Setelah semalaman memikirkan Citra, waktu pagi terasa lebih indah daripada biasanya. Ketika Gustiar membuka mata, nama pertama yang muncul adalah Citra. Ia senang karena hari ini ia akan bertemu kembali dengan Citra di sekolah. Gustiar jadi penasaran, kali ini keseruan apa yang akan Citra tawarkan untuk membuat harinya semakin indah?
"Cieee ... Kak Tiar ganteng banget," sapa Selin pertama kali saat melihat Gustiar turun dari tangga.
"Setiap hari Kakak emang selalu ganteng kali, Dek!" jawab Gustiar dengan kekehan.
"Finally my brother is back."
Selin berlari memeluk Gustiar dengan pekikan kegirangan.
"Aku kangen Kakak yang punya kepercayaan diri setinggi langit, kangen di jailin Kak Tiar, kangen dibuat nangis sama Kak Tiar, tapi kalau ada orang lain yang gangguin aku, Kak Tiar selalu ada di depan aku buat belain aku. Kangen sifat Kakak yang sebelum Mama meninggal. Dan akhirnya sekarang Kakak udah balik lagi kayak dulu ... yeayyy!" Selin melepas pelukannya. "Aku tahu, sifat Kakak gak bakalan berubah."
Di mata Gustiar, Selin tampak lucu jika sedang bahagia seperti ini. Ia bersyukur memiliki adik seperti Selin yang tidak akan pernah ia sia-siakan kehadirannya.
"Makasih ya, hari ini kamu ke sekolah Kakak yang antar."
"Yess," pekik Selin kegirangan.
Tak lama kemudian, Vano datang bersama dengan anak-anak lain yang sudah siap dengan seragam sekolah mereka.
"Woah, tumben kalian akur."
"Ishh ... Kayak kita suka berantem aja,"
"Loh emang bener, 'kan? Biasanya setelah Kak Tiar berangkat sekolah, kamu pasti bakal marah-marah, bilang Kak Tiar cuek lah, terus—"
"Iiihh ... Kak Vano mulutnya ember nih,"
Pecah sudah tawa Gustiar hari ini saat melihat tingkah Vano dan Selin. Pagi ini, di rumah yang biasanya terasa dingin itu kembali menghangat. Mungkin sudah saatnya, badai berlalu dan digantikan dengan pelangi.
🦋•••🦋
Gustiar tiba di sekolah sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Vano dan Gustiar tidak pernah terlihat bersama jika di sekolah. Mereka selalu memilih untuk datang ke sekolah secara terpisah dan menggunakan kendaraan sendiri-sendiri. Tapi berbeda dengan hari ini; di mana mereka terlihat datang bersama menggunakan mobil yang biasa Gustiar gunakan.
Tentu saja hal itu menarik perhatian beberapa siswa.
Sang nomor satu di sekolah datang bersama dengan sang problematik sekolah.
Benar-benar di luar nalar.
Saat semua orang terkejut, berbeda dengan Citra. Ia justru malah terlihat senang dengan kedatangan mereka yang terlihat seperti teman.
Di koridor dekat lapangan, Citra berpapasan dengan mereka yang membuat Citra berjalan menghampiri mereka.
"Nah gitu dong kalian berangkat bareng, kalau gini 'kan kalian jadi kelihatan akrabnya."
"Oh jadi lo yang nyuruh Tiar buat berangkat bareng sama gue?" tanya Vano.
"Emang kenapa? Lo risih yah?"
Vano tertawa. "Duh kalau tahu gitu gue minta lo dari dulu buat bujuk Tiar biar dia mengakui gue sebagai temennya dia waktu di sekolah. Pacar lo nolak mulu tuh kalau gue deket-deket dia di sekolah, mungkin minder kali ya punya temen sepinter gue,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pick Your Love
Genç Kurgu[Cerita ini hanyalah karya fiksi semata baik nama, tempat, penokohan, serta nama organisasi. Di beberapa BAB terdapat kata-kata yang kasar. Mohon bijaklah dalam membaca. Terima kasih!] *** "Jangan pernah dekat-dekat dengan Gustiar, dia itu berbahay...
