PART 31
___________
Dug!
Dug!
Dug!
Rakha sedari tadi mendribel bola basket dan sesekali memasukan bola basket itu kedalam ring. Namun lagi-lagi bola itu melesat dan tidak bisa masuk kering itu. Lalu sekali lagi, ia mendribel bola basket itu. Seketika bayangan-bayangan bersama Mala sewaktu kecil pun seakan berputar difikirannya bagaikan kaset rusak.
"Akha, lumah pohonnya bagus, ya." ucap Mala sembari menengadahkan kepalanya keatas, ia melihat rumah pohon yang kini menjulang tinggi di depannya.
"Iya, dong. Papa sama Mama yang bikin. Kata Mama sama Papa, nanti kalau kita besar, biar kita sering main kesini." ujar Rakha. Ia juga menatap rumah pohon itu dengan senyum yang melebar dibibirnya.
"Oh, ya, Akha. Itu yang Akha pegang bulet-bulet itu apa?" tanya Mala sembari menunjuk bola basket yang ada dipelukan Rakha.
"Ini maksud Lala?" tanya Rakha sembari memperlihatkan bola basket itu.
"Iya," jawab Mala dengan menganggukan kepalanya lucu.
"Ini namanya bola basket, Lala. Kemarin papa ngajarin cara mainnya." jawab Rakha.
"Emang , gimana cala mainnya Akha?" tanya Mala dengan megerjap lucu.
"Lihatin Akha, ya, Lala. Biar Akha tunjukkin cara mainnya." pungkas Rakha, lalu ia mendribel bola basket itu, sesekali bola basket itu lepas dari tangan Rakha. "Kata papa, dipantul-pantulin kayak gini dulu, Lala. Setelah itu, dilempar kesana." ucap Rakha sembari melempar bola basket itu kedalam ring namun lemparan itu tidak sampai pada ringnya.
"Yaaaa... Bolanya gak masuk." desah kecewa Rakha.
"Itu, yang berdiri tinggi namanya apa, Akha?" tunjuk Mala pada ring basket itu.
"Kata papa, itu namanya ring basket. Kalau mau main basket. Kita harus bisa masukkin bola basketnya kedalam sana." jawab Rakha sambil menunjuk ring basket itu.
"Akha, nanti kalau kita udah besal. Lalal pengen main itu cama Akha. Lala juga pengen Akha main itu untuk Lala," ucap Lala.
"Lala tenang aja." Rakha mengusap puncak kepala Mala, "Kalau nanti kita besar, apapun yang Lala mau, kalau Akha bisa lakuin. Pasti Akha bakal lakuin itu untuk Lala." ujar Rakha.
"Janji," ucap Mala sembari mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji." ucap Rakha sembari menutkan jari kelingking mereka.
Dug...
Dug...
Dug...
Bola basket itupun terpantul keras diatas ubin lapangan basket. Tatkala Rakha melempar bola basket itu dengan keras hingga bola basket itu masuk kedalam ringnya dan jatuh memantul diatas ubin lapangan.
"Rakha." suara panggilan itu mengalihkan atensi Rakha. Membuatnya menoleh kebelakang. "Kamu hebat!" puji Chelsea dengan menepuk keras kedua tangannya. Ia menatap Rakha kagum. Ia tidak salah sudah menaruh hati pada pria yang ada didepannya saat ini. Selain tampan, ia juga kriterianya, yaitu jago main basket.
"Biasa aja." jawab Rakha tanpa minat. Chelsea yang mendengar jawaban Rakha menghela nafas kecewa. Ini bukan diri Rakha yang ia kenal. Dan Chelsea juga merasa bahwa akhir-akhir ini ada yang beda dari sikap Rakha. Rakha akhir-akhir ini kelihatannya cuek, dan acuh padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT [END]
Teen Fiction⚠️Warning⚠️ - Banyak adegan kekerasan dan kata-kata kasar. Mohon bijaklah dalam membaca- Basmalah Ilona Gralind, biasanya akrab disapa dengan sebutan Mala. Dia adalah anak yang diadopsi oleh keluarga Pradipta. Mereka mengadopsi Mala tujuan awalnya h...
![HURT [END]](https://img.wattpad.com/cover/345035257-64-k748806.jpg)