"Waktu lo cerita lo dijauhin sama Dira dan Yuli, gue pikir hanya sebentar doang. Tapi sampe sekarang, mereka benar-benar jauhin lo ya," Clarissa menyampaikan keresahannya saat menemani Citra membuang sampah. Hari ini, Clarissa sebenarnya yang kebagian piket kelas saat pulang sekolah, tapi karena Clarissa orang yang sangat jijik memegang tempat sampah, jadilah Citra yang membawakannya untuk Clarissa.
"Ya gitu deh," jawab Citra seadanya. Clarissa yang mendengar jawaban tersebut jadi turut prihatin dengan keadaan Citra. Sebesar itukah ia mencintai Candra, bahkan Citra terlihat sanggup jika harus dijauhi oleh semua orang kecuali Candra.
Sampai sekarang, Citra masih belum tahu bahwa ia sudah mengetahui semuanya berkat cerita dari Candra. Saat mendengarnya, tentu saja Clarissa merasa terkejut sebab ia juga berencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada Candra setelah pulang dari Australia. Tapi Clarissa menyembunyikan keterkejutannya tersebut karena ia tidak ingin siapa pun jadi curiga dengan perasaannya. Melihat kegigihan Citra untuk bisa menjadi pacar Candra membuat Clarissa mundur secara perlahan, sebab ia masih menganggap Citra sebagai teman yang harus dihargai perasaannya.
"Yaudah, lo tenang aja. Kan masih ada gue, the only person who will always be by your side."
"Haha... bisa aja lo," jawab Citra.
Mereka berjalan kembali lagi ke kelas setelah Citra selesai mencuci tangannya usai membuang sampah. Kedua tas mereka sama-sama masih berada di dalam kelas.
"Citra lo udah buat catatannya belum? Hari senin depan 'kan kita udah UTS."
"Oh iya, belum. Coba sini bukunya, nanti gue yang catat."
"Huaa... thank you. Muaachh... muach... you're really my best friend," kata Clarissa sembari memeluk Citra dengan erat.
"Aduh lo berlebihan deh," Citra memalingkan wajah tapi tak ayal, wajah malunya tetap saja terlihat oleh Clarissa.
"Oh ya, nanti malam kita jadi belajar bareng 'kan di rumah Candra?"
"Gue usahain yaa."
"Yah kok gitu sih? Biasanya jawaban lo meyakinkan."
"Soalnya habis ini gue mau pergi sama Tiar, kayaknya pulangnya bakal malam deh. Nanti kalau gue belum dateng, kalian berdua belajar bareng aja."
"Yeah gak asik kalau gak ada lo. Lagian si Gustiar itu mau ngajak lo ke mana sih?"
"Dia mau—"
"Citra," tepat ketika Citra ingin memberitahukan ke mana mereka ingin pergi, Gustiar sudah tiba di depan pintu kelasnya.
"Oh gue udah dijemput. Yaudah gue duluan ya, Ris."
"Oke, hati-hati!" Citra melambaikan tangan sembari merangkul tasnya dipundak. Saat Citra sudah berada di hadapan Gustiar, mereka berbicara sebentar lalu berakhir dengan Gustiar yang langsung mengenggam tangan Citra, seperti pasangan kekasih pada umumnya.
"Terkadang gue masih belum percaya kalau pilihan Gustiar jatuh ke Citra. Dia bener-bener kelihatan sayang banget sama Citra," gumam Clarissa seorang diri ketika Citra dan Gustiar sudah tak lagi terlihat dalam pandangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pick Your Love
Fiksi Remaja[Cerita ini hanyalah karya fiksi semata baik nama, tempat, penokohan, serta nama organisasi. Di beberapa BAB terdapat kata-kata yang kasar. Mohon bijaklah dalam membaca. Terima kasih!] *** "Jangan pernah dekat-dekat dengan Gustiar, dia itu berbahay...
