Samudra Arkasana
"Kalian nunggu gua matikan? Tunggu sebentar lagi, sedang diusahakan"
Angkasa Nathan Wijaya
"Kalian cuma berusaha buat gua tetap hidup, tanpa pernah bertanya apa alasan gua ingin terus hidup"
Aurora Raza Derandra
"Sesekali tanyaka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Angkasa membuka matanya perlahan, memperhatikan sekitar, lagi-lagi ruangan putih ini yang menyambutnya. Kali ini sudah berapa lama dia tertidur?
Angkasa mencoba merenggangkan tubuhnya, kemudian dia melihat ke arah samping, alat yang berbunyi mengikuti detak jantungnya. Sebenarnya Angkasa sudah sangat capek berjuang melawan sakitnya itu, tapi dia juga belum siap meninggalkan semua yang ada disini. Sekarang Angkasa hanya bisa mengikuti alur yang sudah di siapkan takdir.
"Clek" Bunyi berasal dari seseorang yang baru saja membuka pintu dan berjalan masuk ke ruangan Angkasa.
Membuat Angkasa kembali menutup matanya.
Samudra yang baru saja balik membeli sebotol minum, setelah meletakkan belanjaannya. Samudra mendekat ke sisi ranjang Angkasa. Samudra memperhatikan Angkasa yang masih setia berbaring di ranjang itu. Ini sudah hari ke empat.
"Bangun gak lo asa" Ujar Samudra mengeluarkan tisu basah dan mulai membersihkan tangan Angkasa.
"Ini terakhir, kalau besok lo masih gak bangun bodo amat lo bau" Ujar Samudra kini membersihan leher Angkasa, dia tidak ingin Angkasa merasa tidak nyaman.
Angkasa sebenarnya mendengar semua itu, dia sudah sadar sejak tadi. Saat Angkasa hendak membuka matanya mengakhiri mengerjai Samudra. Dia mengurungkan niatnya saat mendengar Samudra meminta maaf.
"Maaf" Lirih Samudra.
"Maaf, ya asa lo harus ngerasa sakit selama ini"
"Capek ya asa?" Ujar Samudra menghirup nafasnya, merasa oksigen disekitarnya menipis.
Melihat Angkasa berjuang melawan sakitnya, entah berapa banyak obat yang sudah masuk ke tubuh itu. Entah sudah berapa kali terapi yang sudah dia jalani. Angkasa menderita penyakit jantung bawaan saat dia lahir. Membuat dia harus melewati serangkaian pengobatan. Sayangnya pengobatan tiada ujung. Lebih tepatnya segala pengobatan itu hanya untuk meredakan gejala dan menghambat perkembangan penyakit ini. Satu-satunya cara adalah operasi transplantasi jantung dan itu tidak mudah. Kadang hanya untuk sekedar bernafas itu sangat menyakitkan bagi Angkasa.
"Asa gua tau, sakitkan?"
"Tapi gua masih egois, nyuruh lo harus tetap bertahan"
"Lo harus bertahan, sampai dapat donor oke?"
"Lo pasti dapat donor, kalau gak lo boleh ambil punya gua" Ujar Samudra terkekeh pelan.
"Udah ah, capek ngomong sama orang tidur"
"Kaya orang gila gua ngoceh sendiri"
"Awas aja lo besok gak bangun, akun game lo gua hapus" Ujar Samudra menjauh dari ranjang Angkasa.
"Coba aja kalo lo berani" Saut Angkasa.
Sontak saja Samudra kaget tiba-tiba ada sautan dari ocehannya. Dia bergegas memastikan Angkasa benar-benar bangun.