PART 12

3.7K 248 13
                                        

PART 12.




PART 12

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







____________

Mala berjalan tergesa-gesa menyelusuri koridor sekolah, ia baru saja keluar dari kantin untuk membeli satu botol air mineral dingin.

"Rakha pasti haus." gumam Mala. "Gue harus cepet-cepet sampai lapangan, kasihan Rakha." lirihnya.

Saat langkahnya hampir saja sampai lapangan. Tiba-tiba langkahnya memelan dan pada akhirnya Mala memutuskan untuk menghentikan  langkahnya."Bukannya itu cewek yang di video kemarin, ya?" tanya Mala pada dirinya sendiri.

"Jadi bener, Rakha memiliki hubungan sama cewek lain dibelakang gue." lirihnya, ia menatap botol air mineral yang ada digenggamannya itu dengan nanar.

"Kasihan, ya, perasaannya kemarin udah gak dihargai. Eh, sekarang makin gak dihargai lagi." ujar Gizele yang saat ini tengah berdiri dibelakang Mala sembari bersedekap dada dan tidak lupa dengan senyum mengejeknya.

"Gizele," cicit Mala sembari ia membalikan badannya.

"Mala, Mala. Seharusnya, lo tuh sadar diri. Lo tuh gak di harepin sama Rakha." ucap Evelyn.

"Kalau gue jadi lo, ya, gue gak bakal lagi deket-deket sama Rakha, apalagi ngejar-ngejar dia. Lo tuh pacar yang gak di anggap, duh kasihan, ya, jadi lo." sungut Adel.

Mala yang mendengar setiap kata-kata yang keluar dari ketiga cewek itupun tanpa sadar meremas botol yang ia bawa. Jujur hatinya saat ini begitu merasa panas. Terkadang apa yang diucapkan ketiga cewek itu ada benernya juga. Selama ini memang dia tidak dianggap keberadaannya oleh Rakha.

"Kalau lo gak mau lagi ngerasain sakit hati, mending lo minta putus aja sama Rakha." ucap Evelyn.

"Kasihan juga, ya, idup lo. Semuanya gak ada yang berpihak sama lo." ejek Gizele. "Cabut guys." titah Gizele lalu ia melangkah pergi terlebih dahulu.

"Cantik, cantik tapi disia-siain." ejek Evelyn lagi lalu ia melangkah pergi menyusul langkah Gizele.

"Gue kalau jadi lo pasti nyesek banget sih." tawa remeh Adel lalu ia ikut melangkah pergi menyusul kedua temannya.

Mala menatap kepergian ketiga cewek itu nanar. Tangannya kini mulai terangkat, memegang dadanya yang terasa nyeri. "Kenapa sakit." ia meremas dadanya yang seperti dihantam batu besar, sakit. Lalu pandangannya kembali terarah menatap ke lapangan sana. Dapat Mala lihat, Rakha tertawa lepas bersama cewek itu, entah siapa, Mala pun tidak mengenalnya.

"Kayaknya kamu lebih bahagia sama cewek itu, Rakh." lirih Mala sembari menundukan kepalanya. "Dari pada sama aku." sambungnya.

Kepalanya kini mulai ia angkat kembali, "Nanti bakal ada masanya aku ngelepas kamu, Rakh. Biar kamu bisa bahagia sama dia." kini senyum semu itu terpaksa mengembang dibibirnya. Setelah itu, ia pun pergi dari sana dan mengurungkan niatnya.

HURT [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang