Hari ini Citra datang ke sekolah dengan hati yang lega. Ia sudah berbaikan dengan Gustiar dan tidak ada yang lebih melegakan dari bisa mendapatkan maaf dari Gustiar.
Rencananya ia akan bertemu dengan Gustiar saat jam istirahat nanti, yang tentu saja membuat jantung Citra terus berdebar cepat sepanjang pelajaran.
Gimana pikiran orang-orang nanti?
Sempat terbesit dipikiran Citra untuk tidak jadi menemui Gustiar, ia takut akan dijadikan bahan gosip baru yang tentu saja Citra merasa tidak ingin kembali menjadi pusat perhatian.
Apalagi mendapati dirinya ke kantin sendirian. Tidak ada makanan yang menarik perhatian Citra. Di tengah kerumunan orang-orang yang sedang mengantri membeli makan, Citra mencari keberadaan Gustiar.
Hal tak terduga pun terjadi, Gustiar saat ini sedang duduk bersama Firly. Mereka tampak sedang mengobrol sesuatu yang serius. Rasa sakit itu masih ada ketika ia melihat Gustiar bersama dengan wanita lain. Meskipun hubungan mereka sudah membaik, dan sudah diresmikan haruskah Citra ke sana dan menunjukkan rasa cemburunya?
Sebelum Citra berbalik pergi, tanpa sengaja maniknya bertatapan dengan Gustiar. Ia kaget dan langsung buru-buru mengalihkan pandangannya kemudian berjalan cepat meninggalkan kantin.
Aduh, malu-maluin banget! Pikir Citra.
"Tunggu, Citra!"
Suara yang memanggilnya itu membuat Citra jadi berhenti melangkah. Ia melihat ke belakang di mana sudah ada Gustiar yang mengejarnya.
"Mau ke mana?"
"Ke kelas."
"Bukannya kamu bilang mau ketemu aku saat jam istirahat, kenapa nggak jadi?"
"Aku pikir kamu mungkin lagi sibuk sama Firly,"
Gustiar tersenyum, membuat Citra jadi merasa bingung.
"Ikut aku!" Citra menurut dan berjalan di belakang Gustiar sampai mereka tiba di meja kantin yang semula di tempati oleh Gustiar dan Firly. Masih di tempat yang sama, Firly duduk sambil meminum es tehnya.
Melihat kedatangan Citra, Firly justru tersenyum dan menyapanya.
"Hai Citra! Kita jarang ngobrol ya meskipun kita berada di satu ekskul yang sama. Tapi hari ini aku mau ngobrol sama kamu, boleh?"
Citra mengangguk dan ikut duduk di sebelah Firly.
"Oke, pertama aku mau minta maaf dulu sama kamu. Aku sama Gustiar itu nggak punya hubungan apa-apa meskipun akhir-akhir ini kita dekat." Citra mengangguk, menerima permintaan maaf dari Firly.
"Aku nggak mau kamu salah paham lagi dan hubungan kalian jadi rusak gara-gara aku. Jadi aku mau kamu tahu, Gustiar udah menyelamatkan nyawa aku."
Meskipun bingung, Citra tetap diam saja mendengarkan semua penjelasan Firly. "Aku rasa bukan rahasia umum lagi kalau aku berpacaran sama Adnan. Sebenarnya itu karena aku terpaksa. Adnan memeras aku, hanya karena orang tua aku punya hutang miliaran dengan keluarganya. Itu sebabnya aku terikat hubungan sama dia dan sulit lepas.
"Aku minta maaf juga sama kamu Citra. Di ekskul kita, Adnan yang memegang kuasa meskipun dia bukan ketuanya. Alasan kenapa selalu aku yang jadi pemeran utama dengan Adnan itu semua atas suruh Adnan. Makanya nggak pernah diadakan casting setiap kali akan diadakan pertunjukkan drama. Aku juga sebenarnya nggak pernah mau jadi pemeran utama karena aku tahu aku akting aku nggak begitu bagus. Tapi aku terpaksa.
"Di hari Gustiar membela kamu mati-matian karena merasa aku sama Adnan nggak pandai akting, Adnan sangat tersinggung dan marah. Dia meminta Ayahnya untuk memberi pelajaran ke Gustiar. Adnan itu orang tuanya kaya banget, tapi sayangnya bokapnya sakit jiwa, sama seperti anaknya. Mereka bakal ngelakuin apa aja untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Adnan tidak pernah suka jika ada yang menyinggungnya meskipun wajahnya terlihat biasa saja. Ayahnya Adnan bertaruh dengan Gustiar hingga rugi banyak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pick Your Love
Teen Fiction[Cerita ini hanyalah karya fiksi semata baik nama, tempat, penokohan, serta nama organisasi. Di beberapa BAB terdapat kata-kata yang kasar. Mohon bijaklah dalam membaca. Terima kasih!] *** "Jangan pernah dekat-dekat dengan Gustiar, dia itu berbahay...
