Chapter 24

175 16 0
                                        

Bayangan Aurora menangis sendirian, terlebih penyebab kali ini adalah dirinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bayangan Aurora menangis sendirian, terlebih penyebab kali ini adalah dirinya. Yang membuat Samudra duduk di sebuah taksir meminta sopir taksi itu mempercepat laju mobilnya menuju rumah Aurora.

Tidak selang beberapa lama, taksi yang di tumpangi Samudra berhenti tepat di rumah Aurora. Seperti jarak mereka sampai tidak terlalu lama buktinya Samudra masih bisa melihat punggung Aurora yang hendak masuk pekarangan rumahnya.

Aurora membeku saat sebuah pelukan hangat memeluk dari belakang, aroma tubuh itu menyeruak masuk ke hidung Aurora. Tanpa dilihat pun Aurora tahu betul siapa pemilik parfum bau persik ini bau parfum yang sama persis dengan parfum miliknya.

Jantung Aurora berdetak cepat beriringan dengan deru nafas milik Samudra. Tidak ada yang bergerak entah keduanya tengah memproses apa yang terjadi atau terlalu larut menikmati momen itu.

Sampai akhirnya Samudra berkata pelan "Gua sayang sama lo Rara"

"Please, jangan tinggalin gua"

"Jangan nangis lagi Ra" Ujar Samudra.

"Samudra" Panggil Aurora hendak melihat ke arah Samudra.

"Sebentar ra, biarin seperti ini sebentar" Balas Samudra memeluk erat Aurora, melupakan berisik isi kepalanya.

***

Aurora menuruni satu persatu anak tangga itu, sambil mengedarkan pandangannya mencari seseorang.

"Samudra" Panggil Aurora melangkah menuju ruang tamu, tempat terakhir dia meninggal Samudra untuk Menganti pakaiannya.

Tidak ada jawaban, sampai akhirnya suara dari dapur membuat Aurora melangkah mendekat.

Benar saja saat masuk ke dapur Aurora di sambut oleh Samudra yang tengah berkutat dengan masakan tidak lupa sebuah apron menggantung di lehernya.

"Samudra" Panggil Aurora sambil mendekat.

Samudra melihat ke arah Aurora"Bentar dikit lagi selesai" Ujar Samudra memindahkan nasi goreng buatan ke piring.

"Lo ngapain?"

"Taraa nasi goreng ala Samudra jadi" Ujarnya memperlihatkan sepiring nasi goreng itu.

"Kangen banget makan nasi goreng buatan lo" Balas Aurora semangat merebut sepiring nasi goreng itu.

"Yaudah tolong bawa kesana dulu, gua ambil minum" Ujar Samudra.

"Ay ay kapten" Ujar Aurora melenggang pergi dengan nasi goreng di tangannya.

Tidak lama, Samudra dengan segelas susu putih di tangannya duduk di meja di hadapannya Aurora yang sudah sibuk memakan nasi goreng buatannya itu.

"Enak?" Tanya Samudra terus memperhatikan Aurora sambil sesekali memakan nasi goreng miliknya.

Aurora mengangguk

Sampai akhirnya pandangan Samudra menangkap mata sembab Aurora, sepertinya selama perjalanan pulang gadis itu benar-benar menangis.

Ujung SamudraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang