Bab 53

247 6 0
                                        

***

"Maaf ya, Bro. Gue nggak sempat datang ke pernikahan lo. Vina ada keperluan mendadak, padahal lo udah ngirim undangan buat acara sebelum akad juga."

Rendra berdiri santai di unit apartemen Hardi sambil mengenakan piyama abu-abu gelap. Meski datang tanpa istrinya, dia membawa sebuah kotak hadiah besar sebagai bentuk permintaan maaf karena tidak sempat hadir di resepsi.

Tatapan Hardi langsung tertuju pada kotak persegi panjang yang dibungkus kertas polkadot warna-warni.

"Kadomu gede juga," komentarnya heran.

"Buka aja," sahut Rendra sambil bersedekap di dekat kulkas. "Itu gue sama Vina patungan, tahu."

Tanpa banyak bicara, Hardi mengambil cutter kecil dan mulai membuka kardus tersebut dengan hati-hati.

Namun begitu isi pertama berhasil dia keluarkan, ekspresinya langsung berubah aneh.

"Tunggu ..." Hardi mengangkat sepotong pakaian wanita berwarna ungu gelap yang masih terbungkus plastik bening. "Lingerie?"

Dia memandang Rendra dengan tatapan tidak percaya.

"Loh, mana ada celana dalamnya juga?"

Rendra malah tertawa terbahak-bahak.

"Yaelah, namanya juga hadiah buat pengantin baru!"

Hardi menggeleng pelan sambil terus membongkar isi kotak itu satu per satu. Semakin lama, ekspresinya makin sulit dijelaskan.

"Benar-benar nggak normal isi hadiahnya."

Sejak resign dari FoodBeary, hubungan Hardi dan Rendra memang tak pernah berubah. Meski sudah tidak lagi menjadi rekan kerja, Rendra tetap menganggap Hardi sebagai sahabat terbaiknya.

Beruntung pula mereka tinggal di apartemen yang berdekatan, sehingga Rendra sering mampir hanya untuk ngopi atau mengobrol santai di unit milik Hardi.

"Hah?" Hardi kembali berseru pelan saat menemukan sebuah toples besar di dasar kardus. "Kue cokelat?"

Toples itu dibungkus bubble wrap rapi agar tidak pecah.

"Nah itu," ujar Rendra sambil berjalan mendekat ke meja makan bundar tempat Hardi membongkar hadiah. "Adel kan suka banget cokelat."

Rendra menyelipkan kedua tangan ke saku piyamanya sebelum melanjutkan ucapannya.

"Gue pernah pacaran dua bulan sama Adel. Jadi gue tahu seleranya."

Kalimat itu membuat Hardi spontan melirik sahabatnya.

"Jujur aja," lanjut Rendra santai, "gue sebenarnya merasa nggak pantas kasih apa pun buat Adel. Tapi lo sahabat gue, dan sekarang dia istri lo. Jadi ya ... gue kasih aja yang sekiranya kalian suka."

Hardi yang mendengarnya langsung tersenyum kecil.

"Lagipula, kalau dipikir-pikir, lo sama Adel memang cocok banget. Selera kalian mirip."

Hardi mengangguk pelan, sadar itu memang benar.

Dirinya dan Adelia punya banyak kesamaan, terutama soal makanan manis. Setiap kali Adelia datang ke apartemennya, stok kue cokelat hampir selalu habis lebih dulu.

Bahkan dalam keadaan sedih sekalipun, cokelat selalu berhasil memperbaiki suasana hati mereka.

Mengingat itu membuat Hardi tanpa sadar tersenyum sendiri.

"Wih," goda Rendra sambil menyipitkan mata jahil. "Sahabat gue lagi kesemsem banget nih kayaknya."

Hardi terkekeh pelan.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang