"Citra, duduk sini dulu deh!"
Citra berhenti menulis. Sepulang sekolah ia dan Gustiar memutuskan pergi ke kafe untuk belajar. Ia yang awalnya duduk bersebrangan dengan Gustiar pun jadi pindah tempat atas permintaan Gustiar.
"Ada apa?"
"Ada yang mau aku ceritain."
"Soal?"
"Hubungan aku sama Candra. Kayaknya kebencian Candra ke aku ada hubungannya sama keluarganya."
Citra terdiam, menunggu Gustiar untuk bercerita. Ia juga sebenarnya sangat penasaran, kenapa Candra terlihat sangat benci sekali dengan Gustiar.
Setelah Citra mendengar semua cerita Gustiar, reaksinya saat itu adalah sangat marah. Ia marah pada ketidakadilan yang telah diberikan keluarga Candra pada Gustiar dan adik-adiknya, membuat Citra tanpa sadar jadi sangat membenci keluarga Candra, dan menyesal pernah menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Saat aku ke rumah Candra malam itu untuk mengajak Mama Tania untuk pulang ke rumah, aku baru tahu kalau Ayahku ternyata dimanipulasi sama Om Regan sehingga membuat Ayah jadi punya banyak hutang. Setelah itu, Ayah berubah jadi kasar. Aku selalu ingat kalimat ejekan yang Om Regan katakan ke aku waktu itu, jadi saat aku punya kesempatan untuk menghancurkan Om Regan di meja judi, aku nggak main-main. Aku hampir menguras setengah kekayaannya. Mungkin karena itu Candra jadi nggak suka sama aku."
"Candra tahu masalah kalian?"
Gustiar menggeleng. "Kayaknya nggak sampai sejauh itu. Mungkin dia hanya tahu aku hampir buat Ayahnya bangkrut."
"Aku nggak tahu kalau masalahnya bisa sampai sepelik ini. Kalau dari awal aku tahu aku cuma dijadikan pion untuk menghancurkan kamu, aku nggak akan pernah lakuin tindakan sekonyol itu."
Tangan Gustiar terangkat untuk mengelus pelan puncak kepala Citra. "Tindakan kamu yang menyetujui kesepakatan itu sudah benar, kalau bukan karena kamu menerima syarat dari Candra, mungkin kita masih jadi orang asing sampai sekarang."
"Tapi—"
"Aku bersyukur kenal kamu Citra. Jadi berhenti nyalahin diri kamu sendiri karena sudah menyetujui syarat dari Candra. Pada akhirnya kamu jatuh juga 'kan sama pesona aku."
Citra tertawa pelan. " Yee malah kepedean. Oh ya, kalau soal Vano gimana? Sebenarnya aku penasaran soal dia. Vano itu siapanya kamu?"
"Dia sahabat aku. Aku ketemu sama dia waktu dia hampir melakukan bunuh diri. Dia stres di rumah karena tekanan dari orang tuanya. Dan sekarang dia diusir dari rumah karena melaporkan kejahatan keluarganya sendiri. Makanya sekarang tinggal di rumah aku, dan bantu aku jagain anak-anak yang lain."
"Oalah, aku paham sekarang. Pantesan dia protektif banget sama kamu. Tapi kenapa kalian di sekolah seperti orang yang nggak saling mengenal?"
"Aku yang memintanya untuk jauh dari aku. Aku nggak mau membuat namanya jadi jelek. Kamu tahu sendiri di sekolah reputasi aku kayak gimana."
"Iya juga sih kamu bener, reputasi Vano jadi ketua osis dan murid berprestasi emang bagus banget di sekolah."
Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba ponsel Gustiar berbunyi. Citra juga ikut mendengarkan di sebelah Gustiar sambil meminum minuman yang ia pesan.
"Yar, lu sempat ke sekolah si kembar nggak?" tanya Vano, dari seberang telepon.
"Nggak tuh emang kenapa?"
"Si kembar nggak ada di sekolahnya pas gue jemput. Kata satpam dia dijemput sama kerabat lo. Lo nyuruh siapa, Yar?"
Dapat Citra rasakan tubuh Gustiar mematung sesaat. "Lo jangan bercanda Van, coba lo cari di sekitar sekolah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pick Your Love
Teen Fiction[Cerita ini hanyalah karya fiksi semata baik nama, tempat, penokohan, serta nama organisasi. Di beberapa BAB terdapat kata-kata yang kasar. Mohon bijaklah dalam membaca. Terima kasih!] *** "Jangan pernah dekat-dekat dengan Gustiar, dia itu berbahay...
