PART 4

4.1K 310 21
                                        

PART 4.

                     🌱 🌱 🌱 🌱 🌱 🌱 🌱

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

                     🌱 🌱 🌱 🌱 🌱 🌱 🌱

Bugh!

Dugh!

Bugh!

Dugh!

Rakha tidak henti-hentinya memukul keras samsak yang saat ini bergelantung didepannya. Tubuhnya kini dibanjiri keringatnya sendiri. Samsak yang tidak bersalah itu menjadi pelampiasan amarah seorang Rakha. Ucapan Mala sedari tadi, terus saja terngiang dikepalanya. Membuat amarah Rakha tidak terkontrol lagi.

"Nih, gue bawain minuman soda buat, lo." ucap Afan. Atensi Rakha tiba-tiba teralihkan. Mata dan tatapan yang sedari tadi fokus pada samsak. Kini, kepalanya menoleh kebelakang. Bisa dilihat, disana, sudah ada Afan yang duduk dengan santai diatas sofa yang tersedia didalam ruang olahraga yang ada didalam markas.

Rakha melepas sarung tinjunya dan membuangnya ke sembarang arah. Lalu, ia berjalan menghampiri Afan. Ia duduk dengan tangan yang meraih minuman soda yang tergeletak diatas meja. Sebelum menegak habis minuman soda itu, ia terlebih dulu membuka minuman itu. Setelah kaleng soda itu kosong ia melempar kaleng itu ketempat sampah.

"Ada masalah apa lo?" tanya Afan, ia melirik Rakha sejenak. Setelah itu, ia meraih bungkus rokok yang tergeletak diatas meja dan mengambil satu batang rokok itu.

Krekkk...

Afan menyalakan korek api yang ada di genggamannya dan menyulutkannya pada batang rokok itu.

"Gak biasanya lo kayak gini." ucap Afan lalu menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara.

"Gapapa..." jawab Rakha ia juga sama halnya dengan Afan, merokok.

"Jangan bohong sama gue. Gue udah faham sama lo. Kita sama-sama bukan baru satu bulan atau dua bulan. Gue sama lo udah dari dalam perut." ujar Afan.

"Apa ini karena Mala?"

"Jangan sok tau." elak Rakha. Ia menyedot batang rokoknya kuat-kuat dan menghembuskan asapnya ke udara dengan kasar.

"Mulut lo bisa ngelak. Tapi, gue tahu. Tatapan mata lo gak bisa bohong." ucap Afan.

"Jaga berlian lo baik-baik, Men. Berlian itu banyak yang ngincer. Jangan sampai berlian yang ada ditangan lo sekarang, diambil orang. Berlian lo, bisa kapan saja diambil orang. Sebelum diambil orang, jaga dia baik-baik. Ingat kata-kata gue." sebelum Afan beranjak dari sana, ia menepuk-nepuk pelan bahu Rakha. Ini ciri khas seorang Afan kalau bersama Rakha.

Entah kenapa ucapan Afan barusan mampu membuat relung hati Rakha yang paling dalam memanas. Apakah dia memang sudah benar-benar mencintai dan menyayangi Mala.

"Ahhh... Shit!"

______

"Jangan lupa ini juga dicuci!" Melisa melemparkan beberapa tumpuk baju kotor tepat didepan wajah Mala. Mala yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun menatap Melisa sendu. Tangannya mengusap peluh keringat yang bercucuran didahinya. "Mala capek, Ma. Mala juga, laper." sudah ada dua bak cucian yang tadi sudah Mala cuci dan sekarang apalagi ini. Cucian kotor lagi.

HURT [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang