🦊🦊🦊🦊🦊
Alya membuka pintu mobil tersebut dan menunduk berterima kasih kepada driver bernama Aris. Ia pun berjalan membuka pintu gerbang di bantu pak Sutono yang menjaga karena pak Galih sedang cuti karena keluarganya ada yang sakit di kampung. Disana ada Abigail juga yang sudah koloran mengobrol dengan Bibi di ruang satpam.
"Non, udah lama ngga kesini," ucap pak Sutono tersenyum sumringah.
"Iya nih pak," balas Alya, lalu melambaikan tangan pada Abigail. "Sampe jam berapa?"
"Jam 11 siang," Abigail langsung merangkul kakaknya. "Gua dapet lampu ijo dari kak Indri,"
Alya mendelik kaget sampai menutup mulutnya. "Serius?!"
"Iya, gua mau chat kak Alya lupa mulu,"
"Anjir, terus Jean?"
"Au dah, sahabat doang dia bilang mah, gua sih gas-gas aja,"
"Gila," Alya terkekeh bangga. "Nyali lo keren, Bi, sumpah."
Bibi dan pak Sutono memandang mereka dengan perasaan hangat. Mungkin karena mengingat mereka dulu seperti orang yang tidak saling kenal sejak kecil, namun justru berbanding terbalik dengan kondisi sekarang dimana mereka malah menjadi saudara layaknya saudara kandung.
"Terharu kalo ngeliat kalian akur tuh," Bibi mengusap air matanya yang jatuh. "Dulu ngeliatnya cuek-cuek gitu sekarang udah peluk-pelukan gini,"
"Iya ya Bi, takdir Tuhan tuh emang bagus banget,"
Alya dan Abigail saling bertukar pandang, lalu tertawa pelan, berikutnya mengajak pak Sutono dan Bibi masuk ke dalam rengkuhan mereka.
"Eh!" pekik Bibi saat Abigail mengangkatnya sambil memutar.
Alya dan pak Sutono tertawa terbahak-bahak.
"Mas Abi! Bibi udah tua!" Bibi memukul pelan Abigail, namun cowo itu belum mau menurunkannya.
"Bi! Turunin kasian!" titah Alya masih tertawa.
Abigail pun menurunkan Bibi lalu ngacir kabur masuk ke dalam rumah karena Bibi sudah siap memukulnya kembali.
Alya pun pamit kepada mereka berdua untuk segera masuk ke rumah.
"Kek, Alya dateng!!" seru Alya berlari ke pelukan kakeknya yang sedang mengelus peliharaan baru yaitu Anjing.
"Ya ampun! Anak cewe ini inget pulang toh!"
"Hehehe. Udah lama ya?"
"Iya. Kamu ninggalin kakek hampir 2 bulan, cuma ngabarin di telfon doang!"
"Telfonan juga setiap hari kan?"
Kakek berdecak. "Gimana jualan mu?"
"Rame, alhamdulillah,"
"Bagus-bagus... nanti kakek ajakin temen-temen kakek mampir,"
"Boleh banget dong..."
Tante Meriska muncul dari atas bersama Cassie yang beradaa dalam gendongannya. "Al, makin cantik aja sekarang... beda sama yang dulu kusem,"
Alya mengusap kedua pipinya. "Masa sih, Tan?"
"Iya, aura bahagianya keliatan banget. Punya pacar kamu?" Tante Meriska duduk di sofa, di sebelah Abigail.
Di tanya begitu, pikiran Alya pun tiba-tiba terlintas satu nama. Siapa lagi kalo bukan, Theo Abraham?
"Kerjaannya kan pacaran sekarang," cibir kakaknya dari pintu depan.
Semua orang pun menoleh pada Caitlin. Dan bertepatan dengan itu suasana hati Alya mulai berubah bercampur aduk.
"Baru kuliah 2 minggu udah dapet kating," cibirnya setelah bersalaman dengan kakek dan kini duduk di hadapan Alya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Who Am I? [END]
Novela Juvenil── ALYA THEO There is no way for us Because, All the pain with us ©2023 / Kookiesbyjein noted : guys aku berterima kasih banyak bagi kalian yang sempetin waktu untuk baca dan ngasih vote di setiap chapternya dan ini beneran murni cerita karangan aku...