngejauh kalo ngga ada sebab kan?"

"Iya makanya itu. Cuma kan gua ngga tau salah gua dimana. Dia ada cerita ke lo ngga?"

"Ada sih," Theo sengaja membuat Indri penasaran. "Tapi ya... masa bongkar disini?"

Decakan Indri pun terdengar. Sepertinya cewek itu frustasi dengan sikap Jean yang tiba-tiba menjauh. "Buru kasih tau!"

Theo menggeleng secara refleks. "Ngga ah. Ntar gua di gebukin Jean."

"Ah ilah... terus gua harus mikir sendiri lagi gitu? Gua aja 3 hari ini mikir ngga ketemu salah gua dimana."

"Tapi, ndri..." Theo terdiam sesaat dengan alis yang tertaut, cowok itu baru menyadari sesuatu. "Jean tuh silent treatment ngga sih kalo sama lu?"

Who Am I? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang