PART 44

4K 255 65
                                        

Hai...
Hai...

Apa kabar?

Absen yuk...

Masih ada yang masih setia nungguin cerita aku?


Masih ada yang masih setia nungguin cerita aku?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Hai...
Hai...

Apa masih ada yang nungguin cerita aku...
Maaf, ya, akhir-akhir ini udah jarang up lagi...
Sebelum lanjut membaca aku mau lebih dulu nyapa kalian...
Absen yuk...
Kalian gimana kabarnya?










"Mari ikuti saya keruangan, untuk mengambilan stempel darah." ucap Dokter itu lalu berdiri dari kursi kebanggaannya dan berjalan lebih dulu memasuki ruang dimana darah mereka berdua harus diambil. Sedangkan Rakha dan Afan yang tadi ikut mengantar mereka kini tengah duduk menunggu dikursi tunggu yang tidak jauh dari ruang tersebut.

Saat proses pengambilan dari sudah selesai. Akhirnya Nisa dan juga Mala kini sudah keluar dari ruang itu.

"Gimana ma, udah?" tanya Afan. Rakha dan Afan kini berjalan menghampiri Nisa dan Mala yang baru saja keluar dari ruang pengambilan darah bersama satu dokter dan dua orang suster yang kini sudah pergi dengan membawa stempel darah mereka.

"Alhamdulillah udah." jawab Nisa dengan tersenyum manis.

"Jadi kapan hasilnya keluar dok?" tanya Rakha.

"Kalian bisa kembali kesini dalam kurun waktu kurang lebih satu minggu agar hasil tes DNAnya bisa akurat." jawab Dokter wanita itu.

"Oke, dok. Terimakasih.." ucap Rakha.

"Kalau gitu saya permisi dulu. Masih ada pasien yang mau saya tangani. Permisi..." ucap Dokter itu lalu melangkah pergi.

"Terimakasih dok." ucap Nisa.

"Semoga aja nanti hasilnya cocok, ya, ma." ucap Afan. Entah kenapa ia sangat bersyukur kalau nanti hasilnya keluar dan ternyata Mala adalah adiku kandungnya. Ia merasa seperti baru saja mendapatkan hadiah sepesial dalam hidupnya.

"Semoga, ya, Nak." ucap Nisa sembari mengusap sayang kepala Afan.

"Yaudah, kalau gitu. Kita pulang sekarang." ucap Rakha.

"Ayo, sayang." ucap Rakha sembari mengandeng tangan Mala. Mala pu hanya menurut dan mengikuti langkah kecil Rakha.

"Dasar bucin." desis Afan. "Awas aja kalau Mala beneran adik gue. Gue gak kan biarin dia deket-deket sama Mala." gerutu Afan. Ia kini berjalan mengekori langkah Rakha.

"Hussttt gak boleh kayak gitu." tegur Nisa.

"Ck, habisnya, ma. Dimana-mana bucin terus perasaan." ucap Rakha.

"Biarin, kan mereka pasangan. Jangan-jangan kamu iri, ya, sama Rakha. Soalnya kamu jomblo." ledek Nisa, kini ia terkekeh kecil.

"Mana ada Afan iri, ma. Gini-gini Afan udah punya pacar, ya." ujar Afan.

HURT [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang