Dua hari libur sekolah, membuat Citra jadi bisa menenangkan dirinya. Ia menyesal karena hampir saja melakukan tindakan bodoh. Karena tanpa sengaja mendengarkan Ibunya yang sedang mengaji, membuat Citra jadi sadar dengan perbuatannya selama ini. Ia terus memohon ampunan kepada Allah SWT dan melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kini, Citra jadi bisa merasa lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Ibunya, satu-satunya hal yang bisa membuat kita merasa tenang di tengah banyaknya masalah adalah dengan rajin ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karenanya, Citra jadi merasa siap untuk menghadapi masalahnya di sekolah.
Citra memasuki kelas dengan tenang, bisa dibilang wajahnya kembali cerah. Ia tidak terlihat sedih maupun murung. Bahkan terlihat sangat bersemangat untuk belajar. Sampai-sampai sebelum bel masuk berbunyi, Citra sudah mengeluarkan buku pelajaran kemudian membacanya.
Di samping itu, beberapa orang mulai membicarakan Citra secara terang-terangan. Citra tahu, bahwa seseorang telah menuliskan hal buruk tentangnya di suatu postingan sosial media. Namun meskipun begitu, Citra berusaha untuk tidak terlalu peduli dan berfokus pada tujuannya saat itu; yaitu bisa menjadi lulusan yang terbaik di sekolah ini.
Citra mengabaikan tatapan semua orang yang mengarah padanya, termasuk tatapan dari Clarissa dan Candra saat sedang melewati mejanya. Dan saat bel masuk berbunyi, Citra sudah siap untuk menghadapi materi yang akan diajarkan hari ini.
🦋•••🦋
Sampai tiba waktunya untuk pulang, Citra sama sekali tidak keluar kelas. Ia makan dan minum di dalam kelas, juga tidak pergi ke toilet sama sekali. Ia baru saja keluar kelas pada saat jam pulang sekolah.
Tatapan orang lain kepadanya masihlah sama. Lama-kelamaan Citra merasa risih juga. Ia pun segera mempercepat langkahnya, ingin cepat-cepat pergi dari sekolah ini. Namun saat melewati papan mading, kaki Citra pun berhenti melangkah.
Ia tertegun sesaat ketika melihat banyak poster wajahnya, juga tulisan-tulisan yang ditunjukkan untuk menghina dirinya.
"Siapa yang menulis ini?" gumam Citra tanpa sadar.
Sambil menahan rasa sesak di dadanya, Citra mencopot semua poster-poster wajahnya yang menempel di papan mading. Ada yang diedit, juga ada yang dicoret-coret dengan tulisan 'pencari sensasi', 'haus perhatian', 'pengen terkenal'. Ada lagi; shill girl. Serta tulisan lain yang tidak ingin Citra baca. Poster itu ada banyak, bahkan sampai memenuhi mading.
Di tengah gusarnya Citra mencabut foto-foto dirinya, segerombolan siswa melewatinya sambil tertawa dengan keras. Saat Citra melirik, ternyata mereka adalah orang yang pernah membully Citra dulu saat awal-awal menjadi pacarnya Gustiar.
Stella and the genk.
Padahal sejak kejadian itu, mereka tak pernah lagi memperlihatkan wajah mereka kepadanya. Tapi kenapa sekarang mereka malah mengganggunya?
"Poor, liar girl! Lo suka cari sensasi, 'kan? Tuh udah gue bantuin yaa. Dalam sekejap lo bisa jadi terkenal, hahaha.." ujar Stella, kemudian berlalu dari sana.
Salah satu teman Stella pun ikut berujar. "Kali ini Gustiar ngga nolongin lo. Ternyata benar, kontrak taruhan kalian emang udah habis yaa?"
"Jalin hubungan kok pakai taruhan, nggak berkahlah jadinya. Iya nggak sih?"
Setelah menendang asal poster yang terjatuh, teman-teman Stella pun ikut pergi dari sana, meninggalkan Citra yang sedang menahan kemarahannya.
Gigi Citra bergemeretak tanpa sadar, ia berada dipuncak emosinya. Sangat marah.
Citra membuang asal semua kertas-kertas yang ada dipelukannya, memukul papan mading dengan kencang kemudian berteriak. Ia bahkan tidak peduli jika di sekitarnya masih ada orang lain kemudian memperhatikan dirinya, sebab Citra butuh melepaskan semua emosi negatif yang hampir saja menelan kewarasannya.
"Sialan! Lihat aja bakal gue bales lo Stella!"
Citra beralih memukuli dinding, seakan-akan itu adalah Stella dan teman-temannya.
Meskipun sudah melampiaskan kemarahannya, tapi itu tidak membuat kemarahan Citra mereda. Ia kesal, emosinya semakin meningkat.
Lalu, tiba-tiba ia seperti mendengar suara ayahnya. Ia pikir itu adalah ayahnya, tapi ternyata suara itu berasal dari ingatan masa lalunya. Citra ingat, ayahnya pernah memberikan nasihat ketika ia sedang marah.
"Ingat Citra, kalau kita sedang marah, jangan dilampiaskan. Itu hanya akan membuat hati kamu semakin terbakar. Menangislah. Karena dengan air mata, semua emosi negatif yang ada di dalam diri kamu akan keluar. Kemudian, berwudhulah."
Dan seketika itu pula, Citra menangis dalam diam. Ia pun jadi merindukan ayahnya.
Bawa Citra ke surga aja, Ayah. Citra merasa nggak sanggup. Kenapa jatuh cinta selalu membuat Citra menderita?
Butuh waktu sepuluh menit bagi Citra untuk menenangkan dirinya kembali. Ia membereskan kembali kertas-kertas yang berserakan untuk ia buang ke tempat sampah.
Lalu tangan lain tiba-tiba juga ikut mengambil kertas-kertas tersebut bersama dengan dirinya. Citra berharap—sungguh!—bahwa orang yang membantunya adalah Gustiar. Tapi hatinya menyangkal, tidak mungkin Gustiar masih ada di sekolah.
"Gue bantuin," benar saja dugaannya. Yang menolongnya adalah teman sekelasnya, Damar.
"Sorry, tadi waktu poster-poster ini dipasang di mading, Stella sama teman-temannya jaga di depan mading. Jadi nggak ada satupun orang yang berani buat ambil posternya."
"Don't say sorry! Bukan salah lo juga," kata Citra serak.
Damar tersenyum tipis. Ia juga ikut membantu Citra mencopot poster lain yang masih menempel di mading. Ia kasihan kepada Citra atas masalah yang sedang menimpanya saat ini. Padahal mereka sudah mau lulus sekolah, tapi Citra justru malah mendapatkan pembullian seperti ini.
"Buang di tempat sampah depan sekolah aja!" lagi, Citra berbicara dengan suara yang pelan, namun masih dapat didengar oleh Damar.
"Oke,"
Saat mereka berdua ingin berjalan, mata Citra terpaku pada sosok Gustiar yang tiba-tiba lewat di depannya.
Sedikitpun tidak melirik ke arahnya.
"Lo putus sama Gustiar dengan cara yang nggak baik, ya?" tanya Damar.
"Hah?"
"Itu, postingan yang menulis tentang lo. Katanya lo putus sama Gustiar karena udah habis kontrak sama dia."
Citra diam saja, tidak mau memberikan keterangan apapun.
"Lo cinta beneran sama Gustiar, ya?" tanya Damar menyelidik.
Perlahan, kepala Citra pun mengangguk.
"Oh geez, gue saranin mending lo buang jauh-jauh deh perasaan lo buat Gustiar. Dia bahkan udah lirik cewek lain loh. Tadi aja gue sempet lihat, dia itu sebenarnya lihat lo waktu ngambil poster-poster ini, tapi dia sama sekali nggak tergerak buat bantuin lo tuh. Apalagi namanya coba selain dia udah nggak peduli lagi sama lo."
Citra menoleh ke arah perginya Gustiar. Hanya dia saja yang tahu betapa tulusnya Gustiar mencintainya. Hanya saja, Citra telah mengecewakan kepercayaannya. Telah mempermainkan perasaannya yang tulus.
Sekarang baik apapun yang sedang terjadi kepada Citra, Gustiar tidak akan pernah peduli lagi. Sebab, ada orang yang memang memiliki sifat ketika sudah dikecewakan, mau orang itu masuk jurang sekalipun, mereka tidak akan pernah peduli lagi.
Dan Gustiar adalah salah satu orang yang memiliki sifat itu.[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Pick Your Love
Ficção Adolescente[Cerita ini hanyalah karya fiksi semata baik nama, tempat, penokohan, serta nama organisasi. Di beberapa BAB terdapat kata-kata yang kasar. Mohon bijaklah dalam membaca. Terima kasih!] *** "Jangan pernah dekat-dekat dengan Gustiar, dia itu berbahay...
