Waktu yang di maksud Theo disini adalah menghabiskan malam bersama dengan berpelukan berbagi kehangatan.
Theo membawa Alya masuk ke dalam pelukannya dengan tubuh yang sama-sama tertutupi selimut.
Alya diam-diam menghirup aroma kaus Theo yang begitu memabukkan dan yang selalu membuatnya merasakan rindu jika berada jauh dari cowok ini.
"Aku ngantuk," ucap Alya sambil membuat pola abstrak di dada Theo.
Theo mengelus rambut Alya lembut. "Bobo aja,"
"Boleh dongengin?"
Theo pun terkekeh pelan lalu ia mencium pucuk kepala Alya. "Aku ngga bisa dongeng, bub..."
Tangan Alya yang membuat pola abstrak di dada Theo sekarang berganti alih menjadi melingkar memeluk Theo erat mencari kenyamanan.
Alya pun terkekeh. "Cerita apa aja pasti kamu bisa," katanya.
Theo kemudian terdiam sejenak berpikir dulu tentang apa yang ingin dia ceritakan.
Tapi Theo terlalu lama berpikir membuat Alya mencubit pinggangnya.
"Mana katanya mau cerita?"
Theo tertawa pelan. "Iya ini aku cerita."
"Oke, aku udah siap dengerin."
"Jadi..." Theo menghela nafasnya sejenak. "Dulu tuh aku pernah kenal sama anak cowok umurnya sekitar 11 atau 12 tahun gitu. Anak itu culun banget, pake kacamata terus bajunya selalu gedean."
"Namanya?" tanya Alya.
"Dia ngga punya nama, cuma orang-orang nyebutnya si Culun." Theo kembali mengelus rambut Alya dengan lembut dan kasih. "Dia pernah cerita ke aku kalo kisah dia itu sedih banget. Si culun ini suka sama teman satu sekolahnya cuma di tolak dengan cara yang ngga baik,"
Alya mendongak menatap Theo membuat dagunya bersandar di dadanya. "Si culun ini cowok atau cewek?" tanyanya.
Theo yang gemas pun mencium bibir Alya sekilas. "Cowok sayang kan aku tadi bilang."
Alya pun terkekeh geli. "Oke my bad, terus...?"
"Terus si culun ini ngumpulin keberanian tuh buat ungkapin perasaannya ke cewek itu. Dia nyuri bunga di taman belakang sekolah terus nyamperin kelas ceweknya."
Alya mengangguk penasaran. "Abis itu?"
"He's doing great. Dia berhasil ungkapin perasaannya." Theo tersenyum simpul. "Tapi cewek itu ngga peduli sama si anak culun ini,"
"Why? Kok ngga di peduliin?"
"Karena si culun ini ngga setara sama dia. Si culun ini itu jelek dan mungkin pada zamannya dia paling cocok untuk di jadiin babu."
Alya mengernyitkan dahinya. "Kok gitu?"
"Keluarganya baru bangkrut, makanya culun ini ngga bisa menyesuaikan standard kehidupan temen satu sekolahnya terutama cewek yang dia suka," Theo mengeratkan pelukannya dengan tatapan kosong. "Cewek itu punya cowok dan katanya sih cowok itu cowok paling ganteng di sekolah."
"Tapi cowok itu baik?"
Theo menggelengkan kepalanya. "Anak culun itu langsung di bully satu sekolah. Dia selalu di banding-bandingin sama pacar si cewek. Dia selalu di hina dan di katain jelek. Dia di jadiin babu dan itu berlangsung cukup lama."
"Dan itu cuma karena pengungkapan rasa?"
Theo mengangguk.
"Ngga adil," kata Alya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Who Am I? [END]
Teen Fiction── ALYA THEO There is no way for us Because, All the pain with us ©2023 / Kookiesbyjein noted : guys aku berterima kasih banyak bagi kalian yang sempetin waktu untuk baca dan ngasih vote di setiap chapternya dan ini beneran murni cerita karangan aku...