BAB 28

138 8 0
                                        

Sejak kapan Citra jadi merasa tertarik dengan orang lain selain Candra?

Sejak kecil, dunia Citra adalah Candra. Ia tak pernah melirik laki-laki lain selain Candra. Baginya semua laki-laki itu sama saja, kecuali Candra yang menurutnya memiliki hal yang sangat spesial hingga membuat Citra tertarik untuk menjadi bagian dari dunianya.

Namun sekarang, Gustiar yang ekspresif membuat Citra merasa tertarik. Hari ini ia lebih banyak tertawa daripada diam, ia bernyanyi dan mengobrol bersama anak-anak disekelilingnya. Benar-benar tidak terlihat seperti Gustiar yang Citra kenal.

Selama ini, Citra selalu melihat Gustiar dengan pandangan yang buruk, tak pernah satu kalipun ia memikirkan bahwa Gustiar juga bisa berbuat baik apalagi menyenangkan hati orang lain. Apa yang dilihatnya sekarang membuat pandangan itu berubah secepat perasaannya yang mulai berubah terhadap Gustiar.

"Baru pertama kali ya lihat Gustiar ketawa bareng anak-anak kayak gini?" tiba-tiba Vano menghampirinya dan berdiri tepat di sebelahnya.

"Iya," Citra pun tidak menyangkal fakta itu.

"Kalau lo mau tahu lebih banyak tentang Gustiar, hatinya lebih baik dari apa yang selama ini dia tunjukkan dari luar. Kita gak bisa menggiring opini orang lain, bukan? Begitupun dengan gosip tentang Gustiar. Mau sekeras apapun gue berusaha buat kasih tahu ke orang lain kalau gosip tentang Gustiar itu nggak bener, bakal percuma kalau aja Gustiarnya nggak mau menunjukkan kebaikannya di depan orang lain," cerita Vano.

"Tapi buat apa Gustiar memberikan kesan baik hanya untuk mengembalikan citra dia yang udah buruk di mata masyarakat? Bagi Gustiar, keluarganya jauh lebih penting dari apapun di dunia ini." Lanjut Vano yang membuat hati Citra terenyuh mendengar pernyataan itu.

Bertepatan dengan pembicaraan mereka, acara pembagian kue pun dilakukan. Seorang anak yang belum bisa Citra bedakan antara Lily atau Lia menghampiri tempatnya berdiri bersama dengan Vano dan menyerahkan piring yang berisi kue tersebut kepada Citra. Citra pun berlutut untuk menyamakan tinggi di antara mereka.

"Ini kue buat Kakak. Makasih Kak, kuenya enak," katanya dengan suara yang membuat gemas siapapun yang mendengarnya.

Vano pun ikut berlutut di sebelahnya. "Buat Kak Vano mana? Lily kok gak bawain buat Kakak?"

"Oh iiyaa," jawab Lily sambil menepuk dahinya dengan lucu. Citra bahkan sampai tertawa pelan karena gemas dengan tingkah anak kecil tersebut.

"Tunggu sebental ya, Kak!" Lily berlari menghampiri Gustiar untuk meminta kue lagi buat Vano.

Pemandangan itu tak lepas dari pandangan Citra, begitu meneduhkan, begitu nyaman dan begitu damai—Gustiar memiliki kasih sayang seperti seorang Ayah.

Seketika, ingatan Citra menariknya untuk kembali mengingat masa lalu; ketika Citra berulang tahun di umurnya yang ke lima tahun. Ayahnya pun membuatkan pesta untuknya dengan meriah. Citra yang teramat senang saat itu membagikan kue buatan Ibunya kepada teman-teman yang diundang olehnya ke rumah.

Melihat Gustiar, ia jadi teringat kepada Ayahnya. Tatapan dan senyuman Gustiar sama seperti Ayahnya pada saat Citra meminta sepotong kue untuk diberikan kepada temannya yang belum kebagian.

"Lo bisa bedain yang mana Lia dan yang mana Lily. Itu artinya lo udah kenal lama dong sama Gustiar. Gue boleh tahu gak, lo ada hubungan apa sama Gustiar?"

"Kenapa gak lo tanya langsung aja sama orangnya?"

"Dia gak mau jawab,"

"Lo mau tahu gak kenapa dia gak pernah mau jawab setiap pertanyaan dari lo?"

Citra menggeleng lemah. Ia tatap Vano yang sedang tersenyum tipis ke arahnya.

"Karena dia belum bisa seratus persen percaya sama lo. Bagi dia, lo itu cuma orang asing yang tiba-tiba ngajak taruhan untuk mengklaim dia sebagai pacar lo. Kalau lo mau tahu, lo itu cuma dianggap 'tanggung jawabnya' Gustiar doang karena udah kalah dari lo. Gustiar itu bukan orang yang suka mengingkari janjinya."

Pick Your LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang