🦊🦊🦊🦊🦊🦊
Malam ini, Theo sudah memiliki janji untuk bertemu Bianca di salah satu restoran dekat Starlie High School. Theo memakai pakaian casual dengan aksesoris gelang di kedua tangannya. Ia berjalan ke meja pesanannya, dan melihat Bianca ada disana.
Theo tersenyum sesaat sebelum duduk. "Lama?"
Bianca menggeleng. "Ngga kok, cuma 10 menit aja."
"Aku udah pesen, kamu ngapain ngajakin aku dinner? Kangen kah...?"
"Bi, gua ga mau basa-basi," Theo mengirimkan beberapa foto ke ponsel Bianca. "Stop chat gue lagi, karena gue udah muak."
Bianca memudarkan senyumnya ketika melihat bukti foto Ernest selaku pacarnya memakai narkoba, alamat rumah Ernest, dan foto Bianca tak berbusana di sebuah club namun di blur.
Foto itu Theo dapatkan dari Cara.
"Kebohongan lo waktu nyamperin gue ke studio arsi juga gua tau," ucap Theo pelan.
"Lo mau apa?" tanya Bianca.
"Minta maaf sama Keynzo, balikkin uangnya, dan jangan ganggu hal apa pun yang berhubungan dengan gua atau Keynzo," jelas Theo. "Atau... bukti ini akan gua kasih ke orang yang lebih membutuhkan dari gue,"
Bianca menghela nafasnya. "Salah ternyata gua main-main sama lo,"
Theo tersenyum kecil. "Gua bayar pesanannya sekalian punya lo," Ia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, lalu pergi darisana tanpa berpamitan.
Tujuannya sekarang adalah pergi ke angkringan untuk bertemu dan membantu Alya berjualan. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, bibirnya tersenyum lebar membayangkan muka serius Alya saat berjualan, baginya semuanya sangat lucu dan gemas.
"Bub..." Theo memeluk Alya dari belakang, tangannya mengalung di lehernya.
Alya yang lagi fokus membolak-balikkan sosis jadi terkejut. "Ih, ngagetin aja sih?!" Ia memukul pelan tangan Theo yang masih menempel di bagian depan tubuhnya.
"Kok udah sepi aja?"
"Karena udah mau habis," Alya berjalan mengambil piring dengan Theo yang masih bergelendotan. "Awas dulu!"
"Ngga." Theo malah makin menenggelamkan wajahnya pada leher Alya.
"Malu ih! Ada banyak orang!" Alya melepas paksa kukungan Theo.
"Sejak kapan...?"
Itu suara Abigail.
Mereka berdua menoleh bersamaan.
Alya berdehem, jadi bingung sendiri. "Kenapa, Bi?"
"Kalian... ada hubungan?" tanya Abigail.
Theo mengangguk yakin. "Iya."
"Sejak...?"
"Seminggu yang lalu,"
"Lo suka kak Alya?"
"Iya."
"Tapi... kok gua ga yakin?"
Hal seperti ini wajar kan? Adiknya melihat sebuah titik dari perilaku Theo yang membuatnya ragu.
"Support aja, gua beneran suka," ujar Theo.
"Kalo lo macem-macem berurusan sama gue bang," ancam Abigail membuat Theo terkekeh.
"Iya, santai."
"Ayo beres-beres,"
Theo merapat pada Alya, "Adik kamu serem amat deh," kekehnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Who Am I? [END]
Teen Fiction── ALYA THEO There is no way for us Because, All the pain with us ©2023 / Kookiesbyjein noted : guys aku berterima kasih banyak bagi kalian yang sempetin waktu untuk baca dan ngasih vote di setiap chapternya dan ini beneran murni cerita karangan aku...