BAB 40

141 10 2
                                        

"Vano."

"Lo ngapain di sini?" Vano bertanya dengan raut wajah yang terlihat marah. Garis rahangnya terlihat jelas, juga matanya yang menatap Citra dengan sinis.

"Harusnya lo nggak muncullin muka munafik lo ini di depan gue,"

Dahi Citra mengkerut. Ia bingung dengan perubahan sikap Vano terhadapnya.

"Gustiar mana?" Citra mencari-cari ke dalam mobil, mencari keberadaan Gustiar. Ia tidak memperdulikan apapun, semua bisa ia tanyakan nanti. Tapi yang terpenting sekarang adalah Gustiar.

"Dia di mana?" Lagi. Citra bertanya saat tak menemukan Gustiar di dalam mobil dan Vano pun tidak menjawab.

"Belum puas lo mempermainkan Gustiar, hah?"

"Mempermainkan?"

Bughh ...

Citra kaget saat Vano memukulkan tangannya sendiri pada kaca mobil di depannya.

"Berhenti masang wajah polos gak tahu apa-apa, sialan. Jijik gue lihatnya. Udah mending sekarang lo pulang dan jangan tunjukkin muka lo lagi di depan gue maupun Tiar. Kita semua udah pada muak sama lo."

Vano hendak memasuki mobilnya, tapi dihalangi oleh Citra.

"Vano, please! Kasih tahu gue sebenernya ada apa sih? Gue gak paham. Gue salah apa?"

"Hah? Gak salah denger gue? Setelah apa yang udah lo lakuin ke Tiar lo masih bisa nanya lo salah apa? PUNYA OTAK GAK SIH LO?"

Teriakan Vano itu membuat satpam penjaga komplek itu menghampiri mereka. Takut-takut terjadi kekacauan yang membahayakan pekerjaannya.

"Ada apa ya? Tolong jangan buat keributan!"

"Gak ada apa-apa, Pak. Mending Bapak usir cewek ini. Kalau dia keukeuh tetap di sini, usir aja dia. Kalau perlu panggil polisi sekalian. Dia udah buat kekacauan."

"Nggak, gue nggak mau pergi! Vano sekali aja jelasin ke gue sebenernya ada apa? Kenapa Tiar menjauh dari gue. Kenapa gue sama sekali gak bisa ketemu sama dia? Dan—dan kenapa lo marah ke gue. Gue butuh penjelasan sekarang!"

"Seret dia pergi, Pak!"

Tangan Citra telah ditarik oleh satpam tersebut, tapi Citra langsung menepisnya. Dengan rasa frustasinya, ia sedikit berteriak ke arah Vano agar Vano mau mendengarkannya.

"Lo nggak bisa usir gue gitu aja, Van! Gue butuh Tiar sekarang! Gue cuma mau ketemu sama dia. Sebenarnya ada apa sih ini? KENAPA NGGAK ADA SATUPUN ORANG YANG MAU JELASIN KE GUE APA YANG SEDANG TERJADI SEKARANG?"

Dadanya kembang-kempis menahan amarah. Ia kesal, karena tidak ada yang mau menjelaskan apa salahnya.

"Lo mau jelasin ke gue atau kasih tahu di mana Gustiar sekarang. Nanti gue sendiri yang menuntut penjelasan dari dia."

Vano menggeram. Urat-urat di wajahnya pun terlihat. Tapi itu tidak membuat nyali Citra menjadi padam.

"Lo mau tahu yang sebenarnya, hah?" Citra tanpa sadar mengangguk. "Kayaknya lo lupa. Hahaha emang wajar sih, cewek kayak lo pasti nggak bakal ngerasa bersalah karena udah menipu orang lain, makanya lo bisa dengan begitu mudahnya lupa sama apa yang udah lo lakuin ke Tiar. Dasar gak punya malu."

Dahi Citra mengkerut, semakin bingung.

"Lo udah mempermainkan ketulusannya Tiar. Lo manfaatin dia supaya lo bisa jadi pacarnya Candra. Lo bener-bener keterlaluan, Cit. Gue gak nyangka lo bisa melakukan hal serendah ini. Lo udah mempermainkan perasaan orang lain. Lo buat Tiar jatuh cinta ke lo, lalu setelahnya lo tinggalin dia dan menjalin hubungan dengan Candra. Siapa yang tahu, apa aja yang udah lo laporin ke Candra tentang Gustiar? Munafik lo. Penipu. Pembohong. Lo benar-benar gak punya hati. Kalau lo cowok, gue nggak bakal menahan diri gue lagi untuk buat lo masuk ke rumah sakit."

Pick Your LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang