Bab 54 (End)

357 8 0
                                        

***

Hardi membaca surat dengan perasaan campur aduk. Tatapannya bergerak dari kalimat ke kalimat, dan sesekali dia tersenyum pelan atau mengernyitkan kening. Setelah selesai membaca, dia memandang hadiah-hadiah yang tersusun rapi di sekitarnya.

Plastik pembungkus hadiah dilepaskan dengan hati-hati.

Satu set sprei berwarna krem lembut.

Dua pasang piyama biru muda.

Lampu nakas kecil dengan cahaya hangat.

Di bagian bawah kardus, Irma juga menyisipkan satu set panci merah muda dan seperangkat pisau dapur. Dalam catatan kecil di ujung surat, Irma menuliskan bahwa hadiah itu khusus untuk Adelia.

Tanpa sadar Hardi tersenyum kecil.

Irma memang selalu tahu selera mereka.

Piyama biru muda pasti akan disukai Adelia. Lampu nakas itu juga cocok untuk menciptakan suasana hangat di kamar mereka nanti. Begitu pula panci dan pisau dapur yang jelas akan berguna setelah mereka mulai hidup bersama sebagai pasangan suami istri.

Hardi menghela napas pelan.

Kini semuanya terasa jauh berbeda.

Tidak ada lagi rasa benci yang tersisa di dalam dirinya.

Yang ada hanyalah penerimaan bahwa hubungan mereka memang sudah selesai ... dan masing-masing akhirnya menemukan jalan hidup sendiri.

Sekilas Hardi melirik jam di dinding.

Masih pagi.

Adelia juga masih bekerja di kantor.

Sementara dirinya kini resmi tidak lagi bekerja di Oradi. Setelah mengundurkan diri, posisi manajer digantikan oleh Pak Gunawan, sosok yang dulu sempat membimbingnya saat awal bergabung di sana.

Beberapa hari lagi, Hardi akan mulai bekerja di TimeY.

Perusahaan besar dengan gedung tinggi dan pemandangan kota yang selama ini sering dibicarakan banyak orang.

Ketika Hardi hendak merapikan kembali hadiah-hadiah tadi, ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Dari istrinya. Adelia.

Halo, Mas? Aku ke unit 20-9 ya nanti sore. Aku mau lihat bintang lagi di balkon.

***

Malam turun perlahan.

Langit tampak cerah, dipenuhi bintang-bintang yang bersinar indah di atas kota.

Hardi dan Adelia berdiri berdampingan di balkon apartemen, menikmati suasana malam yang tenang sambil memandang hamparan langit.

Sudah cukup lama mereka tidak menikmati momen seperti ini bersama.

Tidak banyak percakapan di antara mereka.

Hanya suara angin malam yang sesekali berembus lembut.

Adelia tampak jauh lebih antusias. Matanya berbinar menatap langit, sementara bibirnya beberapa kali mengucapkan kata "wah" pelan karena kagum.

"Aku tuh nggak habis pikir," ucapnya sambil menoleh pada Hardi. "Kamu yang beli unit ini pasti puas banget bisa lihat bintang tiap malam."

Hardi tersenyum kecil mendengarnya.

Lalu Adelia kembali membuka suara, kali ini dengan nada lebih hati-hati.

"Mas ... sekarang aku boleh panggil begitu lagi?"

Hardi tampak bingung sesaat.

"Maksudnya?"

Adelia menggigit bibir bawahnya pelan.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang